Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Blokade Hormuz Memanas, IMF Peringatkan Ancaman Resesi Globa

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 15 April 2026 | 22:06 WIB
PATROLI HORMUZ: Ilustrasi tentara Iran berpatroli di kawasan Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan syarat jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka bagi lalu lintas kapal internasional. (FOXBUSINESS)
PATROLI HORMUZ: Ilustrasi tentara Iran berpatroli di kawasan Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan syarat jalur pelayaran strategis tersebut kembali dibuka bagi lalu lintas kapal internasional. (FOXBUSINESS)

 

PONTIANAK POST - Ketegangan militer di Selat Hormuz makin memanas setelah Amerika Serikat memblokade sejumlah pelabuhan Iran, memicu kekhawatiran dunia terhadap gangguan pasokan energi dan ancaman resesi global.

Situasi tersebut membuat lalu lintas kapal tanker minyak di jalur energi paling vital dunia itu terganggu.

Sebagian kapal tetap nekat melintas, sementara yang lain memilih berbalik arah di tengah tekanan militer yang meningkat.

Data pelacakan maritim yang dilansir Middle East Monitor menunjukkan kapal tanker Elpis sempat melintasi Selat Hormuz dengan membawa muatan minyak.

Kapal yang telah dikenai sanksi Amerika Serikat itu berangkat dari Teluk Oman, mencapai Laut Arab, lalu memperlambat kecepatan sebelum akhirnya berhenti.

Sebaliknya, kapal tanker Rich Starry dilaporkan berbalik arah tak lama setelah melewati selat tersebut.

Manuver itu diduga berkaitan dengan kehadiran armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Laut Arab.

“Blokade AS tampaknya masih berlaku,” ujar penasihat EOS Marine Martin Kelly, seperti dikutip Seatrade Maritime.

Data Pole Star Global juga mencatat Rich Starry sempat mencantumkan tujuan Tiongkok dalam sistem pelacakan.

Namun kapal tersebut memiliki rekam jejak memalsukan data Automatic Identification System (AIS).

Selain Rich Starry, sedikitnya empat kapal tanker lain juga dilaporkan memutar balik perjalanan mereka.

Meski demikian, satu supertanker jenis VLCC Alicia berhasil melintas Selat Hormuz dan kini berada di Teluk Arab setelah berangkat dari Malaysia.

Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengklaim operasi blokade berjalan efektif.

Dalam 24 jam pertama operasi, tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade dan enam kapal dagang memilih mematuhi arahan militer untuk berbalik.

Blokade yang dimulai pada 13 April itu melibatkan lebih dari 10 ribu personel militer.

Operasi tersebut juga didukung belasan kapal perang serta puluhan pesawat tempur.

Seluruh kapal yang keluar masuk pelabuhan Iran menjadi sasaran pemeriksaan tanpa memandang bendera negara.

Di sisi lain, Iran memperketat pengawasan di kawasan Selat Hormuz.

Juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya menegaskan kapal tanker yang berafiliasi dengan musuh tidak akan diizinkan melintas.

Sejak akhir Februari lalu, Teheran juga telah membatasi lalu lintas kapal dan hanya mengizinkan kapal tertentu melintas di kawasan tersebut.

Bahkan, kapal tanker besar dilaporkan dikenakan tarif hingga USD 2 juta untuk dapat melintasi selat itu.

Meski tekanan militer meningkat, ekspor minyak Iran belum sepenuhnya terhenti.

Data lembaga pemantau United Against Nuclear Iran (UANI) mencatat ekspor minyak Iran pada Maret mencapai sekitar 1,15 juta barel per hari dengan nilai sekitar USD 3,63 miliar.

Sebagian besar ekspor tersebut dikirim ke Tiongkok.

Namun lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun drastis akibat ketegangan yang terus meningkat.

Padahal, jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi energi terpenting bagi perekonomian global.

Rusia Dorong Dialog

Upaya meredakan ketegangan terus dilakukan oleh sejumlah negara.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mendorong dialog lanjutan dan meminta Amerika Serikat menahan diri dari eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Saya berharap Amerika bersikap realistis dan menahan diri dari melanjutkan agresi di Timur Tengah,” ujarnya.

Sementara itu Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak memperpanjang gencatan senjata yang sebelumnya sempat dibahas.

Meski demikian, Trump masih membuka peluang tercapainya kesepakatan baru.

“Saya pikir Anda akan menyaksikan dua hari yang luar biasa ke depan,” katanya.

Di tengah ketegangan tersebut, dampak ekonomi global mulai terasa.

International Monetary Fund (IMF) memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di pasar energi dapat menyeret ekonomi dunia ke ambang resesi.

Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun hingga 2 persen dari posisi saat ini yang berada di kisaran 3,1 persen.

Harga minyak juga diprediksi melonjak hingga USD 110 per barel pada 2026 dan bahkan mencapai USD 125 per barel pada 2027.

Sementara dalam skenario moderat, harga minyak diperkirakan bertahan di sekitar USD 100 per barel tahun ini sebelum turun ke USD 75 per barel pada 2027.

Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi global tetap diproyeksikan tertekan di kisaran 2,5 persen.

Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menegaskan bahwa ketidakpastian akhir konflik membuat risiko skenario terburuk semakin besar.

Ia memperingatkan bahwa negara berkembang berpotensi menanggung dampak paling berat.

Bahkan, dampaknya diperkirakan hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan negara maju. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#blokade AS Iran #IMF resesi global #selat hormuz #konflik timur tengah #harga minyak dunia