PONTIANAK POST — Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengungkapkan sektor keuangan, perdagangan besar, dan manufaktur menjadi tiga bidang usaha yang paling banyak menyerap peserta Program Magang Nasional (MagangHub) 2025. Temuan ini mencerminkan tingginya kebutuhan tenaga kerja dan pengembangan talenta muda di sektor-sektor strategis tersebut.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan data tersebut diperoleh dari evaluasi sementara Program Magang Nasional 2025 yang melibatkan puluhan ribu peserta dan ribuan perusahaan di seluruh Indonesia.
Sektor Keuangan Pimpin Penyerapan Peserta Magang
Berdasarkan hasil survei, sektor keuangan menjadi penyerap peserta magang terbesar dengan total 2.559 peserta. Posisi berikutnya ditempati sektor perdagangan besar (wholesale trade) yang merekrut 1.759 peserta, disusul sektor manufaktur sebanyak 1.501 peserta.
Menurut Yassierli, angka tersebut memberikan gambaran mengenai kebutuhan tenaga kerja yang sedang berkembang di pasar kerja nasional.
“Ini menunjukkan demand yang ada saat ini dan menggambarkan bahwa sektor-sektor tersebut merupakan yang paling tinggi dalam merekrut peserta magang,” kata Yassierli dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/6).
Cerminan Kebutuhan Dunia Kerja
Tingginya serapan peserta di tiga sektor tersebut menunjukkan perusahaan semakin memanfaatkan program magang sebagai jalur pencarian dan pengembangan calon tenaga kerja. Selain memperoleh pengalaman praktis, peserta juga memiliki peluang lebih besar untuk direkrut setelah program selesai.
Survei Libatkan Lebih dari 65 Ribu Peserta
Evaluasi sementara Program Magang Nasional 2025 dilakukan terhadap 65.245 peserta magang dan 7.217 perusahaan penyelenggara pada batch pertama dan kedua.
Hasil survei menunjukkan program magang tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga membuka peluang masuk ke dunia kerja formal.
Sebanyak 30 persen peserta mengaku mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan tempat mereka menjalani magang. Dari jumlah tersebut, 17,11 persen menerima tawaran kerja, sedangkan 12,58 persen memilih menolak karena telah mendapatkan pekerjaan di tempat lain.
Sementara itu, 33,05 persen peserta menyebut belum menerima tawaran resmi tetapi melihat adanya peluang direkrut. Adapun 37,26 persen lainnya mengaku tidak mendapatkan tawaran kerja hingga masa magang berakhir.
Data tersebut menunjukkan bahwa program magang mulai berfungsi sebagai jembatan transisi dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.
Tingkat Kepuasan Peserta Mencapai 84 Persen
Program Magang Nasional juga memperoleh penilaian positif dari para peserta. Hasil survei mencatat 84 persen peserta merasa puas dan sangat puas terhadap pengalaman yang mereka peroleh selama mengikuti program.
Sebanyak 15 persen peserta menyatakan cukup puas, sedangkan hanya 0,71 persen yang mengaku tidak puas.
Selain meningkatkan keterampilan kerja, program ini dinilai memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi peserta. Sebanyak 67 persen responden menyatakan program magang membantu kondisi ekonomi mereka maupun keluarga.
Sebanyak 30,45 persen lainnya menyebut program tersebut cukup membantu, sementara hanya 2,42 persen yang merasa dampaknya tidak signifikan.
Perusahaan Puas dengan Kontribusi Peserta
Penilaian positif juga datang dari pihak perusahaan dan mentor. Sebanyak 84 persen mentor dan perusahaan menyatakan puas hingga sangat puas terhadap kontribusi peserta magang selama program berlangsung.
Sementara itu, 15,42 persen menyatakan cukup puas dan hanya 0,45 persen yang mengaku tidak puas.
Sebanyak 66 persen mentor menilai peserta mengalami peningkatan kompetensi teknis yang signifikan selama masa magang. Temuan tersebut menunjukkan program tidak hanya memberikan pengalaman kerja, tetapi juga meningkatkan kesiapan peserta menghadapi kebutuhan industri.
Data BPS menunjukkan pengangguran usia muda masih mendominasi struktur pengangguran nasional, dengan TPT (tingkat pengangguran terbuka) Februari 2025 berada di level 4,82 persen.
Kelompok usia 15–24 tahun serta lulusan baru dari SMA dan perguruan tinggi masih menghadapi tantangan transisi ke pasar kerja, sehingga program magang nasional menjadi salah satu instrumen penting untuk menekan kesenjangan antara dunia pendidikan dan industri.
Diikuti Lebih dari 102 Ribu Peserta dari Seluruh Indonesia
Program Magang Nasional 2025 diikuti oleh 102,6 ribu peserta yang lolos dari total 370,5 ribu pendaftar. Sebanyak 8.048 perusahaan dan instansi menjadi mitra penyelenggara di berbagai daerah.
Program berlangsung selama enam bulan dalam tiga gelombang pelaksanaan, yaitu Oktober 2025–April 2026, November 2025–Mei 2026, dan Desember 2025–Juni 2026.
Selain pengalaman kerja, peserta memperoleh uang saku setara upah minimum, perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), pendampingan mentor profesional, serta sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Fasilitas tersebut dirancang untuk memastikan peserta memperoleh pengalaman magang yang aman, terstruktur, dan relevan dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Paradoks Kalbar: Sumber Daya Alam Melimpah tetapi Pengangguran Naik, Ini dari Data BPS
Pemerintah Buka Angkatan Kedua Tahun 2026
Melihat tingginya minat dan hasil evaluasi yang positif, pemerintah resmi membuka Program Magang Nasional angkatan kedua tahun 2026. Jadwal pelaksanaan akan diumumkan dalam waktu dekat dan ditargetkan mulai berjalan pada Juli 2026.
Program ini diharapkan terus menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk memperoleh pengalaman kerja, meningkatkan kompetensi, serta memperbesar peluang mendapatkan pekerjaan di tengah persaingan pasar tenaga kerja yang semakin ketat.*
Editor : Uray Ronald