Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

BRIN Beberkan Potensi Tersembunyi Kratom di Kalbar: Dari Obat Tradisional hingga Jadi Harapan Baru Ekonomi Warga

Khoiril Arif Ya'qob • Rabu, 20 Mei 2026 | 14:18 WIB
Salah satu warga Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat sedang memetik daun kratom yang merupakan sumber pendapatan ekonomi keluarga. (ANTARA)
Salah satu warga Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat sedang memetik daun kratom yang merupakan sumber pendapatan ekonomi keluarga. (ANTARA)

PONTIANAK POST - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap besarnya potensi tanaman kratom di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Selain dimanfaatkan sebagai obat tradisional, kratom dinilai mampu mendorong ekonomi masyarakat, membuka lapangan kerja, hingga membantu menjaga ekosistem bantaran sungai.

Kratom Komoditas Unggulan di Kalimantan Barat

Melansir pada laman resmi BRIN (25/11/2025), peneliti Ahli Madya Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Slamet Wahyono, menjelaskan Kapuas Hulu menjadi salah satu sentra produksi kratom terbesar di Indonesia.

Baca Juga: Perkrindo Apresiasi Bea Cukai Gagalkan 90 Ton Kratom Ilegal, Soroti Lambannya Proses Perizinan Ekspor

Menurutnya, daun kratom tidak hanya digunakan sebagai bahan obat tradisional, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat setempat.

“Kratom juga merupakan salah satu hasil perkebunan di Kalbar yang berhasil menggeser peminatan terhadap hasil kebun lain, seperti karet,” ujar Slamet.

Dinilai Mampu Cegah Abrasi dan Efek Rumah Kaca

Slamet menjelaskan, tanaman kratom memiliki manfaat ekologis karena mampu tumbuh di bantaran sungai dan membantu mencegah abrasi.

Selain itu, pertumbuhan daun kratom yang cepat dan lebat dinilai berkontribusi dalam mengurangi efek rumah kaca.

Baca Juga: Perhatikan Aturan Baru Kratom, Masa Berlaku Eksportir Kini Cuma 3 Tahun

Tanaman ini juga dapat dibudidayakan di kawasan hutan sehingga membuka peluang usaha hasil hutan bukan kayu bagi masyarakat.

“Tanaman ini bisa tumbuh di air dan regenerasi daunnya cukup cepat serta lebat,” katanya.

Kratom Buka Lapangan Kerja dan Tingkatkan Pendidikan

Menurut Slamet, tingginya nilai jual kratom turut menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Kapuas Hulu, mulai dari proses penanaman, panen, hingga pascapanen.

Kratom juga disebut mudah dibudidayakan dengan dua metode utama sesuai kebutuhan pasar, yakni dikeringkan langsung atau melalui proses fermentasi.

Sejumlah pelaku usaha bahkan telah mengolahnya menjadi serbuk menggunakan mesin modern.

Ia menilai peningkatan pendapatan petani kratom berdampak positif terhadap kondisi sosial masyarakat, termasuk membantu menekan angka putus sekolah dan kriminalitas.

Baca Juga: Kasus Pencurian Kratom di Putussibau Terbongkar, Polisi Amankan Pelaku dan Barang Bukti 950 Kg

“Dengan hasil panen yang cukup, masyarakat bisa menyekolahkan anak hingga ke luar daerah,” ujarnya.

Kratom Digunakan Sebagai Obat Tradisional di Sejumlah Daerah

Slamet mengungkapkan, pemanfaatan kratom sebagai obat tradisional juga ditemukan dalam data Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (Ristoja) 2015.

Di Sulawesi Barat, etnis Galumpang memanfaatkan kratom untuk mengobati diare dan penyakit kulit. Sementara masyarakat Bencian di Kalimantan Timur menggunakan daun kratom sebagai penghalus wajah.

Selain itu, masyarakat Kutai memanfaatkannya untuk perawatan pasca persalinan, sedangkan masyarakat Berau menggunakan kratom untuk mengatasi pegal, kelelahan, dan melancarkan haid.

Baca Juga: Harga Kratom Turun, Pemerintah dan DPRD Kapuas Hulu Diminta Bertindak Nyata

TNAL dan BRIN Teliti Tumbuhan Obat Suku Tobelo Dalam

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Irwan Effendi, memaparkan potensi tumbuhan obat yang dimanfaatkan Suku O’Hongana Manyawa atau Tobelo Dalam.

Menurutnya, kawasan TNAL memiliki ekosistem yang masih terjaga dengan keanekaragaman hayati tinggi.

Dari kawasan tersebut ditemukan 38 jenis tumbuhan obat dari 24 famili dengan 21 khasiat pengobatan.

Beberapa tanaman yang diteliti bersama BRIN antara lain Akar Togutil (Fibraurea sp.), Akar Kuning (Arcangelisia flava), Sarang Semut (Myrmecodia sp.), dan Galoba (Alpinia nutans).

“Eksplorasi dan koleksi spesies dilakukan oleh TNAL, sedangkan identifikasi senyawa aktif dilakukan di laboratorium BRIN,” kata Irwan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Kapuas Hulu #manfaat #kratom #ekonomi warga #potensi