PONTIANAK POST - Di era persaingan terbuka, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak cukup hanya bertahan. Mereka perlu competitive aggressiveness (agresivitas bersaing) dan risk taking (keberanian mengambil risiko terukur) agar mampu tumbuh.
Dijelaskan Prof. Dr. Rizky Fauzan, S.E., M.M.,Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, hal tersebut semakin penting ketika pasar bergerak ke arah produk berkualitas, digital, cepat, dan ramah lingkungan.
"Bagi Indonesia, termasuk Kalimantan Barat (Kalbar), UMKM adalah tulang punggung ekonomi. Kementerian Koperasi dan UKM itu mencatat UMKM menyumbang sekitar 61% PDB nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Karena itu, daya saing UMKM bukan lagi isu mikro, tetapi sudah isu strategis nasional," papar Rizky Fauzan.
Baca Juga: Harga Plastik Naik Tekan UMKM Pontianak, Pedagang Keluhkan Untung Makin Menipis
Dia lantas mengatakan yang dimaksud dengan competitive aggressiveness adalah kecenderungan perusahaan untuk secara aktif, tegas, dan cepat merespons pesaing demi memenangkan pasar jika merujuk dalam teori Entrepreneurial Orientation (Lumpkin & Dess, 1996).
Kemudian, bagaimana UMKM dapat meningkatkan daya saingnya, yang dikatakan Rizky bukan lagi sekadar “menyerang pesaing” tetapi,"Cepat membaca pasar, berani berebut pelanggan, agresif inovasi, memperkuat merek, sampai pada, responsif terhadap tren"
Untuk UMKM dapat meningkatkan daya saing, dia mengatakan perlu melakukan diferensiasi produk. Jangan menjual barang generik dan harus ada pembeda.
Dia mengambil contoh di Kalimantan Barat, yaitu kopi liberika lokal dengan branding premium, tenun Sambas modern dan lidah buaya Pontianak olahan modern
Dia menyebut pula soal kecepatan layanan, karena konsumen sekarang menghargai kecepatan respons. Didukung pula dengan digitalisasi pemasaran melalui Marketplace, TikTok Shop, Instagram, WA Business.
Baca Juga: Harga Bahan Pokok Naik Bikin UMKM Pontianak Panik dan Terancam Kurangi Keuntungan
UMKM dapat meningkatkan daya saing, menurutnya dengan menetapkan harga berbasis nilai, bukan selalu murah, tetapi sepadan. Ditambah dengan kolaborasi, dimana UMKM dapat bergabung dalam klaster.
"Banyak UMKM kalah bukan karena produknya jelek, tetapi karena terlalu pasif dan menunggu pelanggan datang," katanya.
Sementara itu, risk taking disebutnya penting dalam usaha berbasis keberlanjutan karena perubahan pasar selalu mengandung ketidakpastian. Masuk ke bisnis ramah lingkungan sering membutuhkan, investasi kemasan baru, bahan baku baru, mesin hemat energi, sertifikasi halal/organik, masuk pasar baru. Semua itu, ditegaskannya, mengandung risiko.
Baca Juga: Jamkrida Kalbar Evaluasi Kinerja dan Siapkan Ekspansi Perkuat Penjaminan Kredit UMKM
"Risk taking yang sehat itu, adalah yang berbasis data, bertahap, terukur serta ada mitigasinya. Contoh di Indonesia, seperti banyak UMKM makanan yang beralih ke kemasan eco-friendly awalnya biaya naik, tetapi kemudian mendapat pelanggan premium dan masuk retail modern," jelasnya.
Menurut Rizky, UMKM yang takut risiko cenderung stagnan. Namun risiko sembrono tanpa riset juga berbahaya. Dia menilai , inovasi dan potensi unik meningkatkan keberhasilan bisnis. Inovasi menciptakan ruang pasar baru, yang dikatakannya,"Jika hanya meniru pesaing, UMKM masuk perang harga."
Dia menyebut potensi unik dimiliki Indonesia khususnya Kalbar, mulai dari rempah lokal, madu hutan, anyaman rotan, tenun Sambas, aloe vera Pontianak, kopi lokal hingga olahan ikan sungai/pesisir
Dia mencontohkan Kalimantan Barat melalui Aloe Vera Pontianak.
Baca Juga: Pemprov Kalbar Percepat Kredit UMKM, Bank Diminta Saingi Rentenir Dengan Cepat
Pontianak dikenal dengan lidah buaya. Produk berkembang dari bahan mentah menjadi minuman, dessert, skincare, souvenir yang mempunyai nilai tambah yang meningkat.
Begitu pula tenun Sambas, yang menurutnya jika dikembangkan ke fashion modern, maka pasar akan lebih luas.
"Potensi lokal sering dijual mentah. Yang menghasilkan laba besar adalah inovasi produk dan branding," kritisnya
Menurut dia, meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk ramah lingkungan menjadi peluang bagi UMKM. Dia menyebut,"Konsumen berubah. IBM (2023) melaporkan hampir separuh konsumen global mempertimbangkan sustainability saat membeli," ungkapnya.
Dikatakannya, peluang bagi UMKM ada di segmentasi premium, dimana konsumen rela bayar lebih untuk produk etis dan hijau. Disamping itu, loyalitas pelanggan, dimana merek yang punya nilai sosial lebih mudah dipercaya.
Tambahan lagi, peluang bagi UMKM adalah masuk retail modern dan ekspor. Disebut Rizky, banyak buyer mencari supplier berkelanjutan. Contoh di Indonesia, diantaranya sedotan bambu, tas daur ulang, sabun natural maupun kopi fair trade.
"Kesadaran konsumen tumbuh, tetapi mereka tetap sensitif pada harga dan kualitas. Jadi “hijau saja” tidak cukup," katanya.
Dia mengatakan produk ramah lingkungan berbahan alami jadi keunggulan Indonesia, karena Indonesia kaya bahan alami, semisal kelapa, bambu, rotan, pandan, rempah, kopi, kakao, serat pisang, kayu legal atau tanaman herbal.
Disebutkannya pula, keunggulan kompetitif yang dimiliki diantaranya bahan baku lokal tersedia, bisa menekan biaya impor. Kemudian cerita produk kuat, dimana produk dengan narasi budaya dan alam lebih mudah dipasarkan.
Demikian juga keunggulan kompetitif dari tren global natural product meningkat, berupa kosmetik herbal, makanan organik, home decor natural, contohnya rotan Kalbar, madu hutan Kapuas Hulu, kerajinan kayu lokal serta produk herbal tropis.
Dia mengingatkan,"Keunggulan bahan alami akan hilang bila kualitas tidak konsisten."
Aspek yang perlu dikembangkan agar produk hijau UMKM mampu bersaing, menurut Rizky, mulai dari mutu, untuk standar rasa, ukuran, daya tahan, keamanan. Kemudian desain yang modern, fungsional, menarik. Begitu juga kemasan, perlu rapi, informatif, higienis, eco-friendly.
Untuk harga, dikatakannya perlu efisien dan masuk akal. Termasuk branding yang menyoal cerita produk, asal daerah dan manfaat. Hal penting lainnya sertifikasi, baik itu sertifikasi halal, PIRT, BPOM atau organik jika relevan.
Contohnya madu hutan tanpa label kalah dengan madu berlabel premium meski kualitas sama.
"Masalah UMKM bukan selalu produk inti, tetapi presentasi produk," nilainya.
Produk Ramah Lingkungan adalah Peluang Bukan Hambatan
Prof. Rizky meyakini tuntutan produk ramah lingkungan adalah peluang, bukan hambatan. Karena tuntutan pasar disebut dia adalah sinyal permintaan baru. Pelaku usaha yang cepat beradaptasi, sebut dia, akan menikmati, "First mover advantage, margin lebih baik, loyalitas konsumen, akses ekspor, kemitraan perusahaan besar."
Analogi Rizky, saat pembayaran digital dulu dianggap repot. Kini jadi kebutuhan. Begitu juga sustainability. Contoh di Indonesia, ujar dia, banyak UMKM kopi yang beralih ke paper cup ramah lingkungan, storytelling petani, dan traceability. Hasilnya naik kelas ke kafe premium.
Sedangkan contoh Kalbar, UMKM kerajinan rotan jika diposisikan sebagai sustainable handmade furniture dapat masuk pasar nasional dan ekspor.
"Yang melihat tuntutan sebagai beban akan tertinggal. Yang melihatnya sebagai peluang akan tumbuh," katanya.
Rizky menyimpulkan bahwa UMKM Indonesia dan Kalbar membutuhkan Competitive Aggressiveness karena cepat bergerak, aktif merebut pasar, berani berbeda.
Membutuhkan juga Risk Taking Terukur, sebab mencoba inovasi baru, masuk pasar baru dan investasi teknologi.
UMKM Indonesia dan Kalbar dikatakan dia, juga membutuhkan Sustainability Orientation, yaitu produk ramah lingkungan, efisiensi sumber daya, branding modern.
"Di era persaingan ketat, UMKM tidak cukup hanya “baik”. Mereka harus lebih cepat, lebih unik, dan lebih relevan," yakinnya. (*)
Editor : Basilius Andreas Gas