PONTIANAK POST – Tekanan di pasar keuangan Indonesia semakin dalam. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (4/6) ditutup di level Rp18.049 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,45 persen dan menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah.
Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,70 persen ke level 5.839,78. Posisi tersebut setara dengan level yang pernah dicapai pasar saham Indonesia pada Juni 2017 atau sekitar sembilan tahun lalu.
Pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham memicu kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi nasional, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan munculnya berbagai isu domestik yang memengaruhi sentimen pasar.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, menilai gejolak pasar keuangan mencerminkan masih adanya keraguan investor terhadap arah kebijakan ekonomi dan tata kelola sejumlah program pemerintah.
Menurut Bhima, kepercayaan pasar menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar maupun aliran investasi di tengah tekanan ekonomi global.
“Pasar mulai kehilangan kepercayaan terhadap pengelolaan ekonomi pemerintah,” kata Bhima.
Ia juga menilai terdapat kekhawatiran mengenai potensi pelebaran defisit anggaran dan keberlanjutan sejumlah program prioritas pemerintah yang menyerap dana besar.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen bersamaan dengan pelemahan rupiah dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat.
President Director Asuransi Astra Maximiliaan Agatisianus mengatakan kenaikan bunga dapat meningkatkan tekanan inflasi dan mengurangi kemampuan konsumsi rumah tangga.
"Kalau suku bunga naik, dampaknya bisa ke inflasi dan penurunan daya beli masyarakat," ujarnya di Jakarta, Kamis (4/6).
Menurut dia, sektor otomotif menjadi salah satu industri yang paling rentan terdampak karena sebagian besar pembelian kendaraan dilakukan melalui skema kredit.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan harga berbagai barang impor, biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, hingga beban cicilan yang terkait valuta asing.
Bank Indonesia menegaskan pelemahan rupiah tidak semata-mata dipicu kondisi domestik.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko inflasi global dan memicu perpindahan modal ke aset yang dianggap lebih aman.
"Situasi itu meningkatkan risiko inflasi global serta mendorong arus modal keluar dari negara-negara berkembang," katanya.
Selain itu, permintaan dolar AS di dalam negeri juga masih tinggi untuk kebutuhan repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran kewajiban utang luar negeri.
Untuk menjaga stabilitas pasar, BI memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar valas dan pasar keuangan domestik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun rupiah mengalami tekanan signifikan.
Menurut dia, pemerintah telah mengantisipasi berbagai skenario pelemahan kurs sejak penyusunan APBN dan terus memantau perkembangan ekonomi global.
Purbaya mengakui pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya pembayaran utang pemerintah yang berdenominasi dolar AS. Namun, kondisi tersebut masih berada dalam rentang simulasi yang telah diperhitungkan sebelumnya.
Ia juga mengungkapkan pemerintah telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar dengan nilai yang diperkirakan melebihi Rp8 triliun guna menjaga stabilitas pasar keuangan.
Selain itu, pemerintah terus melakukan komunikasi dengan investor global dan lembaga pemeringkat internasional untuk menjaga kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia.
Meski pasar saham mengalami koreksi tajam, pemerintah tidak berencana melakukan intervensi langsung terhadap pergerakan IHSG.
Purbaya menilai harga saham pada akhirnya akan mencerminkan kondisi fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan yang tercatat di bursa.
"Yang penting adalah saya jelaskan bahwa fondasi ekonomi kita bagus dan akan membaik terus. Itu harusnya menjadi landasan ke penilaian harga saham," katanya.
Pemerintah juga memastikan tidak akan meminta Danantara Indonesia melakukan pembelian saham untuk menopang pasar.
Menurut Purbaya, keputusan investasi Danantara sepenuhnya bersifat independen dan tidak berada di bawah intervensi pemerintah.
Di tengah gejolak pasar, beredar isu yang menyebut Purbaya Yudhi Sadewa akan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Keuangan.
Purbaya membantah kabar tersebut dan menyebut informasi yang beredar di media sosial tidak benar.
"Ha ha ha enggak benar lah," kata Purbaya kepada Jawa Pos Group melalui pesan WhatsApp.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga memastikan tidak ada rencana pergantian Menteri Keuangan dalam waktu dekat.
Menurutnya, fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Koordinator Perekonomian guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi harga barang impor, biaya produksi industri, cicilan berbasis valuta asing, hingga daya beli masyarakat. Karena itu, stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. **
PASAR KEUANGAN TERTEKAN
Kamis, 4 Juni 2026
| Indikator | Posisi Terakhir | Perubahan | Catatan |
|---|---|---|---|
| Kurs USD/IDR | Rp18.049/US$ | ▼ 0,45% | Rekor terlemah sepanjang sejarah |
| IHSG | 5.839,78 | ▼ 1,70% | Kembali ke level Juni 2017 |
| BI Rate | 5,25% | ▲ 25 bps | Naik untuk meredam tekanan rupiah |
| Harga Minyak Dunia | Tetap tinggi | - | Dipicu tensi geopolitik Timur Tengah |
| Arus Modal | Keluar (outflow) | - | Investor mencari aset aman |
| Intervensi Pemerintah | > Rp8 triliun | - | Pembelian SBN di pasar sekunder |
FAKTOR PENEKAN RUPIAH
| Faktor Global | Faktor Domestik |
|---|---|
| Ketegangan Timur Tengah | Permintaan dolar AS tinggi |
| Harga minyak dunia naik | Repatriasi dividen perusahaan |
| Penguatan dolar AS | Pembayaran utang luar negeri |
| Capital outflow dari emerging market | Sentimen pasar terhadap kebijakan pemerintah |
DAMPAK KE MASYARAKAT
| Sektor | Dampak Potensial |
|---|---|
| Kredit kendaraan | Cicilan berpotensi lebih mahal |
| Barang impor | Harga cenderung naik |
| Industri berbasis impor | Biaya produksi meningkat |
| Perjalanan luar negeri | Biaya perjalanan lebih tinggi |
| Pendidikan luar negeri | Pengeluaran bertambah |
| Daya beli masyarakat | Berpotensi melemah |
Editor : Aristono Edi Kiswantoro