Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Pengguna Diesel Lama Perlu Adaptasi Jelang Implementasi Biodiesel B50, Ini yang Harus Disiapkan

Uray Ronald • Senin, 22 Juni 2026 | 23:38 WIB
Kendaraan yang digunakan untuk uji jalan B50 yang terparkir di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 Lembang, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). (Antara)
Kendaraan yang digunakan untuk uji jalan B50 yang terparkir di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 Lembang, Jawa Barat, Selasa (21/4/2026). (Antara)

 

PONTIANAK POST — Rencana penerapan bahan bakar biodiesel B50 secara bertahap menuntut kesiapan tidak hanya dari sisi pasokan energi nasional, tetapi juga dari jutaan pemilik kendaraan diesel, khususnya generasi lama. Sejumlah komponen kendaraan lawas dinilai perlu mendapatkan perhatian khusus agar transisi menuju penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi berjalan lancar.

Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengatakan kendaraan diesel yang saat ini beredar pada dasarnya dapat menggunakan B50.

Namun, karakteristik biodiesel yang berbeda dari solar konvensional membuat beberapa komponen kendaraan lama lebih rentan mengalami penurunan kualitas.

Komponen Kendaraan Lama Perlu Penyesuaian

Menurut Yannes, kendaraan diesel dengan sistem injeksi mekanis memerlukan perhatian lebih selama masa transisi menuju penggunaan B50. Komponen berbahan karet menjadi bagian yang paling perlu diawasi.

“Secara teknis, kendaraan diesel lama dengan injeksi mekanis memerlukan perhatian khusus," kata Yannes kepada Antara, Senin (22/6).

Baca Juga: Setop Impor Solar: B50 Mulai Berlaku 1 Juli, Pemerintah Bidik Penghematan Devisa Rp157 Triliun

Selang dan Seal Berpotensi Lebih Cepat Aus

Yannes menjelaskan sifat pelarut pada biodiesel B50 lebih kuat dibandingkan solar konvensional. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat degradasi komponen seperti selang karet, seal, dan gasket pada kendaraan yang telah berusia tua.

Karena itu, pemilik kendaraan disarankan mengikuti rekomendasi perawatan dari bengkel resmi serta melakukan pemeriksaan berkala terhadap komponen yang bersentuhan langsung dengan bahan bakar.

Kualitas Distribusi dan Edukasi Jadi Kunci

Selain kesiapan kendaraan, keberhasilan implementasi B50 juga bergantung pada kualitas distribusi bahan bakar. Pemerintah dan pelaku industri energi dinilai perlu memastikan mutu biodiesel tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.

Yannes mengingatkan biodiesel memiliki sifat higroskopis, yaitu mudah menyerap air dari lingkungan. Jika penyimpanan tidak dilakukan dengan baik, kualitas bahan bakar berpotensi menurun dan memengaruhi kinerja mesin.

SPBU Perlu Menjaga Kualitas Penyimpanan

Pengelola SPBU diminta memastikan tangki penyimpanan terlindungi dari kelembapan berlebih. Langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas mutu biodiesel selama proses distribusi.

Di sisi lain, mekanik bengkel dan pemilik kendaraan juga perlu mendapatkan edukasi mengenai karakteristik B50. Sosialisasi sejak awal dinilai mampu mengurangi risiko kerusakan akibat kesalahan perawatan.

Perawatan Kendaraan Perlu Lebih Disiplin

Dalam masa transisi menuju B50, pemilik kendaraan diesel lama disarankan meningkatkan disiplin perawatan. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah mempercepat interval penggantian filter solar.

Menurut Yannes, biodiesel memiliki kemampuan membersihkan endapan yang selama ini menempel pada sistem bahan bakar. Akibatnya, filter berpotensi lebih cepat kotor pada tahap awal penggunaan.

Pemahaman Pengguna Menentukan Keberhasilan Transisi

Edukasi mengenai karakteristik bahan bakar baru menjadi faktor penting agar pengguna dapat mengantisipasi kebutuhan perawatan kendaraan sejak dini. Dengan pemahaman yang baik, manfaat biodiesel dapat diperoleh tanpa mengganggu aktivitas operasional kendaraan.

“Pemahaman yang baik mengenai karakteristik bahan bakar baru dapat membantu pengguna mengantisipasi kebutuhan perawatan kendaraan,” ujarnya.

Baca Juga: Kementan Kenalkan Teknologi Ubah CPO Jadi Biosolar B100 di PENAS, Dukung Hilirisasi dan Transisi Energi

B50 Dinilai Mampu Menjaga Stabilitas Pasokan Energi

Di luar tantangan teknis, implementasi B50 dinilai memiliki manfaat strategis bagi sektor transportasi dan logistik nasional. Penggunaan campuran biodiesel yang lebih tinggi berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Bagi pelaku usaha logistik yang masih banyak mengoperasikan armada diesel konvensional, stabilitas pasokan bahan bakar menjadi faktor penting dalam menjaga kelangsungan bisnis.

Yannes menilai ketersediaan B50 dapat membantu menjaga kestabilan pasokan bahan bakar di pasar domestik. Kondisi tersebut berpotensi membuat biaya operasional usaha lebih terkendali.

“B50 menjamin stabilitas pasokan bahan bakar di pasaran sehingga biaya operasional logistik tetap ekonomis dan perputaran bisnis terjaga, asalkan pengguna lebih disiplin melakukan perawatan seperti mengganti filter solar,” katanya.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan bahwa penerapan B50 berpotensi membuat Indonesia tidak lagi mengimpor solar pada 2026 karena kebutuhan bahan bakar diesel dapat dipenuhi melalui kombinasi produksi dalam negeri dan campuran biodiesel berbasis sawit.

Dari sisi ekonomi, pemerintah memperkirakan program B50 dapat menghemat biaya impor energi hingga sekitar Rp157,28 triliun pada 2026. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan skenario penerapan B40 sepanjang tahun yang diperkirakan menghemat Rp139,8 triliun.

Selain memperkuat ketahanan energi nasional, penghematan devisa tersebut dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasokan bahan bakar bagi sektor logistik dan transportasi.

Diesel Modern Berpotensi Hasilkan Emisi Lebih Bersih

Sementara itu, manfaat berbeda diperkirakan dirasakan pengguna kendaraan diesel modern yang telah menggunakan teknologi common rail. Pada kelompok kendaraan ini, penggunaan B50 berpotensi memberikan dampak positif terhadap kualitas emisi gas buang.

Menurut Yannes, pembakaran biodiesel yang lebih baik dapat membantu mengurangi produksi jelaga hitam yang selama ini menjadi salah satu karakteristik kendaraan diesel.

Baca Juga: B50 Kini Diuji Coba di Kereta Api: Siap-siap, Revolusi Energi Indonesia Dimulai Juli

Mengurangi Kepulan Asap Hitam

“Bagi pengguna diesel modern berteknologi common rail, manfaat terbesar B50 adalah berkurangnya kepulan jelaga hitam pekat pada gas buang,” ujar Yannes.

Dengan kesiapan kendaraan, kualitas distribusi yang terjaga, serta edukasi yang memadai kepada masyarakat, implementasi biodiesel B50 diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan.*

Editor : Uray Ronald
#kendaraan diesel lama #bahan bakar biodiesel #implementasi B50 #biodiesel B50 #b50