PONTIANAK POST - Melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi sering menjadi impian banyak keluarga muda.
Namun, di balik semangat meraih gelar S-2 atau S-3, ada sejumlah pertimbangan penting yang tidak bisa diabaikan, mulai dari kesiapan finansial hingga keharmonisan rumah tangga.
Keputusan ini bukan semata soal akademik. Banyak keluarga muda harus menimbang kecukupan dana, pembagian peran dalam rumah tangga, hingga dampaknya terhadap masa depan anak. Karena itu, perencanaan matang menjadi kunci sebelum benar-benar melangkah.
Menurut Guru Besar Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Prof Rahmat Setiawan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan ketersediaan dana.
Baca Juga: Tips Cerdas Membeli Properti Sesuai Kebutuhan dan Kemampuan Finansial
’’Persiapan dana untuk studi dan kebutuhan keluarga selama masa kuliah. Kalau dana sudah cukup, baik dari tabungan, beasiswa, maupun bantuan keluarga, maka kuliah bisa dijalani tanpa mengorbankan keharmonisan rumah tangga,’’ jelasnya, dikutip dari Jawapos.
Dari sisi apa yang perlu disiapkan, biaya menjadi faktor utama. Biaya studi tidak kecil, sehingga perlu dihitung secara detail jauh-jauh hari.
’’Buatlah rincian biaya yang muncul, mulai dari kuliah, buku, transportasi, biaya hidup, sampai dana darurat. Idealnya dipersiapkan 2–3 tahun sebelum studi,’’ kata Rahmat.
Ia juga menyarankan untuk berdiskusi dengan teman atau saudara yang pernah menempuh S-2 atau S-3 guna mendapatkan gambaran nyata biaya yang akan dikeluarkan.
Baca Juga: Tips Mengatur Keuangan untuk Generasi Sandwich, Biar Beban Finansial Lebih Ringan
Kapan waktu terbaik mempersiapkan? Rahmat menekankan bahwa perencanaan finansial sebaiknya dimulai jauh sebelum masa studi dimulai, agar tidak menimbulkan tekanan di tengah perjalanan kuliah.
Bagaimana jika salah satu pasangan harus berhenti bekerja? Kondisi ini tentu berdampak pada pemasukan keluarga. Solusinya, menurut Rahmat, adalah menerapkan gaya hidup hemat, membuat perencanaan keuangan bulanan yang rinci, serta mencari alternatif penghasilan tambahan.
’’Misalnya jual beli online, atau pekerjaan lepas yang tidak mengganggu jadwal kuliah. Jangan lupa tetap menyiapkan dana darurat,’’ tegasnya.
Di mana studi akan ditempuh juga menjadi pertimbangan penting. Pilihan kuliah di luar negeri kini semakin populer, tetapi konsekuensinya tidak ringan. Biaya yang lebih besar dan kebutuhan persiapan yang lebih matang menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga: Expo Pascasarjana Untan 2025 Resmi Dibuka, Pamerkan Riset dan Inovasi Unggulan
’’Biaya kuliah di luar negeri sangat mahal, perlu dipersiapkan lebih matang. Beasiswa penuh bisa jadi solusi, tapi tetap harus ada tabungan khusus,’’ ujarnya.
Mengapa aspek psikologis juga penting? Rahmat mengingatkan bahwa studi di luar negeri berpotensi memunculkan tantangan long distance marriage (LDM).
’’LDM bisa menekan secara mental dan berisiko pada keharmonisan rumah tangga. Karena itu, keputusan kuliah di luar negeri harus dibicarakan serius sejak awal sebagai keputusan bersama,’’ tambahnya.
Dengan perencanaan yang matang, komunikasi yang terbuka, serta kesiapan finansial dan mental, impian melanjutkan studi tetap bisa diraih tanpa mengorbankan stabilitas keluarga. (*)
Editor : Chairunnisya