PONTIANAK POST – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan BI Rate dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur, Rabu (20/5). Kenaikan 50 basis poin (bps) itu ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus meredam tekanan inflasi akibat gejolak global dan lonjakan harga energi dunia.
Selain BI Rate, suku bunga deposit facility ikut dinaikkan menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan langkah tersebut bersifat pre-emptive agar inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam target 2,5 persen plus minus 1 persen.
“Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal yang meningkat,” ujar Perry dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/5/2026)
Perang Timur Tengah dan Dolar AS Tekan Rupiah
BI mencatat tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, konflik Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia, memperkuat dolar AS, dan mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Situasi tersebut memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Di saat bersamaan, kebutuhan valas domestik meningkat memasuki periode April hingga Juni.
Pembayaran impor, distribusi dividen perusahaan, cicilan utang luar negeri, hingga kebutuhan haji dan umrah ikut meningkatkan permintaan dolar AS di dalam negeri. Kondisi itu membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.
BI Perkuat Operasi Moneter
Tidak hanya menaikkan BI Rate, bank sentral juga memperkuat instrumen operasi moneter. Suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 6, 9, dan 12 bulan dinaikkan menjadi masing-masing 6,21 persen, 6,31 persen, dan 6,45 persen per 13 Mei 2026.
Menurut Perry, langkah itu dilakukan agar aset keuangan domestik tetap menarik bagi investor asing. Dengan begitu, arus modal masuk diharapkan tetap terjaga.
BI juga memastikan likuiditas perbankan masih longgar. Bank sentral terus membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas pasar uang dan kecukupan likuiditas perbankan.
Hingga 19 Mei 2026, BI telah membeli SBN senilai Rp140,57 triliun.
“Likuiditas pasar uang dan perbankan lebih dari cukup. Karena itu kami meminta perbankan meningkatkan efisiensi agar tidak menaikkan suku bunga kredit,” terang Perry.
BI Tetap Longgarkan Kredit Demi Pertumbuhan Ekonomi
Di tengah pengetatan suku bunga, BI tetap mempertahankan kebijakan makroprudensial longgar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Mulai Juli 2026, Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) diperluas agar fleksibilitas bank dalam menyalurkan pembiayaan meningkat. BI juga menambah insentif likuiditas makroprudensial hingga 0,5 persen bagi bank yang memenuhi target kredit sektor prioritas.
Sinergi dengan pemerintah dan industri perbankan dilakukan melalui Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI). Program itu diarahkan untuk mengatasi hambatan penyaluran kredit dari sisi perbankan maupun dunia usaha.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi langkah tepat untuk menjaga jangkar stabilitas rupiah di tengah tekanan global yang semakin berat.
Menurut Fakhrul, kebijakan tersebut bukan sekadar kenaikan suku bunga acuan, melainkan sinyal kuat bahwa otoritas moneter tetap menjaga kredibilitas kebijakan di tengah gejolak pasar global.
“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,” ujarnya di Jakarta, Rabu (20/5).
Ia memandang tekanan terhadap rupiah saat ini bukan lagi volatilitas biasa. Karena itu, respons moneter yang cepat dan pre-emptive dinilai penting untuk mencegah tekanan yang lebih besar terhadap pasar keuangan domestik.
Rupiah Diproyeksi Menguat Bertahap
Fakhrul memperkirakan kenaikan BI-Rate akan menjadi titik balik penting bagi pergerakan rupiah. Menurut dia, rupiah berpotensi menguat bertahap dengan target awal menuju kisaran Rp17.300 per dolar AS sebelum bergerak ke level keseimbangan baru sekitar Rp16.800 per dolar AS.
“Rupiah sudah selesai fase overshooting-nya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru,” jelasnya.
Ia menambahkan, kombinasi kenaikan BI-Rate, intervensi pasar valas, penguatan transaksi domestic non-deliverable forward (DNDF/NDF), serta perluasan transaksi CNH-Rupiah dan local currency transaction (LCT) diyakini mampu memperkuat kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (20/5) tercatat menguat 52 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.654 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.706 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat ke level Rp17.685 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.719 per dolar AS.
SRBI Diminta Tidak Terlalu Lama Jadi Magnet Likuiditas
Meski mendukung kenaikan BI-Rate, Fakhrul mengingatkan pekerjaan rumah pemerintah dan BI belum selesai. Setelah suku bunga acuan naik, ia menilai struktur pasar uang dan obligasi domestik perlu segera diperbaiki.
Menurutnya, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) harus mulai diturunkan secara bertahap agar tidak terus menyedot likuiditas dari pasar obligasi negara dan instrumen jangka panjang.
“Kalau SRBI terlalu menarik, dana akan terus terkonsentrasi di instrumen pendek. Ini bisa mengganggu pasar SBN, menekan yield curve, dan membuat transmisi kebijakan tidak sehat,” katanya.
Ia menilai normalisasi kurva imbal hasil penting agar investor kembali masuk ke obligasi jangka panjang. Langkah itu dinilai dapat membantu pembiayaan pembangunan sekaligus memperbaiki ekspektasi terhadap rupiah.
BI dan Kemenkeu Diminta Kompak
Fakhrul juga menekankan pentingnya sinergi antara BI dan pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan. Menurutnya, kebijakan moneter harus diiringi komunikasi fiskal yang jelas terkait subsidi energi, strategi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), serta arah pembiayaan pemerintah.
“BI menjaga jangkar stabilitas, Kemenkeu menjaga kredibilitas fiskal. Kalau keduanya berjalan bersama, rupiah bisa menguat, yield bisa lebih sehat, dan pasar akan kembali percaya pada cerita besar Indonesia,” ujarnya.
Dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026, BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 bps dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen. Suku bunga deposit facility naik menjadi 4,25 persen dan lending facility menjadi 6 persen.
Kenaikan ini menjadi penyesuaian pertama setelah BI mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen sejak September 2025. Sepanjang 2025, BI sebelumnya telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali dengan total penurunan mencapai 125 basis poin.
BI Batasi Pembelian Valas Tunai
Di sektor pasar valuta asing, BI akan menurunkan batas pembelian valas tunai tanpa underlying menjadi USD25 ribu per pelaku per bulan mulai Juni 2026.
Pendalaman pasar uang dan pasar valas juga dipercepat, termasuk perluasan transaksi offshore renminbi terhadap rupiah serta keterlibatan bank domestik dalam transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri.
BI optimistis kombinasi kebijakan tersebut mampu menjaga stabilitas rupiah dan mendorong penguatan kembali pada Juli hingga Agustus mendatang.
“Kami meyakini dengan kenaikan BI-Rate 50 bps ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berada dalam rentang proyeksi BI sebesar 4,9 hingga 5,7 persen,” pungkas Perry.
Yield Obligasi AS Melonjak, Wall Street Tertekan
Sementara itu, tekanan global juga datang dari pasar keuangan Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah AS terus naik akibat kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik Timur Tengah.
Yield surat utang AS tenor 30 tahun menyentuh 5,18 persen, level tertinggi sejak 2007. Sedangkan yield tenor 10 tahun mencapai 4,48 persen, tertinggi dalam lebih dari setahun.
Kepala Ekonom Pasar Spartan Capital Securities Peter Cardillo menyebut kenaikan yield menjadi faktor utama yang menekan pasar saham.
“Ujung panjang pasar obligasi terus naik dan itu membuat saham berada dalam tekanan,” ujarnya.
Kenaikan yield meningkatkan biaya pinjaman sekaligus memperbesar tingkat diskonto terhadap laba masa depan perusahaan. Akibatnya, valuasi saham terutama sektor teknologi menjadi lebih rentan.
Pelaku pasar kini menanti laporan keuangan NVIDIA Corporation yang dipandang menjadi penentu arah reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Dolar AS Menguat
Penguatan yield obligasi turut mendorong dolar AS menguat terhadap mata uang utama dunia. Indeks dolar naik 0,34 persen ke level 99,33.
Euro turun ke posisi USD1,1602, sedangkan dolar AS menguat terhadap yen Jepang menjadi 159,05 yen per dolar AS.
Pasar global kini menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed. Investor menilai tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi berpotensi bertahan lebih lama. (ars)
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS
| Tanggal | Nilai Tukar |
|---|---|
| 4 Mei | Rp 17.368 |
| 5 Mei | Rp 17.425 |
| 6 Mei | Rp 17.405 |
| 7 Mei | Rp 17.362 |
| 8 Mei | Rp 17.375 |
| 11 Mei | Rp 17.415 |
| 12 Mei | Rp 17.514 |
| 13 Mei | Rp 17.496 |
| 18 Mei | Rp 17.666 |
| 19 Mei | Rp 17.719 |
Sumber: Bank Indonesia
Pergerakan BI Rate 2025–2026
| Tanggal Keputusan | BI Rate | Keterangan |
|---|---|---|
| 19 Maret 2025 | 5,75% | BI tahan suku bunga tinggi untuk jaga inflasi |
| 21 Mei 2025 | 5,50% | Mulai pelonggaran kebijakan moneter |
| 16 Juli 2025 | 5,25% | Rupiah relatif stabil |
| 20 Agustus 2025 | 5,00% | Dorong pertumbuhan ekonomi |
| 17 September 2025 | 4,75% | Level terendah sejak 2024 |
| 20 Mei 2026 | 5,25% | Naik 50 bps akibat tekanan global dan rupiah |
Sumber: Bank Indonesia
Alasan BI Naikkan Suku Bunga
| Faktor Global | Dampak ke Indonesia |
|---|---|
| Konflik Timur Tengah | Harga minyak dunia naik |
| Yield obligasi AS melonjak | Modal asing keluar dari emerging market |
| Dolar AS menguat | Rupiah tertekan |
| Inflasi global meningkat | Risiko kenaikan harga impor |
| Faktor Domestik | Dampak |
|---|---|
| Kebutuhan impor meningkat | Permintaan dolar naik |
| Pembayaran dividen & utang luar negeri | Tekan cadangan valas |
| Musim haji dan umrah | Permintaan valuta asing meningkat |
Respons Bank Indonesia
| Kebijakan | Detail |
|---|---|
| Naikkan BI Rate | Dari 4,75% menjadi 5,25% |
| Deposit Facility | Naik jadi 4,25% |
| Lending Facility | Naik jadi 6% |
| SRBI tenor 12 bulan | Naik jadi 6,45% |
| Pembelian SBN | Rp140,57 triliun hingga 19 Mei 2026 |
| Batas beli valas tunai | Diturunkan jadi USD25 ribu per bulan |
Dampak Global: Yield Obligasi AS Melonjak
| Instrumen | Level Terbaru |
|---|---|
| Yield US Treasury 30 tahun | 5,18% |
| Yield US Treasury 10 tahun | 4,48% |
| Indeks Dolar AS | 99,33 |
| Kurs USD/JPY | 159,05 yen |
| Dampak ke Pasar | Penjelasan |
|---|---|
| Saham Wall Street melemah | Investor khawatir inflasi |
| Saham teknologi tertekan | Diskonto laba masa depan naik |
| Dolar AS menguat | Investor cari aset aman |
| Emerging market tertekan | Risiko capital outflow meningkat |
Proyeksi Bank Indonesia
| Indikator | Proyeksi BI |
|---|---|
| Inflasi 2026–2027 | 2,5% ± 1% |
| Pertumbuhan ekonomi 2026 | 4,9%–5,7% |
| Fokus kebijakan | Stabilitas rupiah dan inflasi |
| Strategi lanjutan | Likuiditas longgar & kredit tetap tumbuh |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro