Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Rupiah Tembus Rp17.530 per Dolar AS, Apindo Pontianak Ingatkan Daya Beli Menurun

S
Penulis: Siti Sulbiyah❯
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am)
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/am)

Advertisement

PONTIANAK POST - Nilai tukar rupiah tiga hari terakhir tercatat melemah hingga ke level Rp17.500-an per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (14/5), rupiah sempat tercatat Rp17.530 per dolar. Angka ini dinilai telah melewati batas psikologis dan berpotensi membawa dampak luas bagi dunia usaha maupun masyarakat.

Ketua Apindo Kota Pontianak, Andreas Acui Simanjaya, mengatakan nilai tukar yang tembus Rp17.500 per dolar Amerika itu merupakan level yang sudah tembus psikologis. “Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak krisis 1998, rupiah jarang menyentuh posisi demikian,” ucapnya.

Ia menilai terdapat dampak positif maupun negatif dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar bagi para pengusaha maupun masyarakat secara umum.

Advertisement

Dari sisi negatif, ia mengatakan terdapat lonjakan bahan baku impor. Sektor yang terdampak seperti industri manufaktur, farmasi, otomotif, properti, hingga makanan-minuman banyak yang bahan bakunya impor.

Selain itu, tambah dia, ekspansi usaha juga akan cenderung berhenti karena biaya bahan yang perlu impor seperti bahan dan mesin akan meningkat.

Advertisement

Ia menegaskan, sektor perkebunan jelas terdampak karena pupuk dan herbisida meningkat. Namun, ia menilai seharusnya petani sawit bisa dapat diuntungkan jika ada penyesuaian harga beli TBS karena naiknya pendapatan nilai ekspor CPO.

Selain itu, daya beli masyarakat akan menurun jika kenaikan harga kebutuhan konsumsi tidak bisa atasi. “Pemerintah mesti mewaspadai problematika sosial yang akan timbul dalam kondisi masyarakat tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidup,” katanya.

Di sisi lain, ia menilai komoditas yang di ekspor Indonesia akan menjadi lebih kompetitif. "Barang atau jasa yang dijual ke luar negeri harganya menjadi lebih murah dalam USD," ujarnya.

Beberapa sektor yang diuntungkan dari penguatan dolar AS ini, kata dia, antara lain CPO, batubara, nikel, tekstil, furniture, pariwisata, maupun jasa IT outsourcing.

"Industri pariwisata kemungkinan mendapatkan lebih banyak konsumen karena bagi turis mancanegara liburan ke Indonesia jadi lebih murah," katanya.

Advertisement

Artikel Terkait

Trans Kalimantan: Jalur Ekonomi dan Jalur Maut

Trans Kalimantan: Jalur Ekonomi dan Jalur Maut

Wagub Kalbar Krisantus soroti ketimpangan APBD dan luas wilayah dalam pembangunan jalan di Kalimantan Barat

80 Stan UMKM Meriahkan Gawe Dayak Naik Dango XXVI di Singkawang, Perputaran Ekonomi Diperkirakan Tembus Miliaran Rupiah

80 Stan UMKM Meriahkan Gawe Dayak Naik Dango XXVI di Singkawang, Perputaran Ekonomi Diperkirakan Tembus Miliaran Rupiah

Ratusan pelaku UMKM akan mengisi Gawe Dayak Naik Dango XXVI untuk mendorong ekonomi dan wisata Singkawang.

CORE Nilai Lonjakan Belanja Pemerintah pada Kuartal I-2026 Jadi Strategi Jaga Momentum Ekonomi di Tengah Tekanan Global

CORE Nilai Lonjakan Belanja Pemerintah pada Kuartal I-2026 Jadi Strategi Jaga Momentum Ekonomi di Tengah Tekanan Global

Ekonom CORE menilai pemerintah mempercepat belanja negara untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer