Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pasar Kapuas Indah Memiliki Potensi Besar karena Lokasinya Strategis, Bila Dikelola Modern

Basilius Andreas Gas • Selasa, 28 April 2026 | 14:05 WIB
Kapuas Indah berpotensi menjadi ikon ekonomi rakyat baru di Kalimantan Barat.  (HARYADI/PONTIANAK POST)
Kapuas Indah berpotensi menjadi ikon ekonomi rakyat baru di Kalimantan Barat.  (HARYADI/PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST - Faktor penentu keberhasilan revitalisasi bukan hanya pembangunan fisik, tetapi kualitas SDM pengelola pasar, menurut Prof. Rizky Fauzan.

Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura itu mengatakan bahwa banyak proyek revitalisasi pasar di Indonesia gagal karena bangunan baru tidak diikuti tata kelola modern, manajemen profesional, dan kemampuan membaca kebutuhan pedagang serta konsumen. 

Dalam konteks Kota Pontianak, kata Rizky Fauzan, jika pengelola pasar hanya berfungsi administratif dengan menarik retribusi, menjaga kebersihan, dan menata kios, maka transformasi pasar menjadi ruang kreatif akan sulit berhasil. Namun bila SDM pengelola memiliki kompetensi manajemen modern, kemampuan kolaborasi, pemasaran, digitalisasi, dan pengembangan UMKM, maka Pasar Cempaka dan Kapuas Indah berpotensi menjadi ikon ekonomi rakyat baru di Kalimantan Barat. 

Baca Juga: Pelatihan Kewirausahaan Dorong UMKM Pontianak Tembus Ritel Modern

Rizky Fauzan memaparkan bahwa peran kualitas SDM pengelola pasar sangat krusial dan menentukan. Dia mengatakan, revitalisasi pasar pada dasarnya terdiri dari dua komponen, Hardware dan Software. 

Komponen hardware disebut dia berupa bangunan, fasilitas, parkir, sanitasi dan desain. Komponen software mencakup SDM pengelola, sistem operasional, promosi, pelayanan, digitalisasi.

"Di banyak daerah, hardware dibangun bagus tetapi software lemah sehingga pasar kembali sepi," katanya.

Dia mengatakan bahwa pengelola pasar yang berkualitas mampu untuk menata zonasi pedagang dengan baik. Selain itu, menjaga kebersihan dan keamanan yang kemudian mengelola event agar pasar ramai.

Rizky juga mengatakan, pengelola pasar yang berkualitas, bisa menarik komunitas kreatif dan anak muda, membantu pedagang naik kelas hingga menghubungkan pasar dengan wisata kota.

Contoh sukses, disebut Rizky, Pasar Santa Jakarta sempat mati, lalu hidup kembali karena pengelolaan kreatif, tenant kurasi, event komunitas. Ada pula Pasar Gede Solo, kuat karena integrasi budaya, wisata, kuliner, dan manajemen aktif. Selain itu, sebutnya, Beringharjo Yogyakarta yang bertahan karena tata kelola tradisi ditambah pariwisata.

Baca Juga: UMKM Dinilai Butuh Competitive Aggressiveness dalam Risk Taking di Tengah Persaingan yang Ketat

"Artinya, untuk Pontianak, SDM pengelola pasar harus menjadi “market curator”, bukan sekadar petugas lapangan," jelasnya.

Rizky Fauzan juga menjelaskan pengaruh kompetensi manajerial pengelola pasar terhadap daya saing UMKM. Menurut dia, pengaruhnya sangat besar dan langsung. UMKM di pasar tradisional sering kalah bersaing bukan karena produknya buruk, tetapi karena ekosistem pasar tidak mendukung.

"Kompetensi manajerial pengelola melihat dua hal yaitu kompetensi pengelola dan dampak ke UMKM," katanya.

Untuk kompetensi pengelola dalam penataan kios, dampak ke UMKM menurut dia, adanya lalu lintas pembeli yang meningkat. Pada manajemen kebersihan, berdampak membuat konsumen nyaman. Kompetensi pengelola untuk sistem promosi, berdampak pada omzet naik.

Kemudian kompetensi pengelola untuk mengadakan event rutin, dampak ke UMKM membuat traffic pengunjung meningkat. Diikuti, digitalisasi pembayaran yang memiliki dampak, konsumen modern tertarik. Kompetensi pengelola perlu pula pada pelatihan UMKM yang diharapkan dampak pada produk naik kelas.

"Jika pengelola lemah, UMKM stagnan. Jika profesional, UMKM tumbuh," jelasnya.

Pasar Kapuas Indah Memiliki Potensi Besar 

Di Pontianak, kata Rizky, Pasar Kapuas Indah memiliki potensi besar karena lokasinya strategis. Bila dikelola modern, bisa menjadi pusat fashion lokal, kerajinan Melayu-Dayak-Tionghoa, kuliner khas, dan wisata belanja.

Dia pun menyoal keterampilan utama pengelola pasar di era ekonomi kreatif dan digital. Menurut dia, pengelola pasar saat ini harus memiliki kompetensi utama, mulai dari manajemen operasional, baik itu mengenai kebersihan, keamanan, parkir, tenant mix dan maintenance gedung.

Kompetensi lain terkait digital marketing, kata Rizky, mulai dari pemanfaatan instagram/TikTok pasar, promosi event dan branding pasar.

Kompetensi dalam community engagement juga diperlukan, kata dia, dengan menggandeng komunitas kopi, seni, UMKM muda, musisi lokal. Disebut juga kompetensi soal data analytics untuk membaca jam ramai, jenis tenant favorit serta perilaku konsumen

Baca Juga: Harga Plastik Naik Tekan UMKM Pontianak, Pedagang Keluhkan Untung Makin Menipis

Public Service Leadership, menurut dia ,merupakan keterampilan selanjutnya yang diperlukan pengelola pasar dalam melayani pedagang, bukan memerintah. Ditambah dengan kompetensi business development, untuk mencari sponsor atau kerjasama bank hingga kurasi tenant baru.

Rizky menyatakan pengaruh SDM pengelola yang baik menciptakan UMKM survive dan grow. Dampak nyata bisa didapat untuk jangka pendek adalah omzet naik, pembeli ramai dan biaya transaksi turun. Untuk dampak jangka menengah, mulai dari produk yang berkembang, kemasan membaik dan pelanggan loyal. Sementara dampak nyata dalam jangka panjang adalah UMKM membuka cabang, menyerap tenaga kerja, menjadi merek lokal kuat.

“Tapi jika pengelola buruk, maka kios kosong, kemungkinan konflik pedagang, pasar yang kumuh atau konsumen pindah ke mall atau marketplace,” katanya.

Pengelola pasar, kata Rizky, perlu memahami pemasaran digital, bahkan sangat wajib. Marketplace seperti Tokopedia, Shopee, TikTok Shop bersaing bukan hanya harga, tetapi convenience dan visibility. Pendapat Rizky,”Maka pengelola pasar harus membantu UMKM offline masuk online.”

Baca Juga: ICDN Kalbar Dorong Peningkatan Kualitas SDM Dayak di Sintang Lewat Riset dan Pendidikan

Bentuk konkret dari hal tersebut, kata dia, berupa akun resmi “Pasar Kapuas Indah Official”, direktori tenant digital, QRIS seluruh kios. Kemudian live shopping produk pasar, promosi harian di TikTok/IG serta Google Maps optimization.

“Contohnya, pasar modern di Bandung dan Jakarta yang aktif media sosial terbukti lebih ramai pengunjung muda. Pontianak harus belajar bahwa pasar masa depan adalah offline experience plus online exposure,” jelas Rizky.

Ekosistem Inovasi UMKM

Dikatakan dia, peran pengelola pasar sangat strategis sebagai orkestrator ekosistem dalam menciptakan ekosistem inovasi UMKM. Mereka harus menghubungkan, pedagang UMKM, bank atau akses modal, kampus, komunitas kreatif, influencer local, pemerintah dan wisatawan.

Sementara itu, dia menyarankan program konkret yang bisa dibuat di Pontianak, misalnya festival UMKM bulanan dan inkubator UMKM pasar. Mengadakan pelatihan packaging dan branding atau kompetisi tenant terbaik, juga bisa digunakan.

"Selain itu, dapat membuat zona kuliner malam, menetapkan co-working space anak muda di pasar lama, atau melaksanakan Market Day produk lokal Kalbar," contohnya.

Mengubah pasar yang sepi atau kumuh jadi lebih layak, menarik, dan produktif secara ekonomi, Rizky merekomendasikan untuk reform SDM pengelola dan rebranding pasar. Dilanjutkan digitalisasi dan eventisasi pasar.

"Reform SDM pengelola itu bisa dimulai dari seleksi profesional, KPI berbasis kinerja, pelatihan manajemen retail modern," sebutnya .

Baca Juga: DPRD Pontianak Kawal Penataan Pasar Kreatif, Libatkan Anak Muda untuk Hidupkan Kembali Pasar Tradisional

Untuk rebranding pasar, dia setuju Pasar Cempaka menjadi creative market youth hub, kemudian Kapuas Indah menjadi heritage & fashion market.

Sementara pilihan untuk digitalisasi, kata Rizky, dengan melakukan QRIS, tenant online directory, media sosial aktif. Sedangkan eventisasi pasar dengan menggelar live music, kuliner festival dan bazar weekend.

"Jika Pasar Cempaka dan Kapuas Indah dikelola dengan mindset entrepreneur, digital, kreatif, dan kolaboratif, maka kedua pasar dapat menjadi pusat pertumbuhan UMKM baru Kota Pontianak dan ikon ekonomi rakyat modern Kalimantan Barat," katanya. (*)

Editor : Basilius Andreas Gas
#SDM #revitalisasi #strategis #pasar #potensi