PONTIANAK POST - Rupiah bergerak di kisaran Rp18.000 per dolar AS. Situasi ini membuat banyak keluarga mulai mencari cara agar kondisi keuangan tetap aman di tengah ketidakpastian ekonomi.
Melemahnya rupiah berdampak pada kenaikan harga barang impor maupun produk yang bahan bakunya bergantung pada dolar Amerika Serikat. Mulai dari bahan pangan tertentu, susu, obat-obatan, elektronik, biaya pendidikan, hingga transportasi ikut terdampak.
Akibatnya, pengeluaran rumah tangga terus membengkak meski pola hidup tidak banyak berubah. Tidak sedikit keluarga yang merasa gaji hanya numpang lewat karena daya beli semakin menurun.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Pastikan Utang Pemerintah Tetap Aman
Langkah Awal yang Wajib Dilakukan
Financial planner Rista Zwestika menilai kondisi seperti ini menjadi momentum untuk mengevaluasi kesehatan keuangan keluarga.
’’Langkah pertama yang wajib dilakukan adalah melakukan financial check-up sederhana untuk mengetahui kondisi keuangan secara riil,’’ tutur Rista, dilansir dari Jawapos
Pemeriksaan tersebut mencakup total pemasukan keluarga, pengeluaran bulanan, cicilan yang masih berjalan, tabungan, dana darurat, hingga pengeluaran yang sebenarnya tidak wajib.
Baca Juga: Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, IHSG Kembali ke Level Sembilan Tahun Lalu
Menurut Rista, banyak orang merasa kondisi finansialnya masih aman, padahal arus kas sudah menunjukkan tanda bahaya.
’’Banyak orang merasa kondisi finansialnya masih aman, padahal cashflow sudah negatif. Situasi tersebut sering tidak disadari karena tertolong sementara oleh paylater atau kartu kredit,’’ ujarnya.
Waspadai Pengeluaran yang Tak Terlihat
Kondisi keuangan yang tampak baik di permukaan belum tentu benar-benar sehat. Karena itu, keluarga perlu memahami ke mana saja uang mengalir setiap bulan.
Dengan mengetahui kondisi keuangan secara riil, keluarga dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan menghindari masalah yang lebih besar ketika kondisi ekonomi semakin menantang. (*)
Editor : Chairunnisya