PONTIANAK POST - Di tengah nilai tukar rupiah yang melemah dan kondisi ekonomi yang dinilai semakin berat, pusat perbelanjaan, kedai kopi, hingga restoran di berbagai kota justru tetap dipadati pengunjung.
Fenomena ini ramai dibahas warganet di media sosial X dan disebut sebagai “lipstick effect”, yakni kecenderungan masyarakat tetap membeli barang atau hiburan kecil saat kondisi ekonomi sedang menurun.
Unggahan Warganet Viral di X
Perbincangan mengenai fenomena tersebut ramai setelah seorang pengguna X (@TwipsX) mengunggah pandangannya pada (19/5).
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar, Primus Manusia Milenium Desak Gubernur BI Mundur
“Kalian ngerasa enggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah. Nama fenomena ini adalah lipstick effect. Dan ini justru sinyal bahaya,” tulis akun tersebut.
Unggahan itu kemudian memicu diskusi luas di media sosial. Banyak pengguna mengaku merasakan hal serupa, yakni pusat konsumsi tetap ramai meski daya beli masyarakat disebut sedang tertekan.
Apa Itu Lipstick Effect?
Menyadur Antara, lipstick effect dalam ekonomi merupakan fenomena ketika konsumen tetap membeli barang-barang kecil atau terjangkau saat kondisi ekonomi memburuk.
Meski pembelian barang mahal cenderung ditunda, masyarakat tetap mencari “hadiah kecil” untuk diri sendiri sebagai bentuk pelarian atau hiburan psikologis.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.530 per Dolar AS, Apindo Pontianak Ingatkan Daya Beli Menurun
Konsep ini pertama kali diperkenalkan pada 2001 oleh CEO Estee Lauder, Leonard Lauder. Saat terjadi resesi ekonomi, ia melihat penjualan lipstik justru meningkat.
Lauder kemudian menyimpulkan bahwa ketika masyarakat tidak mampu membeli barang mewah dengan harga tinggi, mereka akan beralih ke produk yang lebih murah tetapi tetap memberikan rasa senang dan kepuasan emosional.
Kopi, Nongkrong, dan Belanja Kecil Jadi Pelarian
Fenomena lipstick effect kini dinilai semakin relevan di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda.
Di tengah tekanan ekonomi, banyak orang masih rela mengeluarkan uang untuk membeli kopi, nongkrong di kafe, membeli skincare, kosmetik, hingga makanan viral karena dianggap sebagai bentuk self reward yang masih terjangkau.
Secara psikologis, perilaku tersebut dipengaruhi kebutuhan untuk menjaga suasana hati di tengah tekanan finansial dan ketidakpastian ekonomi.
Generasi Muda Dinilai Paling Terpengaruh
Dalam teori perilaku konsumen, keputusan belanja tidak selalu didasarkan pada logika ekonomi semata. Emosi dan persepsi sering menjadi faktor utama dalam menentukan pembelian.
Saat ekonomi sedang lesu, konsumen cenderung mencari kepuasan instan dari produk-produk yang harganya relatif murah.
Baca Juga: Kenapa Kalimantan Barat Justru Diuntungkan dengan Melemahnya Rupiah terhadap Dolar
Fenomena ini juga berkaitan dengan teori “Veblen Goods”, yakni barang tertentu yang tetap dibeli karena dianggap sebagai simbol status sosial.
Generasi muda disebut menjadi kelompok yang paling rentan terhadap tren tersebut karena sangat terpapar media sosial, gaya hidup digital, dan budaya konsumsi visual.
Ramainya Mal Bisa Jadi Sinyal Bahaya
Sejumlah pengamat menilai lipstick effect memang dapat membuat aktivitas konsumsi tetap terlihat hidup di permukaan.
Baca Juga: Bank Indonesia Ajak Masyarakat Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Dolar AS
Namun di sisi lain, fenomena ini juga bisa menjadi tanda masyarakat mulai mengalihkan pengeluaran ke konsumsi emosional jangka pendek.
Artinya, masyarakat mungkin menahan pembelian besar seperti rumah, kendaraan, atau investasi, tetapi tetap mempertahankan konsumsi kecil demi menjaga kenyamanan psikologis.
Karena itu, ramainya mal, antrean kopi panjang, dan restoran penuh belum tentu sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang benar-benar sehat. (*)
Editor : Miftahul Khair