PONTIANAK POST – Petani kelapa sawit rakyat menghadapi tekanan dari dua sisi sekaligus. Di tengah anjloknya harga tandan buah segar (TBS), kebun-kebun sawit rakyat kini mulai terancam serangan penyakit ganoderma yang dapat mematikan tanaman secara perlahan dan menurunkan produktivitas kebun.
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai kondisi tersebut berpotensi memperberat beban jutaan petani sawit yang menggantungkan penghasilan keluarga dari sektor perkebunan. Jika tidak segera ditangani, ancaman penyakit dan rendahnya harga jual TBS dikhawatirkan mengganggu keberlanjutan usaha perkebunan rakyat.
Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung, mengungkapkan penyebaran penyakit ganoderma mulai ditemukan di sejumlah sentra perkebunan sawit rakyat, termasuk di Kalimantan Timur.
Menurutnya, ganoderma merupakan penyakit berbahaya yang menyerang akar dan batang tanaman tanpa gejala yang mudah dikenali petani.
"Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin. Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat," ujarnya dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Jumat (19/06/2026).
Berbeda dengan serangan kumbang tanduk yang dapat terlihat secara langsung, infeksi ganoderma sering baru diketahui ketika tanaman sudah mengalami kerusakan parah.
Ancaman ganoderma bukan lagi persoalan terbatas di tingkat kebun. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang dipaparkan dalam Socfindo Conference on Practical Applications & Exhibition (SCOPEX) 2026, sekitar 4,9 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia diperkirakan telah terinfeksi ganoderma.
Sebaran tertinggi ditemukan di Sumatera dengan tingkat serangan mencapai 39–52 persen, disusul Kalimantan sekitar 19 persen, Sulawesi 10 persen, serta Maluku-Papua 9 persen. Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan jamur Ganoderma boninense tersebut bahkan dapat menurunkan produksi sawit hingga 50–80 persen dan memperpendek umur ekonomis tanaman sampai 50 persen.
Ketua DPW Apkasindo Kalimantan Timur, Betman Siahaan, menyebut Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang paling terdampak serangan ganoderma dan kumbang tanduk.
Ia menilai masih banyak petani yang belum memahami gejala awal penyakit tersebut sehingga penanganan sering terlambat dilakukan.
“Banyak petani mengira tanaman mati karena tersambar petir, padahal penyebab sebenarnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang,” ujarnya.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi petani rakyat yang umumnya memiliki keterbatasan akses terhadap pendampingan teknis dan teknologi pengendalian penyakit tanaman.
Di saat ancaman penyakit meningkat, petani juga dihadapkan pada penurunan harga TBS yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Gulat menjelaskan salah satu penyebab utama melemahnya harga adalah tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).
Menurutnya, ketika tender mengalami withdrawal atau gagal transaksi secara berulang, pasar kehilangan referensi harga yang selama ini menjadi acuan pembentukan harga TBS di tingkat petani.
Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat di Indonesia.
Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit memiliki ruang lebih besar dalam menentukan harga pembelian TBS.
Berdasarkan hasil rapat nasional Apkasindo, harga TBS di Kalimantan Timur yang sebelumnya berada di kisaran Rp3.000 per kilogram sempat turun hingga Rp1.200 per kilogram.
Pada level harga tersebut, sebagian besar pendapatan petani habis untuk biaya panen dan transportasi yang mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram.
“Keuntungan bersih petani hanya sekitar Rp200 per kilogram. Banyak petani akhirnya memilih menunda panen karena tidak lagi ekonomis,” kata Betman.
Bagi petani rakyat, kondisi ini tidak hanya mengurangi pendapatan harian, tetapi juga berpotensi mengganggu kemampuan mereka memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan anak, hingga melakukan perawatan kebun secara rutin.
Apkasindo mendesak pemerintah segera mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan tender KPBN berjalan normal agar tercipta transparansi harga yang lebih adil.
Asosiasi juga mendukung langkah pemerintah untuk menindak tegas pabrik kelapa sawit (PKS) yang membeli TBS petani di bawah harga kewajaran.
“Perusahaan yang sengaja menekan harga dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus ditindak tegas. Langkahnya bisa melalui pembentukan satgas hingga pencabutan izin usaha,” tegas Gulat.
Selain itu, Apkasindo mendorong penerapan satu harga TBS secara nasional serta percepatan pembentukan BUMN pengiriman CPO guna mengurangi praktik monopoli dalam tata niaga sawit.
Anjloknya harga sawit tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga pelaku usaha pengumpul atau RAM yang mengalami kerugian akibat stok sawit menumpuk saat harga turun mendadak.
Apkasindo Kalimantan Timur menilai sejumlah pabrik menerapkan pembatasan pembelian melalui sistem kuota meskipun harga CPO global tidak mengalami penurunan signifikan.
Kondisi tersebut dinilai memperpanjang tekanan terhadap rantai usaha sawit rakyat yang selama ini menjadi sumber penghidupan jutaan keluarga di berbagai daerah, termasuk Kalimantan. (ant)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro