Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Strategi Mengatur Anggaran Rumah Tangga Saat Harga Pangan Naik

Chairunnisya • Kamis, 21 Mei 2026 | 17:33 WIB
Ilustrasi ibu kaget melihat harga pangan melonjak. (AI)
Ilustrasi ibu kaget melihat harga pangan melonjak. (AI)

PONTIANAK POST - Kenaikan harga bahan pangan sering membuat pengeluaran rumah tangga terasa makin berat. Namun, kondisi itu bukan berarti keuangan keluarga otomatis berantakan.

Dengan strategi yang tepat, dapur tetap bisa mengepul tanpa harus mengorbankan kebutuhan penting lainnya.

Ubah Pola Pikir

Perencana keuangan FINANTE, Rahma Maryama CFP, menilai kunci utama menghadapi situasi tersebut terletak pada perubahan pola pikir dan kemampuan melakukan substitusi bahan pangan tanpa menurunkan kualitas gizi.

Baca Juga: Belajar dari Kampung Febri: Tips Menghindari Investasi Bodong dan Mengelola Keuangan Keluarga ala Helmi Yahya

Menurut Rahma, fleksibilitas dalam memilih bahan makanan sangat menentukan kesehatan keuangan rumah tangga.

’’Jangan terpaku pada satu merek atau satu jenis bahan pangan. Saat harga cabai melambung, bisa beralih ke cabai kering atau menanam sendiri di pot kecil. Jika daging sapi naik, geser sumber protein ke yang lebih terjangkau tetapi tetap padat gizi,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Catat Keuangan Harian

Dia juga menekankan pentingnya mencatat keuangan harian. Dalam kondisi ekonomi yang fluktuatif, mencatat pengeluaran bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Baca Juga: Masalah Keuangan Disebut Jadi Salah Satu Penyebab Konflik dan Perceraian Pasangan

’’Dengan begitu, kita bisa mendeteksi kebocoran kecil seperti biaya admin transfer atau jajan online, melakukan evaluasi secara real time, serta memiliki data untuk membandingkan harga antartoko,’’ jelasnya.

Sesuaikan Komposisi Anggaran

Rahma menyarankan penyesuaian komposisi anggaran agar lebih tahan terhadap gejolak harga.

Pendekatan konservatif dinilai paling aman dengan mengalokasikan 50–60 persen anggaran untuk kebutuhan utama seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan.

’’Sekitar 20 persen untuk kewajiban dan cicilan, maksimal 30 persen jika terpaksa. Sisanya dialokasikan untuk tabungan, dana darurat, serta sedikit ruang untuk keinginan,’’ lanjutnya.

Sementara itu, pos pengeluaran yang paling realistis ditekan sementara adalah hiburan dan gaya hidup.

Langganan streaming yang jarang ditonton, makan di luar, atau pembelian barang hobi bisa ditunda agar dana dialihkan untuk memperkuat cadangan pangan keluarga. (*)

Editor : Chairunnisya
#tips keuangan #tips finansial #finansial