Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ketapang Jadi Daerah dengan Tekanan Harga Tertinggi di Kalbar

Aristono Edi Kiswantoro • Selasa, 2 Juni 2026 | 15:31 WIB
Suasana Pasar Rangga Sentap Ketapang
Suasana aktivitas jual beli di Pasar Rangga Sentap, Kabupaten Ketapang. Kabupaten Ketapang tercatat menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Kalimantan Barat pada Mei 2026, yakni sebesar 3,65 persen, di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok.

PONTIANAK POST – Kabupaten Ketapang mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) tertinggi di Kalimantan Barat pada Mei 2026, yakni sebesar 3,65 persen.

Angka tersebut berada di atas rata-rata inflasi Provinsi Kalimantan Barat yang mencapai 3,29 persen dan menjadi yang tertinggi di antara lima daerah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di provinsi tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan IHK Kabupaten Ketapang pada Mei 2026 mencapai 113,02. Sementara itu, Kota Singkawang menjadi daerah dengan inflasi terendah sebesar 2,73 persen dengan IHK 109,81.

Kepala BPS Provinsi Kalimantan Barat, Muh Saichudin, S.Si., M.Si., mengatakan seluruh daerah penghitungan IHK di Kalbar mengalami inflasi pada Mei 2026.

"Pada Mei 2026, seluruh kota IHK yang berjumlah lima kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat mengalami inflasi y-on-y. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kabupaten Ketapang sebesar 3,65 persen dengan IHK sebesar 113,02, sedangkan inflasi y-on-y terendah terjadi di Kota Singkawang sebesar 2,73 persen dengan IHK sebesar 109,81," ujarnya dalam Berita Resmi Statistik BPS Kalbar yang dirilis Selasa (2/6).

Inflasi Kalbar Mencapai 3,29 Persen

Secara keseluruhan, Kalimantan Barat mencatat inflasi tahunan sebesar 3,29 persen dengan IHK 110,90. Angka tersebut meningkat dibandingkan Mei 2025 yang berada pada level 107,37.

Selain inflasi tahunan, Kalbar juga mengalami inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,32 persen dan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 1,93 persen.

Muh Saichudin menjelaskan inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran.

"Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebelas indeks kelompok pengeluaran," katanya.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kenaikan 4,56 persen dan andil 1,67 persen terhadap inflasi Kalbar. Disusul kelompok transportasi yang mengalami inflasi 4,52 persen dengan andil 0,51 persen.

Pangan Masih Jadi Pemicu Utama

Tekanan harga yang terjadi di Kalbar masih didominasi oleh kenaikan harga kebutuhan pokok yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Sejumlah komoditas yang paling besar menyumbang inflasi tahunan antara lain beras, ikan baung, bawang merah, minyak goreng, sawi hijau, dan ikan nila.

Beras tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,24 persen. Sementara ikan baung menyumbang 0,15 persen dan bawang merah sebesar 0,14 persen.

"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, beras, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, ikan baung, bawang merah, pemeliharaan atau service kendaraan, minyak goreng, sawi hijau, dan ikan nila," ujar Muh Saichudin.

Selain komoditas pangan, inflasi juga dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, serta biaya pemeliharaan kendaraan.

Ketapang Hadapi Tekanan Harga Lebih Tinggi

Posisi Ketapang sebagai daerah dengan inflasi tertinggi menunjukkan tekanan harga yang relatif lebih besar dibandingkan daerah lain di Kalbar.

Meski data rinci per komoditas di masing-masing daerah tidak dijabarkan dalam laporan BPS, tingginya inflasi mengindikasikan adanya kenaikan biaya yang dirasakan masyarakat pada berbagai kebutuhan konsumsi.

Bagi rumah tangga, inflasi tidak hanya tercermin dalam angka statistik. Kenaikan harga beras, bahan pangan, biaya transportasi, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya secara langsung memengaruhi pengeluaran bulanan masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, pengendalian inflasi menjadi penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau.

Singkawang Terendah

Berbeda dengan Ketapang, Kota Singkawang mencatat inflasi terendah di Kalimantan Barat pada Mei 2026, yakni sebesar 2,73 persen.

Meski lebih rendah dibandingkan daerah lain, Singkawang tetap mengalami kenaikan harga secara tahunan sebagaimana yang terjadi di seluruh wilayah penghitungan IHK di Kalbar.

Perbedaan tingkat inflasi antarwilayah menunjukkan adanya variasi kondisi pasokan, distribusi barang, serta pola konsumsi masyarakat yang memengaruhi perkembangan harga di masing-masing daerah. (ars)

Fakta Singkat Inflasi Kalbar Mei 2026

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#inflasi Kalbar Mei 2026 #inflasi Kalimantan Barat #inflasi Ketapang #IHK Ketapang #bps kalbar