PONTIANAK POST — Petani kelapa sawit di Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di tengah kenaikan biaya produksi.
Harga TBS sawit di tingkat petani dilaporkan turun drastis hingga Rp800 per kilogram. Padahal sebelumnya harga normal berada di kisaran Rp2.600 per kilogram.
Penurunan harga tersebut diduga dipicu kepanikan pasar setelah muncul rencana pemerintah mewajibkan ekspor komoditas melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Keluhan petani itu disampaikan langsung kepada Bupati PPU Mudyat Noor saat Safari Jumat di Masjid Darul Aman, Kecamatan Waru, Jumat (22/5).
Camat Waru Ahmad Yani mengatakan turunnya harga TBS secara tiba-tiba langsung memukul pendapatan petani sawit di wilayahnya.
“Mereka merasa harga TBS turun secara tiba-tiba, dan kondisi ini tentu sangat berdampak pada ekonomi petani itu sendiri,” katanya kepada Kaltim Post (grup Pontianak Post), Rabu (27/5).
Menurut Ahmad Yani, persoalan yang dihadapi petani tidak hanya soal harga jual sawit yang merosot.
Kenaikan harga pupuk dan sulitnya memperoleh pupuk subsidi juga membuat biaya produksi petani semakin berat.
“Pupuk subsidi saat ini cukup sulit didapatkan, sementara harga pupuk nonsubsidi di toko-toko pertanian mengalami kenaikan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Kondisi itu membuat banyak petani berada dalam posisi terjepit karena pendapatan dari hasil panen tidak lagi sebanding dengan biaya operasional kebun.
Meski belum ada laporan resmi terkait dugaan permainan harga oleh pengepul atau tengkulak, masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga TBS sawit.
Menurut Ahmad Yani, kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan agar petani tidak terus mengalami tekanan ekonomi.
“Harapan kami, peran serta pemerintah dalam menstabilkan harga TBS bisa terakomodasi dengan baik. Ini sangat krusial bagi kesejahteraan petani sawit kita agar mereka tetap mampu bertahan di tengah biaya produksi yang tinggi,” katanya.
Ia menilai stabilitas harga sawit penting karena sektor perkebunan masih menjadi sumber penghidupan utama banyak keluarga di Kecamatan Waru.
Gejolak harga TBS di tingkat petani mulai muncul setelah pemerintah pusat mewacanakan penguatan tata niaga ekspor komoditas strategis melalui badan usaha milik negara.
Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran di daerah penghasil sawit karena dikhawatirkan memicu spekulasi harga di tingkat pabrik dan pengepul.
Sejumlah daerah sentra sawit kini mulai meminta pengawasan ketat terhadap pembelian TBS agar petani tidak menjadi pihak paling terdampak selama masa transisi kebijakan berlangsung. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro