Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Negara Amerika Latin Mulai Tanam Durian, Bernilai Ekonomi Tinggi dan Bermanfaat untuk Perbaikan Iklim

Aristono Edi Kiswantoro • Senin, 29 Juni 2026 | 22:27 WIB
PANEN DURIAN: Seorang petani menunjukkan hasil panen durian dari kebun budidaya di Venezuela. Negara di Amerika Selatan tersebut mulai mengembangkan durian, buah yang berasal dari Asia Tenggara, sebagai komoditas bernilai ekonomi sekaligus bagian dari upaya rehabilitasi lahan terdegradasi dan mitigasi perubahan iklim. (turimiquire.org)
PANEN DURIAN: Seorang petani menunjukkan hasil panen durian dari kebun budidaya di Venezuela. Negara di Amerika Selatan tersebut mulai mengembangkan durian, buah yang berasal dari Asia Tenggara, sebagai komoditas bernilai ekonomi sekaligus bagian dari upaya rehabilitasi lahan terdegradasi dan mitigasi perubahan iklim. (turimiquire.org)

PONTIANAK POST - Venezuela memilih jalan yang tidak biasa dalam menghadapi kerusakan lingkungan dan krisis ekonomi di pedesaan. Negara di Amerika Selatan itu mulai membudidayakan durian, buah yang identik dengan Asia Tenggara, sebagai tanaman permanen untuk merehabilitasi lahan terdegradasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Melalui The Foundation's Durian Project, Venezuela menjadi salah satu negara di Amerika Latin yang merintis budidaya durian secara komersial meski sebelumnya tidak memiliki sejarah menanam "Raja Buah" tersebut. Pohon-pohon durian yang ditanam kini dilaporkan telah berproduksi dan menunjukkan kemampuan beradaptasi di kawasan tropis Amerika Selatan.

Dari Lahan Gundul Menjadi Hutan Durian

Dilansir dari lembaga nirlaba, Turimiquire Foundation, proyek tersebut dilatarbelakangi kekhawatiran terhadap praktik pertanian tebang-bakar dan pembukaan lahan untuk peternakan yang selama bertahun-tahun menyebabkan deforestasi dan erosi di berbagai wilayah Venezuela.

Sebagai solusi, para penggagas proyek mendorong petani mengubah lahan yang sudah terlanjur terbuka menjadi kebun durian permanen. Pohon durian dipilih karena mampu membentuk tutupan vegetasi jangka panjang, memperbaiki struktur tanah, serta membantu menyerap karbon dari atmosfer.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), penanaman pohon tahunan di lahan terdegradasi dapat meningkatkan penyimpanan karbon di biomassa dan tanah sekaligus menekan laju erosi. Sistem perakaran pohon yang permanen membantu mengikat tanah, meningkatkan infiltrasi air, dan mengurangi risiko degradasi lahan yang umumnya terjadi pada pertanian tebang-bakar.

Menurut pengelola proyek, pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang mendorong pemulihan lahan terdegradasi melalui penanaman pohon dan praktik pertanian berkelanjutan.

Buah Asia Tenggara yang Beradaptasi di Amerika Selatan

DURIAN BERBUAH: Buah durian tampak menggantung di salah satu pohon budidaya di Venezuela. Keberhasilan durian asal Asia Tenggara berbuah di Amerika Selatan menjadi bagian dari proyek pengembangan hutan durian permanen untuk memulihkan lahan terdegradasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani setempat. (turimiquire.org)
DURIAN BERBUAH: Buah durian tampak menggantung di salah satu pohon budidaya di Venezuela. Keberhasilan durian asal Asia Tenggara berbuah di Amerika Selatan menjadi bagian dari proyek pengembangan hutan durian permanen untuk memulihkan lahan terdegradasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani setempat. (turimiquire.org)

Durian selama ini dikenal sebagai tanaman asli Asia Tenggara dan menjadi bagian dari identitas kuliner negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Namun, percobaan di Venezuela menunjukkan bahwa durian ternyata dapat tumbuh di iklim tropis Amerika Latin.

Hingga Desember 2025, proyek tersebut mencatat lebih dari 166 pohon durian telah ditanam di wilayah timur dan barat Venezuela. Selain itu, lebih dari 140 bibit durian masih berada di pembibitan dan direncanakan ditanam pada 2026.

Secara klimatologis, sejumlah wilayah tropis di Venezuela memiliki suhu rata-rata 25-28 derajat Celsius dan curah hujan 1.000-2.000 milimeter per tahun. Karakter tersebut mendekati kondisi sentra durian di Asia Tenggara, sehingga memberikan peluang bagi tanaman durian untuk tumbuh dan berproduksi di Amerika Selatan.

Harapan Baru bagi Petani Desa

Bagi masyarakat pedesaan Venezuela, durian bukan hanya tanaman konservasi. Buah ini juga dipandang sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi.

Menurut pengelola proyek, satu buah durian di Venezuela dapat dijual antara US$25 hingga US$80 atau sekitar Rp400 ribu hingga Rp1,3 juta, tergantung ukuran dan lokasi penjualan. Nilai tersebut setara lebih dari seminggu pendapatan pekerja pedesaan di beberapa wilayah negara itu.

Pohon durian yang masih muda diperkirakan mampu menghasilkan lebih dari 50 buah per tahun. Sementara pohon yang telah matang dapat menghasilkan lebih dari 500 buah setiap tahun.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah petani dan campesinos atau petani kecil di Venezuela mulai menanam, merawat, dan memanen durian sebagai sumber penghasilan baru.

"Petani berpenghasilan rendah dan campesinos yang terlibat dalam program tersebut mulai menanam, merawat, dan memanen durian sebagai sumber pendapatan baru. Mereka secara proaktif menerima durian sebagai komoditas bernilai ekonomi yang membantu memenuhi kebutuhan keluarga," tulis Turimiquire Foundation.

EDUKASI PEMBIBITAN DURIAN: Sejumlah anak muda mengikuti kegiatan edukasi pembibitan durian di Venezuela. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budidaya durian kepada generasi muda sekaligus mendorong rehabilitasi lahan terdegradasi dan pengembangan ekonomi hijau berbasis pertanian berkelanjutan. (turimiquire.org)
EDUKASI PEMBIBITAN DURIAN: Sejumlah anak muda mengikuti kegiatan edukasi pembibitan durian di Venezuela. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan budidaya durian kepada generasi muda sekaligus mendorong rehabilitasi lahan terdegradasi dan pengembangan ekonomi hijau berbasis pertanian berkelanjutan. (turimiquire.org) 

Durian dan Masa Depan Ekonomi Hijau

Permintaan global terhadap durian terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah lembaga riset memperkirakan nilai pasar durian dunia pada 2026 telah mencapai sekitar US$30 miliar hingga US$33,5 miliar, didorong oleh meningkatnya konsumsi buah eksotis, ekspansi rantai dingin, serta meluasnya pasar durian di luar Asia Tenggara.

Saat ini, pasar di Amerika Utara dan Amerika Latin masih bergantung pada pasokan durian dari Asia Tenggara. Venezuela melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk ikut masuk ke rantai pasok global pada masa depan.

Bagi negara yang masih berupaya bangkit dari krisis ekonomi berkepanjangan, menanam durian menjadi lebih dari sekadar eksperimen pertanian. Di Venezuela, "Raja Buah" dari Asia Tenggara kini mulai dipandang sebagai simbol pemulihan lingkungan dan harapan baru bagi kehidupan petani desa. (ars)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#durian di Venezuela #budidaya durian di Amerika Selatan #perubahan iklim dan reforestasi #petani tropis dan ekonomi hijau #hutan durian penyerap karbon