Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Michelin Didorong Gandeng Kalbar Hidupkan Karet Alam, Thamrin Usman Usulkan Model Kolaboratif ala RLU seperti di Kaltim

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 6 Mei 2025 | 11:27 WIB

SAFETY: Para buruh wanita mengenakan masker di pabrik Karet Hok Tong, Pontianak sedang menyortir potongan karet mentah. Perlengkapan safety seperti penutup telinga wajib dikenakan mereka yang bekerja di dekat mesin. (Aristono/Pontianak Post)
SAFETY: Para buruh wanita mengenakan masker di pabrik Karet Hok Tong, Pontianak sedang menyortir potongan karet mentah. Perlengkapan safety seperti penutup telinga wajib dikenakan mereka yang bekerja di dekat mesin. (Aristono/Pontianak Post)

PONTIANAK POST - Kalimantan dinilai menyimpan potensi besar untuk menghidupkan kembali kejayaan karet alam sebagai komoditas ekspor unggulan Indonesia. Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA selaku Guru Besar Kimia Agroindustri Universitas Tanjungpura dan Ketua Dewan Penasehat ICMI Kalbar, mengusulkan penerapan model kemitraan industri-hilir serupa dengan yang dilakukan Michelin melalui PT Royal Lestari Utama (RLU) di Jambi dan Kalimantan Timur.

Dalam sebuah kajian kelayakan strategi, Thamrin menyoroti perlunya paradigma baru untuk memperkuat rantai pasok, menjamin harga jual yang stabil bagi petani, serta mengundang investasi hijau di sektor karet.

“Kalimantan Barat memiliki lahan karet yang melimpah namun belum produktif. Jika kita berintegrasi dengan model kemitraan penggunaan akhir seperti RLU, maka nilai, kemiskinan, dan kesejahteraan petani dapat ditingkatkan secara signifikan,” ujarnya, Selasa (6/5/2025).

RLU, proyek hasil kolaborasi Michelin dan Barito Pacific Group, telah berhasil mengembangkan 23.000 hektar perkebunan karet berkelanjutan, membuka 4.000 lapangan kerja langsung, serta mendongkrak pendapatan 50.000 masyarakat lokal.

Proyek tersebut juga didukung oleh Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF) melalui pendanaan obligasi hijau sebesar US$95 juta. Hal ini menjadi contoh investasi agribisnis dengan imbal hasil sosial dan lingkungan yang tinggi.

Baca Juga: 47 Keping Emas Ilegal Disita Polisi dari Ruko di Pontianak, 4 Orang Jadi Tersangka

Dengan pendekatan agroforestri dan penggunaan bibit unggul seperti PB 260 dan IRR 112, proyek ini menunjukkan bagaimana teknologi, pembiayaan inovatif, dan jaminan pasar jangka panjang dari pemain global seperti Michelin dapat menciptakan ekosistem agribisnis yang tangguh.

Thamrin menekankan, Kalimantan Barat siap menarik investasi serupa. “Kita punya lahan terdegradasi yang dapat direhabilitasi, pemerintah daerah yang proaktif, dan peluang integrasi dengan agenda bioekonomi dan energi terbarukan,” jelasnya.

Ia juga memberikan insentif fiskal, kemudahan perizinan, pembentukan koperasi petani, dan pembangunan bank benih daerah sebagai langkah awal yang strategis.

Investasi Michelin di Indonesia sendiri telah mencapai €1 miliar sejak 2015, menunjukkan komitmen kuat perusahaan terhadap pasar domestik dan kerinduan rantai pasoknya.

“Dengan pendekatan yang tepat, Kalimantan Barat bisa menjadi kisah sukses berikutnya dalam investasi perkebunan berkelanjutan berbasis karet alam,” kata Thamrin.

Bagi investor global yang mencari peluang di sektor agribisnis rendah karbon dengan dampak sosial tinggi, Kalimantan Barat kini hadir sebagai wilayah yang patut diperhitungkan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#michelin #barito pacific #karet #industri #thamrin usman #kalimanta barat