Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Kementan Kenalkan Teknologi Ubah CPO Jadi Biosolar B100 di PENAS, Dukung Hilirisasi dan Transisi Energi

Uray Ronald • Senin, 22 Juni 2026 | 23:05 WIB
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry (kanan) memberi penjelasan kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman (dua dari kanan) terkait teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah (CPO) menjadi B100 di ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Sabtu (20/6/2026). (Antara/BRMP Kementan)
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Fadjry Djufry (kanan) memberi penjelasan kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman (dua dari kanan) terkait teknologi bioreaktor yang mampu mengubah minyak sawit mentah (CPO) menjadi B100 di ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, Sabtu (20/6/2026). (Antara/BRMP Kementan)

 

PONTIANAK POST – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan teknologi B100 berbasis minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dalam ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo. Inovasi berupa bioreaktor tersebut ditampilkan melalui Warehouse Hilirisasi Perkebunan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan.

Teknologi yang diperkenalkan oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan serta Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian itu mampu mengubah CPO menjadi biosolar B100 atau bahan bakar nabati 100 persen. 

Kepala BRMP, Fadjry Djufry, mengatakan inovasi tersebut menjadi langkah strategis dalam mendukung transisi energi berbasis sumber daya domestik.

"Inovasi ini merupakan langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," katanya dilansir Antara, Senin (22/6).

Baca Juga: Setop Impor Solar: B50 Mulai Berlaku 1 Juli, Pemerintah Bidik Penghematan Devisa Rp157 Triliun

Menurut dia, pengembangan teknologi hilirisasi perkebunan merupakan bagian dari upaya memperkuat kemandirian sektor pertanian Indonesia di tengah tantangan energi dan pangan yang terus berkembang.

Modernisasi pertanian, lanjutnya, tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Pemanfaatan teknologi dan hilirisasi dinilai penting agar komoditas perkebunan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. 

"Inovasi seperti bioreaktor CPO menjadi B100 adalah contoh nyata bagaimana riset dan teknologi dapat menjawab kebutuhan energi nasional,” ujar Fadjry Djufry.

Kehadiran Warehouse Hilirisasi Perkebunan dalam PENAS XVII tidak hanya menjadi sarana pameran teknologi. Kementan menargetkan inovasi tersebut dapat diterapkan secara nyata oleh petani dan pelaku usaha di berbagai daerah.

"Melalui Gelar Teknologi ini, kami ingin memastikan bahwa inovasi tidak berhenti di laboratorium atau pameran, tetapi benar-benar sampai dan dapat diadopsi oleh petani di lapangan. Hilirisasi harus menjadi gerakan bersama agar perkebunan kita semakin berdaya saing dan berkelanjutan," katanya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi petani yang selama ini lebih banyak berperan sebagai produsen bahan baku. Melalui hilirisasi, komoditas perkebunan diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah yang memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.

Sebelum pembukaan resmi PENAS XVII oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meninjau sejumlah stan Gelar Teknologi yang dipamerkan pada Sabtu (20/6).

Salah satu yang menjadi perhatian adalah Warehouse Hilirisasi Perkebunan yang menampilkan teknologi pengolahan biosolar B100 berbahan baku CPO. Selain itu, dipamerkan pula teknologi produksi Virgin Coconut Oil (VCO) menggunakan metode kering yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

Warehouse Hilirisasi Perkebunan juga menampilkan berbagai produk turunan komoditas perkebunan yang mendukung program pangan bergizi dan pencegahan stunting.

Produk yang dipamerkan antara lain Minyak Makan Merah, Oleofood Sawit, Jamur Sawit, Gula Merah Sawit, serta berbagai produk pangan berbasis sawit yang kaya Vitamin A dan Vitamin E.

Keberadaan produk-produk tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan energi terbarukan. Pengembangan industri berbasis perkebunan juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat.

Baca Juga: B50 Kini Diuji Coba di Kereta Api: Siap-siap, Revolusi Energi Indonesia Dimulai Juli

Sejumlah pengunjung menilai teknologi bioreaktor CPO menjadi gambaran konkret tentang peran sektor perkebunan dalam mendukung ketahanan energi nasional.

Selain memperkenalkan B100, pameran tersebut juga memberikan edukasi mengenai pengembangan biodiesel bertahap seperti B35 hingga B50. 

Dalam kebijakan yang dijalankan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pemerintah telah mendorong implementasi biodiesel bertahap seperti B35, serta peta jalan menuju B40 hingga B50 sebagai bagian dari strategi transisi energi. 

Kementan menilai teknologi B100 dapat menjadi penguat hilir dari kebijakan tersebut, terutama dalam memperluas sumber energi berbasis sawit domestik.

PENAS XVII yang berlangsung pada 20–25 Juni 2026 di kawasan GORR David-Tony, Desa Hepu Hulawa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, menjadi ajang temu karya, inovasi, kemitraan, dan kolaborasi antara petani, nelayan, penyuluh pertanian, pemerintah, akademisi, serta pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.*

Editor : Uray Ronald
#CPO jadi B100 #bioreaktor sawit #hilirisasi perkebunan #bauran energi ESDM #PENAS XVII