Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Rupiah Melemah ke Rp17.931 per Dolar AS, Tekanan The Fed dan Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Basilius Andreas Gas • Rabu, 24 Juni 2026 | 11:18 WIB
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta. (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)

PONTIANAK POST- Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Rabu pagi setelah melemah signifikan di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat melemah 72 poin atau 0,40 persen menjadi Rp17.931 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.859 per dolar AS.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sentimen global yang cenderung menghindari risiko (risk off), seiring ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang berlanjut hingga 2026.

“Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah sentimen risk off global yang kuat oleh kekhawatiran tingkat suku bunga tinggi,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Mengutip Anadolu, The Fed diproyeksikan masih mempertahankan kebijakan moneter ketat sepanjang 2026. Ekspektasi pengetatan tersebut mendorong peningkatan risiko di pasar keuangan global.

Dalam proyeksi terbarunya, The Fed menaikkan perkiraan suku bunga dana federal menjadi 3,8 persen pada akhir 2026, dari sebelumnya 3,4 persen. Untuk 2027, proyeksi juga dinaikkan menjadi 3,6 persen dari 3,1 persen, sementara estimasi jangka panjang tetap di level 3,1 persen.

Meski demikian, Lukman menilai terdapat sentimen penyeimbang dari keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori emerging market.

Menurutnya, keputusan tersebut memberikan dukungan bagi stabilitas rupiah karena mencerminkan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia, likuiditas pasar, serta keberhasilan reformasi pasar modal.

“Dari laporan MSCI, pertimbangan utamanya adalah fundamental ekonomi yang kuat, likuiditas serta kapitalisasi pasar yang memadai, dan keberhasilan reformasi pasar modal oleh otoritas yang berhasil meyakinkan investor institusi,” ujar Lukman. (ant)

 

Editor : Basilius Andreas Gas
#the fed #dolar as #suku bunga #rupiah