Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Harga Sawit Anjlok Usai Wacana Ekspor Satu Pintu, DPRD Kalbar Minta Pemerintah Segera Bertindak

Deny Hamdani • Jumat, 29 Mei 2026 | 15:17 WIB
Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius.
Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius.

PONTIANAK POST — Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, meminta pemerintah pusat segera mengambil langkah cepat menyusul anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit setelah munculnya kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

Menurut Aloysius, ketidakjelasan implementasi kebijakan tersebut memicu kepanikan di pasar dan berdampak langsung terhadap petani sawit, terutama petani swadaya di wilayah perhuluan Kalimantan Barat.

“Para petani sawit mandiri banyak menyampaikan kepada saya soal anjloknya harga buah sawit. Saya minta pemerintah segera bertindak,” ujarnya.

Baca Juga: Harga TBS Sawit Anjlok Usai Ekspor Satu Pintu, Petani Minta Pemerintah Segera Bertindak

Ia mengatakan keresahan petani muncul karena trauma terhadap kondisi beberapa tahun lalu ketika harga sawit sempat tertekan cukup dalam dan berdampak terhadap ekonomi masyarakat desa.

Meski demikian, Aloysius menegaskan para petani pada prinsipnya mendukung pembentukan DSI karena dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.

Namun, pemerintah diminta segera memberikan penjelasan teknis agar pasar tidak terus bereaksi negatif.

“Petani sawit swadaya maupun bermitra mendukung DSI, tetapi penjelasannya harus cepat. Jangan petani jadi korban abu-abunya kebijakan,” katanya.

Baca Juga: Prabowo Ingin Kendalikan Harga Dunia, Mentan Amran Sebut Sawit Simbol Kemandirian Bangsa

Ia mengungkapkan harga TBS sawit milik petani swadaya kini turun drastis di kisaran Rp1.800 hingga Rp2.200 per kilogram. Padahal, biaya pokok produksi petani diperkirakan mencapai sekitar Rp2.000 per kilogram. "Artinya petani sudah nombok,” ujarnya.

Menurut dia, penurunan harga rata-rata mencapai Rp600 hingga Rp1.500 per kilogram hanya dalam hitungan hari setelah pengumuman kebijakan ekspor satu pintu oleh Presiden RI pada 20 Mei lalu.

Kelompok petani swadaya disebut menjadi pihak paling terdampak karena tidak memiliki kepastian kontrak seperti petani plasma maupun petani bermitra yang masih dilindungi regulasi melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024.

Aloysius menilai penurunan harga sawit di dalam negeri tidak sejalan dengan kondisi pasar global. Sebab, harga crude palm oil (CPO) dunia justru sedang mengalami penguatan.

“Harga CPO global lagi bagus. Kalau dirupiahkan bisa sekitar Rp18 ribu per kilogram. Seharusnya harga dalam negeri masih tinggi,” katanya.

Ia menduga gejolak harga yang terjadi lebih dipicu spekulasi pasar pasca pengumuman kebijakan ekspor satu pintu tersebut.

Baca Juga: Harga Sawit Anjlok, Petani Kalbar Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Picu Gejolak Pasar

Meski demikian, ia tetap mendukung pembentukan DSI selama mampu memperbaiki tata kelola ekspor sawit nasional dan memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar internasional.

“Masa kita jual sawit sendiri-sendiri tanpa kendali harga. Kalau DSI berjalan baik, ini bisa jadi dirigen sawit Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Ignasius IK, mengakui harga sawit di lapangan memang mengalami penurunan meski pemerintah telah menetapkan harga acuan.

“Memang hasil pantauan kita terjadi penurunan harga sawit secara real. Walaupun sudah kita tetapkan harga sekian, tapi real di lapangan memang ada penurunan,” katanya.

Baca Juga: Harga TBS Anjlok: 60 Persen Produksi Sawit Nasional Ada di Tangan Petani Rakyat

Ia berharap kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan harga sawit dapat segera kembali stabil.

Menurut Ignasius, kondisi tersebut berkaitan dengan proses transisi kebijakan tata kelola ekspor satu pintu yang masih berlangsung di tingkat pusat.

“Kita berharap kebijakan satu pintu ekspor ini ada perubahan-perubahan lah, jangan hanya menimbulkan goncangan seperti ini,” ujarnya.

Di sisi lain, seorang petani sawit asal Kabupaten Landak, Ardiansyah, mengatakan harga sawit di tingkat pabrik kini berada di kisaran Rp2.610 hingga Rp2.650 per kilogram. Namun di tingkat petani, harga sudah turun hingga sekitar Rp1.500 per kilogram. “Malam ini masih ada potensi turun lagi,” katanya.

Menurut dia, sebelum harga jatuh, TBS di tingkat pabrik masih berada di kisaran Rp3.350 per kilogram, sedangkan di tingkat petani mencapai Rp2.700 per kilogram.

Ia menyebut sejumlah pabrik mulai menurunkan harga pembelian sejak Kamis malam, sehingga membuat posisi petani semakin tertekan di tengah biaya produksi yang tetap tinggi. (den)

Editor : Miftahul Khair
#ekspor satu pintu #harga sawit #DPRD Kalbar #TBS Sawit