Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Skandium Diburu Industri Pesawat dan Kendaraan Listrik Dunia, Ada di Tambang Bauksit Kalbar

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 31 Mei 2026 | 19:54 WIB
Ilustrasi Skandium
Ilustrasi Skandium

 

PONTIANAK POST – Kalimantan Barat berpotensi memainkan peran penting dalam rantai pasok mineral strategis dunia. Di balik residu pengolahan bauksit atau red mud yang selama ini lebih dikenal sebagai limbah industri, tersimpan potensi skandium, logam kritis yang dibutuhkan industri pesawat terbang, kendaraan listrik, energi bersih, hingga pertahanan.

Potensi tersebut diungkap Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Iwan Setiawan, dalam konferensi Indonesia Miner 2026 di Jakarta. Menurutnya, skandium memiliki keterkaitan erat dengan residu pengolahan bauksit yang banyak ditemukan di Kalimantan Barat.

“Skandium banyak berkaitan dengan residu pengolahan bauksit (red mud) di Kalimantan Barat,” kata Iwan dikutip dari rilis resmi BRIN.

Pernyataan tersebut membuka perspektif baru terhadap limbah pengolahan bauksit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Material yang sebelumnya dianggap residu industri berpotensi berubah menjadi sumber bahan baku bernilai tinggi apabila teknologi ekstraksinya terus berkembang.

Bagi Kalimantan Barat yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung bauksit nasional, potensi tersebut menghadirkan harapan baru untuk meningkatkan nilai tambah industri mineral di daerah.

Apa Itu Skandium?

Skandium (Sc) merupakan unsur logam yang termasuk dalam kelompok Logam Tanah Jarang (LTJ) bersama itrium dan 15 unsur lantanida lainnya.

Menurut Encyclopaedia Britannica, skandium menjadi salah satu unsur penting dalam pembuatan paduan aluminium berkinerja tinggi karena mampu menghasilkan material yang lebih ringan, lebih kuat, tahan korosi, dan tetap stabil pada suhu ekstrem.

Keunggulan tersebut membuat skandium banyak digunakan dalam industri dirgantara, manufaktur presisi, teknologi energi bersih, kendaraan listrik, hingga sektor pertahanan.

Meski belum sepopuler nikel atau litium, skandium kini mulai menjadi perhatian banyak negara karena perannya yang semakin penting dalam industri teknologi tinggi.

Mengapa Dunia Mulai Berebut Skandium?

Di tengah transisi menuju energi bersih dan manufaktur canggih, kebutuhan terhadap skandium terus meningkat.

Laporan Discovery Alert menyebut produksi skandium dunia saat ini hanya sekitar 40 ton per tahun. Sebagian besar pasokan masih berasal dari Tiongkok sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara Barat terkait keamanan rantai pasok mineral strategis.

Kondisi tersebut membuat pemerintah Amerika Serikat, Uni Eropa, Australia, dan Kanada memasukkan skandium ke dalam daftar mineral kritis nasional mereka.

Bagi negara-negara tersebut, skandium tidak hanya dipandang sebagai komoditas tambang, tetapi juga sebagai material yang berhubungan dengan keamanan nasional, pertahanan, dan daya saing industri masa depan.

Logam Kecil dengan Kemampuan Luar Biasa

Nilai strategis skandium tidak berasal dari jumlah penggunaannya, melainkan dari kemampuannya meningkatkan performa material secara signifikan meski hanya ditambahkan dalam jumlah kecil.

Menurut laporan Discovery Alert, penambahan skandium sekitar 0,1 hingga 0,6 persen pada aluminium dapat meningkatkan kekuatan material hingga 15–30 persen dibanding formulasi aluminium konvensional.

Selain itu, skandium juga meningkatkan ketahanan korosi, memperbaiki kemampuan pengelasan, dan menghasilkan struktur logam yang lebih seragam.

Karena itu, paduan aluminium-skandium menjadi material favorit dalam pembuatan pesawat terbang, komponen roket, satelit, kapal, hingga peralatan militer modern.

Reuters bahkan melaporkan Departemen Pertahanan Amerika Serikat mendukung pengembangan paduan aluminium-skandium untuk berbagai kebutuhan strategis, termasuk pesawat tempur dan perlengkapan militer generasi baru.

Dibutuhkan Industri Kendaraan Listrik dan Energi Bersih

Permintaan skandium diperkirakan akan semakin meningkat dalam dekade mendatang.

Selain digunakan pada industri dirgantara, skandium juga menjadi komponen penting dalam teknologi Solid Oxide Fuel Cell (SOFC), yaitu sistem pembangkit listrik beremisi rendah yang banyak diproyeksikan menjadi bagian dari masa depan energi bersih.

Penggunaan skandium membantu meningkatkan efisiensi sistem sekaligus memperpanjang umur operasional perangkat.

Di sektor otomotif, produsen kendaraan listrik juga mulai melirik paduan aluminium-skandium untuk mengurangi bobot kendaraan. Semakin ringan kendaraan, semakin efisien penggunaan energi dan semakin jauh jarak tempuh yang dapat dicapai.

Teknologi manufaktur berbasis 3D printing juga diperkirakan menjadi pasar baru yang dapat mendorong pertumbuhan permintaan skandium global.

Bernilai Tinggi, Tetapi Sulit Diproduksi

Di pasar internasional, skandium termasuk mineral bernilai tinggi meski tidak diperdagangkan secara luas seperti emas atau nikel.

Berbagai publikasi perdagangan mineral menunjukkan skandium oksida dapat diperdagangkan pada kisaran ratusan hingga ribuan dolar AS per kilogram. Sementara logam skandium dengan kemurnian tinggi dapat mencapai beberapa ribu dolar AS per kilogram tergantung spesifikasi dan kontrak industri.

Dengan kurs saat ini, nilainya dapat mencapai puluhan juta rupiah per kilogram.

Namun, skandium bukan logam yang lebih mahal dibanding emas. Nilai strategisnya justru berasal dari keterbatasan pasokan dan sulitnya proses produksi.

Data Geological Survey Amerika Serikat (USGS) menunjukkan skandium sebenarnya tidak lebih langka dibanding emas dari sisi keberadaannya di kerak bumi. Namun unsur tersebut hampir selalu tersebar dalam kadar rendah sehingga jarang ditemukan dalam konsentrasi yang ekonomis untuk ditambang.

Akibatnya, proses pemisahan dan pemurnian membutuhkan teknologi yang kompleks serta investasi yang besar.

Peluang Baru dari Limbah Industri

Potensi Kalimantan Barat menjadi semakin menarik karena tren global menunjukkan limbah industri kini mulai dilihat sebagai sumber mineral bernilai tinggi.

Perusahaan tambang global Rio Tinto di Kanada berhasil memproduksi skandium oksida dari limbah industri titanium tanpa membuka tambang baru. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa residu industri dapat diubah menjadi komoditas strategis apabila didukung teknologi yang tepat.

Kondisi serupa berpotensi terjadi pada red mud hasil pengolahan bauksit di Kalimantan Barat.

Jika teknologi ekstraksi berhasil dikembangkan secara ekonomis, limbah yang selama ini hanya menjadi produk sampingan dapat berubah menjadi sumber bahan baku strategis bagi industri masa depan.

Tantangan Masih Besar

Meski peluangnya menjanjikan, pengembangan skandium di Indonesia masih menghadapi tantangan besar.

Iwan Setiawan menegaskan bahwa percepatan eksplorasi dan penguasaan teknologi pengolahan menjadi kunci utama untuk mengubah potensi sumber daya menjadi cadangan yang siap dimanfaatkan.

Menurut data yang dipaparkannya, sekitar 95 persen sumber daya bijih logam tanah jarang Indonesia saat ini masih berstatus tereka sehingga memerlukan eksplorasi lanjutan untuk meningkatkan kepastian cadangan.

“Penguasaan teknologi pemrosesan mineral itu penting, tetapi yang lebih mendasar adalah memastikan ketersediaan bahan baku. Perlu percepatan eksplorasi dan pengembangan teknologi yang berkesesuaian dengan karakteristik keterdapatan bahan baku di alam Indonesia,” ujarnya.

Dari Limbah Menjadi Harapan Baru Kalbar

Kisah skandium menunjukkan bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap limbah dapat memiliki nilai strategis yang besar.

Saat dunia berlomba mengamankan pasokan mineral kritis untuk pesawat terbang, kendaraan listrik, energi bersih, dan pertahanan, Kalimantan Barat menyimpan peluang yang selama ini belum banyak dilirik.

Jika riset, teknologi, dan investasi mampu berjalan beriringan, residu bauksit yang menumpuk di kawasan industri tidak lagi hanya menjadi limbah. Material tersebut berpotensi menjadi sumber mineral strategis yang menghubungkan Kalimantan Barat dengan rantai pasok industri teknologi tinggi dunia.

Bila potensi tersebut berhasil diwujudkan, Kalimantan Barat tidak hanya dikenal sebagai penghasil bauksit terbesar di Indonesia. Daerah ini juga berpeluang menjadi salah satu pusat mineral kritis yang menopang transformasi industri global di masa depan. (ars)

 

Tabel: Proyeksi Pertumbuhan Pasar Skandium Global hingga 2034

Dasar Proyeksi Ukuran Pasar Saat Ini Target 2033–2034 Pendorong Pertumbuhan
Fokus Industri Dirgantara US$67 juta – US$300 juta US$224 juta – US$2,24 miliar Modernisasi armada pesawat dan peningkatan kebutuhan material ringan berkekuatan tinggi
Integrasi Energi Bersih Pasar masih dibatasi keterbatasan pasokan Potensi ekspansi hingga miliaran dolar AS Percepatan penerapan teknologi Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) dan transisi energi bersih
Aplikasi Multi-Industri Penggunaan terbatas pada sektor khusus (niche market) Adopsi luas di berbagai sektor industri Transfer teknologi dan perluasan penggunaan skandium pada manufaktur, kendaraan listrik, dan 3D printing

Keterangan:

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#skandium #kalimantan barat #langka #bauksit #harga