PONTIANAK POST - Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat mencapai 6,14 persen pada awal 2026.
Angka ini terlihat impresif, namun di baliknya muncul pertanyaan penting: apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas atau masih terpusat di sektor tertentu?
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat, ekonomi daerah tumbuh 6,14 persen (year-on-year) pada triwulan I-2026.
Baca Juga: DJPb Kalbar Sebut Penguatan Daya Beli Warga Penting Jaga Stabilitas Ekonomi Daerah
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) juga mencapai sekitar Rp86,78 triliun, menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi.
Ditopang Kuat oleh Sektor Tambang
Pertumbuhan tinggi ini tidak terjadi merata. Sektor pertambangan dan penggalian menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan paling tinggi dibanding sektor lain.
Aktivitas komoditas seperti bauksit menjadi faktor dominan yang mendorong lonjakan ekonomi.
Namun, ketergantungan pada sektor ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas jangka panjang.
Baca Juga: Harris Turino Soroti DBH Sawit Kalbar Turun 58 Persen di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 6,14 Persen
Inflasi Masih Tekan Daya Beli
Di sisi lain, tekanan ekonomi masyarakat masih terasa. BPS mencatat inflasi Kalbar pada Februari 2026 sebesar 3,90 persen (year-on-year).
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ekonomi tumbuh, kenaikan harga barang dan jasa tetap menjadi tantangan bagi daya beli masyarakat.
Ekonomi Belum Merata
Di balik gemilangnya angka pertumbuhan tersebut, tersimpan persoalan mendasar soal kualitas dan pemerataan ekonomi.
Pengamat ekonomi Kalbar, Eddy Suratman pada laporan Pontianak Post (7/5) menilai, laju ekonomi yang tinggi belum tentu inklusif terutama karena sektor pertambangan lebih dominan mengalirkan keuntungan kepada pemilik modal, sementara masyarakat luas belum merasakan dampaknya secara signifikan.
“Pertambangan itu lebih banyak dinikmati oleh pemilik modal,” ujarnya.
Proyeksi Tetap Tinggi, Risiko Tetap Ada
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Kalbar pada 2026 berada di kisaran 5,3 hingga 6,0 persen. Artinya, tren positif ini diperkirakan berlanjut.
Baca Juga: Ekonomi Kalbar Tumbuh 6,14 Persen pada 2026, Tertinggi di Regional Kalimantan dan Lampaui Nasional
Namun tanpa diversifikasi sektor ekonomi, ketergantungan pada tambang tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Pertumbuhan Tinggi, Tapi Siapa Menikmati?
Pertumbuhan 6,14 persen menjadi sinyal positif bagi perekonomian Kalbar. Namun angka tersebut belum tentu mencerminkan pemerataan kesejahteraan.
Selama pertumbuhan masih didominasi sektor tertentu, tantangan terbesar bukan lagi sekadar meningkatkan angka, tetapi memastikan manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat. (*)
Editor : Miftahul Khair