Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Pertamina Akui Sudah Habis-habisan Tahan Harga Pertamax Tiga Bulan, Kali ini Terpaksa Naik Signifikan

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 10 Juni 2026 | 16:58 WIB
Mobil tangki Pertamina melakukan pengisian BBM di salah satu SPBU Pontianak, Kamis (19/3/2026), guna memastikan ketersediaan pasokan bagi masyarakat.
Mobil tangki Pertamina melakukan pengisian BBM di salah satu SPBU Pontianak, Kamis (19/3/2026), guna memastikan ketersediaan pasokan bagi masyarakat.

PONTIANAK POST – Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 ternyata bukan keputusan yang diambil secara mendadak. Pertamina Patra Niaga mengungkapkan pihaknya telah menahan harga BBM nonsubsidi selama hampir tiga bulan demi menjaga daya beli masyarakat dan mencegah lonjakan biaya produksi nasional.

Namun, meningkatnya biaya impor bahan bakar minyak akibat gejolak geopolitik global membuat kebijakan tersebut tidak bisa dipertahankan lebih lama.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengatakan perusahaan harus memastikan pasokan energi nasional tetap tersedia meski harga BBM di pasar internasional terus meningkat.

“Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” kata Sigit dalam Sarasehan Energi bertajuk Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Rabu (10/6/2026).

Pertamina Sempat Menahan Harga Sejak Maret

Sigit menjelaskan, sejak konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gejolak pasar energi global, harga BBM impor yang dibeli Pertamina terus mengalami kenaikan.

Meski demikian, Pertamina memilih tidak langsung menaikkan harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri. Langkah tersebut dilakukan karena pemerintah saat itu berupaya menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.

Menurutnya, kenaikan harga energi yang terlalu cepat dapat memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor usaha, yang pada akhirnya berdampak pada harga barang dan jasa yang dibayar masyarakat.

“Kalau biaya produksinya naik, akan berpengaruh ke harga jual produk yang dihasilkan,” ujarnya.

Jual Murah, Beli Mahal

Di balik kebijakan tersebut, Pertamina menghadapi tekanan yang tidak ringan. Perusahaan harus membeli BBM dari pasar internasional dengan harga yang terus meningkat, tetapi menjualnya kepada masyarakat dengan harga yang lebih rendah.

Kondisi itu membuat kemampuan perusahaan untuk mengimpor BBM dalam volume yang sama menjadi semakin terbatas.

“Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, terus kami jual di domestik harganya rendah,” kata Sigit.

Jika kondisi tersebut terus berlangsung, Pertamina khawatir pasokan energi nasional dapat terganggu, terutama ketika permintaan meningkat.

“Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini,” ujarnya.

Harga Pertamax Naik hingga Rp3.950 per Liter

Setelah melalui pembahasan bersama pemerintah, Pertamina akhirnya melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026.

Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau meningkat Rp3.950 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Meski demikian, Pertamina tetap mempertahankan harga sejumlah BBM nonsubsidi lainnya. Pertamax Turbo tetap dijual Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter.

Sementara itu, BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Kekhawatiran Masyarakat Mulai Muncul

Kenaikan harga Pertamax langsung menjadi perhatian masyarakat karena berpotensi menambah pengeluaran harian pengguna kendaraan pribadi.

Di berbagai daerah, sejumlah pengendara mulai mempertimbangkan beralih ke BBM bersubsidi seperti Pertalite untuk menekan biaya transportasi. Kondisi ini bahkan memunculkan antrean lebih panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi sebelumnya mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM berpotensi memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Menurutnya, pemerintah selalu dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga kesehatan fiskal dan melindungi daya beli masyarakat. Jika harga BBM naik, dampaknya tidak hanya dirasakan pengguna kendaraan, tetapi juga dapat merembet ke biaya produksi dan harga berbagai barang serta jasa.

“Kalau dinaikkan akan menyulut inflasi, daya beli (masyarakat) turun, dan sebagainya,” kata Fahmy dilansir ANTARA. Ia menilai konsumsi rumah tangga, terutama kelompok kelas menengah, masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi sehingga tekanan terhadap daya beli perlu diwaspadai.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi nasional relatif lebih terbatas dibanding kenaikan BBM bersubsidi. Sebab, Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang digunakan segmen masyarakat tertentu dan memiliki bobot lebih kecil dalam perhitungan inflasi nasional. Namun kenaikan harga hingga lebih dari 30 persen tetap berpotensi meningkatkan biaya transportasi, logistik, dan distribusi barang yang pada akhirnya dapat dirasakan konsumen.

Prioritas Utama: Pasokan Tetap Aman

Bagi Pertamina, penyesuaian harga dilakukan bukan semata-mata untuk menyesuaikan harga pasar internasional, melainkan untuk memastikan pasokan BBM nasional tetap tersedia.

Menurut Sigit, menjaga ketersediaan energi menjadi prioritas utama agar aktivitas masyarakat dan dunia usaha tidak terganggu di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Dengan kenaikan harga tersebut, Pertamina berharap keseimbangan antara keberlanjutan pasokan energi dan kebutuhan masyarakat dapat tetap terjaga. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#harga pertamax #kenaikan #Pertamina #bbm