Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Potensi Tankos dan Sabut Sawit untuk Industri Kertas di Kalimantan Barat: Mengubah Limbah Menjadi Devisa

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 29 April 2025 | 08:02 WIB

 

PEKERJA SAWIT: Pekerja saat memindahkan tandan buah segar kelapa sawit ke kendaraan pengangkut. DOK-ILUSTRASI
PEKERJA SAWIT: Pekerja saat memindahkan tandan buah segar kelapa sawit ke kendaraan pengangkut. DOK-ILUSTRASI

PONTIANAK POST - Kalimantan Barat memiliki posisi strategis dalam peta perkebunan nasional, menempati urutan ketiga terbesar setelah Riau dan Kalimantan Tengah, dengan luas areal perkebunan kelapa sawit melebihi 1,5 juta hektare.

Seiring dengan tingginya produksi tandan buah segar (TBS), limbah seperti Tandan Kosong Kelapa Sawit (Tankos) dan Sabut Buah Sawit (SBS) juga melimpah. Namun hingga kini, pemanfaatan limbah tersebut masih terbatas, umumnya hanya sebagai pupuk kompos atau bahan matras sederhana.

Padahal, sebagaimana dikemukakan oleh pakar kimia Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Thamrin Usman, DEA, limbah Tankos dan SBS berpotensi besar diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti kertas selulosa berkualitas, yang sangat dibutuhkan industri modern.

Potensi Besar dan Keunggulan Bahan Baku

Dari setiap ton TBS, sekitar 230 kg Tankos dihasilkan. Artinya, Kalbar menghasilkan jutaan ton limbah potensial setiap tahunnya. Kandungan selulosa pada Tankos dan SBS cukup tinggi, berkisar 40–50%, menjadikannya bahan baku ideal untuk industri pulp dan kertas.

Menurut Prof. Thamrin, teknologi pengolahan yang tersedia saat ini — mulai dari metode kraft hingga pemanfaatan CaO dari limbah claybath — memungkinkan proses ekstraksi selulosa berlangsung lebih efisien dan berbiaya kompetitif.

Baca Juga: Kalimantan Barat Berpotensi Jadi Pusat Biopelumas Sawit Nasional: Solusi Hijau dari Jantung Borneo

Transformasi Limbah Menjadi Produk Strategis

Tankos dan SBS dapat diolah menjadi berbagai jenis kertas spesialisasi: kertas karbon untuk kebutuhan energi, kertas tahan air untuk industri kemasan makanan, hingga bahan pelapis plywood untuk sektor kayu lapis.

"Dengan pendekatan teknologi yang tepat, limbah yang selama ini menjadi persoalan lingkungan justru dapat menjadi komoditas industri strategis," ujar Prof. Thamrin.

Analisis pasar menunjukkan peluang besar. Permintaan global terhadap kertas khusus terus meningkat. Sementara itu, biaya produksi pulp dari Tankos diperkirakan hanya Rp 5–7 juta per ton, jauh lebih rendah dibandingkan harga jual pulp di pasar global yang mencapai Rp 10–15 juta per ton. Untuk produk kertas khusus, nilai jualnya bahkan mencapai Rp 20–30 juta per ton. Dengan skala produksi yang teroptimasi, ROI dapat mencapai 20–25% per tahun.

Pengembangan industri ini juga berimplikasi besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Satu unit industri menengah berkapasitas 50.000 ton per tahun diperkirakan mampu menyerap 500–1.000 tenaga kerja langsung dan 2.000–3.000 tenaga kerja tidak langsung, seperti pengumpul bahan baku dan jasa transportasi.

Selain itu, potensi penerimaan daerah dari pajak industri dan retribusi ekspor diproyeksikan menambah Rp 100–200 miliar per tahun bagi kas daerah Kalbar.

Thamrin menekankan beberapa langkah strategis untuk mewujudkan potensi ini, antara lain:

Investasi awal untuk pabrik skala kecil diperkirakan Rp 200–300 miliar, sementara pabrik skala optimal membutuhkan Rp 1–1,5 triliun.

Dengan ketersediaan bahan baku, kesiapan teknologi, dan dukungan pasar, pengembangan industri kertas berbasis limbah sawit di Kalimantan Barat sangat layak secara teknis, finansial, dan sosial.

"Ini saatnya Kalimantan Barat melangkah menjadi pelopor ekonomi hijau berbasis potensi lokal. Mengubah limbah menjadi peluang emas," tutup Prof. Thamrin.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro