Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kurs Rupiah Sentuh Rp18.000 per Dolar AS, Ini Penjelasan Pemerintah

U
Penulis: Uray Ronald❯
Airlangga Hartarto.
Airlangga Hartarto.

Advertisement

 

PONTIANAK POST – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Jumat (10/7), mata uang Garuda sempat menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Meski demikian, pemerintah menegaskan pelemahan rupiah tersebut lebih dipengaruhi gejolak eksternal dan tidak mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

Advertisement

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang positif.

"Sejumlah indikator ekonomi domestik masih menunjukkan kinerja yang kuat. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, sementara neraca perdagangan secara kumulatif sepanjang tahun masih membukukan surplus," ucap Airlangga Hartarto di Jakarta, Jumat (10/7).

Advertisement

Defisit Neraca Perdagangan Dipicu Lonjakan Harga BBM Impor

Airlangga mengakui neraca perdagangan sempat mencatat defisit dalam satu bulan terakhir. Namun, menurutnya, kondisi tersebut lebih disebabkan kenaikan harga impor bahan bakar minyak (BBM) akibat gejolak pasar energi global.

Di sisi lain, komoditas ekspor utama Indonesia dinilai masih menunjukkan kinerja yang stabil.

"Sementara ekspor kelapa sawit, batu bara, dan ferro alloy relatif stabil. Ini tentu akan terus kita jaga dalam beberapa bulan ke depan," ujarnya.

Inflasi Terkendali, Pemerintah Siapkan Stimulus Industri

Pemerintah juga menilai inflasi nasional masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.

Untuk menjaga daya saing industri di tengah tekanan global, pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus fiskal. Salah satunya melalui penghapusan bea masuk impor bahan baku plastik bagi industri kimia melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Advertisement

Artikel Terkait

Ekonom: B50 Berpotensi Perkuat Rupiah dan Neraca Perdagangan

Ekonom: B50 Berpotensi Perkuat Rupiah dan Neraca Perdagangan

Ekonom Permata Bank menilai B50 berpotensi memperkuat rupiah dan neraca perdagangan jika diterapkan dengan tata kelola yang baik.

Rupiah Melemah ke Rp17.931 per Dolar AS, Tekanan The Fed dan Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Rupiah Melemah ke Rp17.931 per Dolar AS, Tekanan The Fed dan Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Rupiah melemah ke level Rp17.931 per dolar AS di tengah kekhawatiran suku bunga tinggi The Fed.

Rupiah Tembus Penguatan 0,88 Persen ke Rp17.900, Efek Kenaikan BBM dan Suku Bunga BI Dorong Sentimen Pasar

Rupiah Tembus Penguatan 0,88 Persen ke Rp17.900, Efek Kenaikan BBM dan Suku Bunga BI Dorong Sentimen Pasar

Rupiah menguat terhadap dolar AS dipicu kebijakan BBM non-subsidi, kenaikan suku bunga BI, serta respons positif pasar.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer