Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Harga Emas Masih Bersinar, Analis Nilai Penurunan Tak Akan Curam

Hanif PP • Senin, 2 Februari 2026 | 09:20 WIB

 

Ilustrasi Tabungan Emas Pegadaian.
Ilustrasi Tabungan Emas Pegadaian.

PONTIANAK POST - Karena yang berulah negara adidaya, pengaruhnya pun menjulur ke semua sudut buana. Indonesia merasakannya dalam hal harga emas yang ngegas.

Inda Rahmawati, baru saja membeli emas bulan lalu. Namun, selisih harganya kini sudah mencapai 300 ribu per gram. "Padahal, waktu itu niatnya menggantikan emas yang sempat saya jual karena untung Rp 50 ribu dalam satu hari," jelasnya dikutip dari Jawa Pos.

Sementara itu, Sri Handi Lestari sudah investasi emas sejak 2011 ketika harga emas masih sekitar Rp 250 ribu per gram. Kebetulan dia ditawari untuk mengikuti arisan emas. Waktu itu, ada enam peserta sehingga dalam enam bulan semua bisa mendapatkan emas 5 gram. Sejak saat itu dia terus mengumpulkan aset emas.

Ketika ditanya apakah akan membeli emas dalam waktu dekat, Ari, sapaan akrabnya, justru sedikit ragu. Dia takut bahwa harga saat ini semu dan turun ke level yang sebenarnya.

"Sudah ditawari oleh marketingnya. Tapi, baik DP (uang muka) dan cicilannya lumayan tinggi," ujarnya.

Semua Terkait AS

Pakar Investasi Universitas Surabaya (Ubaya) Putu Anom Mahadwartha menjelaskan bahwa aksi Amerika Serikat di Venezuela maupun Greenland membuat investor resah. "Belum lagi, konflik terkait dengan Yaman dan Iran. Dua hal itu menjadi isu pendorong kenaikan harga emas," katanya.

Soal anjloknya IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), Anom merasa bahwa fenomena tersebut tak terlalu berkaitan dengan emas. Menurutnya, isu saham yang drop itu hanya karena kepanikan pasar akibat wacana MSCI memasukkan IHSG ke kategori frontier.

Banyak pemerintah, lanjutnya, yang masih mempertebal cadangan emas. Misalnya, Tiongkok. "Mereka sedang bersiap jika konflik dengan Taiwan pecah," paparnya.

Dia menegaskan bahwa kondisi krisis dan ketidakpastian pasti selalu mendorong pembelian emas sebagai safe haven. Namun, euforia bisa melambat. Menurutnya, harga Rp 3 juta per gram bisa turun ke level Rp 2 juta.

Hanya, dia mengatakan bahwa penurunan tidak akan terjadi curam. Dalam semester pertama, dia memperkirakan bahwa harga mungkin berkutat di kisaran Rp 3 juta.

Mulai Terbatas

Senada dengan Putu, ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menyebut bahwa kenaikan harga emas global telah memasuki fase jenuh beli (overbought). Meski demikian, permintaan kuat dari bank sentral di berbagai negara masih menjadi faktor penahan agar harga logam mulia tetap berada di level tinggi.

Secara teknikal, lanjut Yanuar, ruang kenaikan harga emas mulai terbatas. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta memicu pembalikan arah harga karena bank sentral masih agresif melakukan pembelian. "Ini sudah sampai ke level jenuh overbought, tapi bank sentral juga beli terus," kata Yanuar kemarin (30/1).

Untuk 2026, Yanuar memperkirakan harga emas akan bergerak fluktuatif di kisaran USD 4.700-5.500 per troy ounce. Bahkan, jika harga mampu bertahan di rentang USD 5.000-5.700, peluang menembus level USD 6.000 masih terbuka. Meski demikian, dia mengingatkan potensi koreksi tajam jika terjadi krisis global di pasar surat utang pemerintah.

Langkah Iman itu juga diikuti Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi. Dalam pernyataannya, Mahendra menyatakan pengunduran dirinya dan Inarno merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan. (bil/mim/ttg)

Editor : Hanif
#harga emas #tinggi #bank sentral #penurunan #ketidakpastian global