PONTIANAK POST – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah tidak memiliki rencana mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Penegasan itu disampaikan menyusul beredarnya isu yang menyebut Purbaya akan mengundurkan diri dari jabatannya.
Menurut Prasetyo, pemerintah saat ini justru berfokus memperkuat koordinasi antarotoritas ekonomi guna menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.
"Saya kira tadi sore juga sudah disampaikan oleh beliau. Tidak ada, tidak ada rencana pergantian," kata Prasetyo dilansir Antara, Kamis (4/6).
Pemerintah Prioritaskan Sinergi Antarotoritas Ekonomi
Prasetyo mengatakan situasi ekonomi saat ini membutuhkan koordinasi yang kuat dan berkesinambungan antara berbagai lembaga strategis. Karena itu, pemerintah lebih mengutamakan penguatan sinergi dibanding membahas isu pergantian pejabat.
Ia menjelaskan komunikasi dan koordinasi terus dilakukan antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Baca Juga: Sanksi Sedang Dikaji, Menkeu Purbaya Telusuri 10 Perusahaan Sawit Diduga Misinvoicing
"Justru yang sekarang kita perlukan adalah saling koordinasi yang keras, yang intens antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan tentu di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," ujar Prasetyo.
Menurutnya, soliditas antarlembaga menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar, mengendalikan risiko ekonomi, serta memastikan berbagai program pemerintah berjalan sesuai target.
Bagi pelaku pasar, posisi Menteri Keuangan merupakan salah satu indikator penting dalam membaca arah kebijakan fiskal pemerintah. Karena itu, setiap isu pergantian pejabat ekonomi strategis berpotensi memengaruhi sentimen investor, terutama ketika ekonomi nasional sedang menghadapi tantangan global.
Belum Ada Agenda Reshuffle Menteri Keuangan
Prasetyo kembali menegaskan hingga saat ini pemerintah tidak memiliki agenda maupun pembahasan terkait pergantian Menteri Keuangan.
"Jadi, belum ada rencana ini," pungkasnya.
Pernyataan tersebut sekaligus merespons spekulasi yang berkembang di ruang publik terkait posisi Menteri Keuangan yang dinilai berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan dunia usaha.
Purbaya Bantah Isu Pengunduran Diri
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah lebih dahulu membantah kabar yang menyebut dirinya akan mengundurkan diri dari kabinet.
Saat dikonfirmasi mengenai isu tersebut, Purbaya memberikan jawaban singkat dan tegas.
"Tidak benar," kata Purbaya.
Rumor mengenai pengunduran diri Menkeu mencuat setelah Purbaya menghadiri Rapat Paripurna DPR RI terkait revisi Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
Bahkan, sejumlah nama sempat disebut sebagai calon pengganti, termasuk mantan Menteri Keuangan Chatib Basri dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.
Baca Juga: Makan Bergizi Gratis Dipangkas Jadi Rp268 Triliun, Menkeu Ungkap Alasan Efisiensi
Kepastian Dibutuhkan untuk Menjaga Kepercayaan Publik
Penegasan dari Istana dan Menteri Keuangan menjadi penting di tengah tingginya perhatian publik terhadap arah kebijakan ekonomi nasional. Kepastian mengenai keberlanjutan kepemimpinan di sektor keuangan dinilai dapat menjaga kepercayaan masyarakat, pelaku usaha, dan investor.
Di tengah dinamika ekonomi global, konsistensi kebijakan dan koordinasi antarotoritas ekonomi menjadi faktor yang terus diperhatikan oleh pasar.
Karena itu, pemerintah menegaskan fokus saat ini adalah memperkuat kerja sama lintas lembaga untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pasar Sedang Mencermati Arah Kebijakan Ekonomi
Isu pergantian menkeu ini muncul di tengah kondisi pasar yang masih sensitif terhadap berbagai kebijakan ekonomi pemerintah.
Kepastian kepemimpinan di sektor keuangan menjadi penting karena Indonesia sedang menghadapi sejumlah tantangan ekonomi.
Pada perdagangan Kamis (4/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan masih bergerak melemah, sementara nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi, minyak goreng, dan transportasi menjadi salah satu faktor pendorong inflasi.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Menkeu Purbaya Guyur Rp2 Triliun per Hari untuk Stabilisasi Pasar
Di sisi lain, survei ekonom yang dihimpun Reuters menunjukkan Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75 persen sepanjang 2026 untuk menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah.
Para ekonom memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di kisaran 5 persen, namun menghadapi tekanan dari pelemahan rupiah dan ketidakpastian global.
Karena itu, kepastian bahwa tidak ada pergantian Menteri Keuangan dinilai dapat membantu meredam spekulasi pasar dan menjaga fokus pemerintah pada penguatan koordinasi kebijakan ekonomi nasional.*
Editor : Uray Ronald