Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Bank Indonesia Ajak Masyarakat Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Dolar AS

Novantar Ramses Negara • Rabu, 6 Mei 2026 | 15:30 WIB
Bank Indonesia menggelar Capacity Building Opinion Maker Wilayah Kalimantan, Selasa (6/5).  (NOVANTAR RAMSES NEGARA/PONTIANAK POST)
Bank Indonesia menggelar Capacity Building Opinion Maker Wilayah Kalimantan, Selasa (6/5).  (NOVANTAR RAMSES NEGARA/PONTIANAK POST)

PONTIANAK POST – Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Aloysius Donanto mengatakan gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perhatian serius yang perlu dipahami bersama.

“Gejolak nilai tukar rupiah ini tidak cukup hanya dijawab melalui kebijakan Bank Indonesia. Perlu pemahaman bersama, bagaimana masyarakat juga bisa berkontribusi menjaga stabilitas,” ujarnya dalam sambutan Capacity Building Opinion Maker Wilayah Kalimantan, Selasa (6/5).

Ia menjelaskan, masyarakat dapat berperan melalui penggunaan rupiah dalam transaksi, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, serta lebih mengutamakan konsumsi produk domestik.

Baca Juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam

Selain itu, pengelolaan transaksi yang bijak juga menjadi kunci, termasuk memilih instrumen pembayaran yang lebih aman dan efisien tanpa memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar.

Aloysius menambahkan jika BI juga menyoroti derasnya arus informasi yang beredar di masyarakat, yang kerap kali tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi riil.

“Tantangan kita hari ini adalah bagaimana mengelola informasi. Ada informasi yang melampaui realitas. Di sinilah peran media dan akademisi menjadi penting untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat,” katanya.

Menurutnya, komunikasi publik yang baik akan membantu menjembatani perbedaan persepsi dan mendorong terbentuknya kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional.

Baca Juga: Combo Maut: Rupiah Merosot, Minyak Dunia Melonjak

Di sisi lain, BI menilai ekonomi Kalimantan menunjukkan kinerja yang cukup positif, meskipun dihadapkan pada tantangan global. Pertumbuhan ekonomi dan investasi dinilai tetap terjaga, namun perlu diimbangi dengan transformasi struktur ekonomi.

“Kalimantan masih didominasi sektor primer seperti pertanian dan komoditas. Ke depan, kita perlu mendorong hilirisasi agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar,” ujarnya.

Ia menyebut, dengan jumlah penduduk yang relatif kecil, di bawah 20 juta jiwa kontribusi Kalimantan terhadap produk domestik bruto nasional sudah mencapai sekitar 5–6 persen. Hal ini dinilai sebagai potensi besar yang perlu terus dioptimalkan.

Namun demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam meningkatkan produktivitas, menarik investasi, serta memastikan distribusi pembangunan yang merata di seluruh wilayah Kalimantan.

BI juga mengingatkan pentingnya menjaga iklim investasi tetap kondusif melalui narasi publik yang akurat dan berimbang.

“Media dan opinion maker punya peran strategis dalam membangun kepercayaan. Informasi yang disampaikan harus terkalibrasi, jelas, dan tidak menimbulkan persepsi yang keliru,” tegasnya.

Baca Juga: UMKM dan Pariwisata Kalbar Didorong Naik Kelas, BI Targetkan Transaksi Miliaran Rupiah

Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian, mengingat masih banyak generasi muda Kalimantan yang memilih melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

Pada akhirnya, BI menekankan bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan publik.

“Ekonomi itu perpaduan antara data dan kepercayaan. Ketika kepercayaan terganggu, angka yang sebenarnya baik bisa ikut terdampak. Sebaliknya, data yang kuat bisa menjadi dasar membangun kepercayaan,” pungkasnya. (mse)

Editor : Miftahul Khair
#nilai tukar rupiah #dolar as #bank indonesia #rupiah melemah