Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dolar AS Sentuh Rp18.000, BI Ungkap Dua Jurus Utama untuk Menahan Tekanan terhadap Rupiah

Miftahul Khair • Sabtu, 6 Juni 2026 | 14:52 WIB
ILUSTRASI Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta.
ILUSTRASI Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta.

PONTIANAK POST – Bank Indonesia (BI) dan pemerintah memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level Rp18.000.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan sinergi antara BI dan pemerintah selama ini berjalan erat dan akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan tersebut disampaikan Perry usai pertemuan bersama DPR dan Menteri Keuangan di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Jakarta, Sabtu, 6 Juni 2026.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun ke Rp2,759 Juta per Gram, Apakah Dolar AS Menguat Jadi Pemicunya?

“Kami tegaskan bahwa koordinasi fiskal dan moneter selama ini sangat-sangat erat. Bagaimana sama-sama menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Fokus Utama: Menjaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Menurut Perry, penguatan koordinasi fiskal dan moneter saat ini difokuskan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global.

Bank Indonesia dan pemerintah akan menjalankan peran masing-masing sesuai kewenangan untuk meredam tekanan terhadap mata uang nasional.

“Penguatan koordinasi fiskal moneter itu terus kita lakukan dan saat ini memang difokuskan bagaimana fiskal dan moneter seirama saling mendukung, saling memperkuat dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Baca Juga: Dolar AS Melejit, Wagub Krisantus Khawatir Harga Pangan Ikut Naik dan Bebani Masyarakat: Ini Langkah yang Disiapkan Pemprov Kalbar

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS dan tingginya suku bunga global yang memengaruhi pergerakan modal internasional.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat sejarah baru dengan menembus ambang psikologis Rp 18.000 per dolar AS awal Juni ini. Berdasarkan data pasar spot, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.049 per dolar AS akibat kombinasi tekanan eksternal dan domestik.

Jika dibandingkan dengan sesama negara berkembang (emerging markets), performa mata uang garuda mencatatkan rapor yang cukup merah. Tekanan dolar AS sebenarnya bersifat universal dan turut melemahkan mata uang regional seperti Peso Filipina, Baht Thailand, hingga Rupee India.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, rupiah dikategorikan sebagai salah satu aset dengan performa paling bawah di kelasnya. Ketika beberapa mata uang negara berkembang mulai menunjukkan sinyal pertahanan defensif, rupiah justru mengalami tekanan jual yang lebih agresif dari investor asing.

Sentimen negatif pasar kian dipertegas oleh faktor internal, menyusul langkah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mengesahkan perluasan mandat Bank Indonesia (BI). Mandat baru yang menuntut BI tidak hanya fokus pada stabilitas nilai tukar tetapi juga pada pertumbuhan sektor riil dan penciptaan lapangan kerja, memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait independensi bank sentral.

Akibatnya, terjadi arus modal keluar (capital outflow) yang cukup masif dari pasar saham dan obligasi domestik karena investor cenderung mendefinisikan ulang risiko investasi di Indonesia.

Baca Juga: Bank Indonesia Ungkap Proyeksi Ekonomi Kalbar pada 2026 Tumbuh hingga 6 Persen

Strategi Pertama: Menarik Kembali Aliran Modal Asing

Langkah pertama yang disepakati adalah meningkatkan daya tarik investasi portofolio agar aliran modal asing atau portfolio inflow kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Menurut Perry, kenaikan suku bunga di sejumlah negara membuat sebagian investor global memindahkan dananya dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Akibatnya, terjadi arus keluar modal atau outflow dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

“Yang pertama adalah meningkatkan daya tarik atau imbal hasil supaya portfolio inflow kembali masuk. Dengan kenaikan bunga luar negeri memang itu ada outflow, ada saham dan SBN,” katanya.

BI dan pemerintah berupaya meningkatkan daya tarik investasi domestik agar modal asing kembali masuk dan membantu memperkuat nilai tukar rupiah.

“Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” lanjut Perry.

Baca Juga: Wajah Donald Trump Akan Ada di Uang Kertas Pecahan 250 Dolar AS

Strategi Kedua: Menjaga Likuiditas Pasar dan Perbankan

Selain menarik modal asing, pemerintah dan BI juga fokus menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang serta sektor perbankan.

Langkah tersebut dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di Bank Indonesia.

“Nomor dua adalah sama-sama menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI. Tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah,” jelas Perry.

Menurutnya, kebijakan tersebut akan membantu efektivitas operasi moneter dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Baca Juga: Dolar Hampir Rp18.000, Pemerintah Pastikan Harga Pertalite dan Solar Subsidi Tak Naik

Dengan likuiditas yang tetap terjaga, pasar keuangan diharapkan mampu menghadapi tekanan eksternal tanpa mengganggu aktivitas ekonomi domestik.

BI Optimistis Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Meski menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS, Perry menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik.

Karena itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat secara berkelanjutan agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga.

“Penguatan koordinasi fiskal yang sudah kuat selama ini, sekarang diperkuat dan secara berkesinambungan terus akan diperkuat saling mendukung, saling memperkuat untuk sama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi, stabilitas makroekonomi sesuai dengan dinamika yang ada dengan keyakinan bahwa fundamental ekonomi kita itu bagus,” pungkasnya.

Pemerintah dan BI berharap kombinasi kebijakan tersebut mampu menjaga kepercayaan pasar sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga: Bapanas: Harga Beras SPHP Kalimantan Tetap Rp13.100 Meski Dolar AS Menguat

FAQ

Mengapa dolar AS menguat hingga Rp18.000?
Penguatan dolar dipengaruhi kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga tinggi di sejumlah negara, serta pergerakan modal internasional.

Apa langkah utama BI untuk menjaga rupiah?
BI fokus menarik kembali aliran modal asing dan menjaga kecukupan likuiditas pasar serta perbankan.

Apa itu portfolio inflow?
Portfolio inflow adalah masuknya dana investasi asing ke instrumen keuangan seperti saham dan obligasi.

Mengapa likuiditas penting bagi stabilitas rupiah?
Likuiditas yang cukup membantu menjaga stabilitas pasar keuangan dan mendukung efektivitas kebijakan moneter.

Bagaimana kondisi ekonomi Indonesia menurut BI?
BI menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat meski menghadapi tekanan eksternal dari penguatan dolar AS.

Editor : Miftahul Khair
#dolar as #bank indonesia #rupiah melemah #kebijakan moneter