PONTIANAK POST – Para pencinta durian di Malaysia dan Singapura sedang menikmati musim panen yang tak biasa. Melimpahnya pasokan durian, terutama varietas premium Musang King, membuat harga anjlok drastis hingga 90 persen. Bahkan, sebagian pedagang membagikan durian secara gratis.
Di Singapura, yang seluruh pasokan duriannya diimpor dari Malaysia, harga Musang King kini sekitar SGD 20 atau setara Rp250 ribu per kilogram. Pada Maret lalu, harganya masih mencapai SGD 28 per kilogram. Sejumlah pedagang bahkan menjual durian berukuran kecil atau berkualitas lebih rendah mulai SGD 8 per kilogram.
Pemilik kebun durian di Bentong dan Raub, Malaysia, Stephen Chow, mengatakan durian berkualitas ekspor masih dijual di kisaran RM30-RM40 per kilogram. Namun, penurunan harga paling tajam terjadi pada buah Grade C dan ukuran kecil.
Fenomena yang dijuluki “tsunami” durian ini dipicu musim panen raya yang berlangsung hampir bersamaan di Perak, Penang, Johor, dan Pahang. Pasokan yang melimpah membanjiri pasar domestik dan diperkirakan berlangsung hingga Agustus.
Di sejumlah kota di Malaysia, harga Musang King dilaporkan merosot hingga sekitar RM9 per kilogram. Angka itu jauh di bawah harga normal yang pernah menyentuh RM90 per kilogram.
“Biasanya saya pikir-pikir dulu sebelum membeli Musang King. Sekarang saya bisa membelinya dalam jumlah banyak dan menyimpannya,” kata warga Kuala Lumpur, Lim Mei Ling, kepada The Star.
Presiden Durian Manufacturers Association Malaysia Eric Chan mengatakan, anjloknya harga dipicu banyaknya buah yang gagal memenuhi standar ekspor ke Tiongkok. Durian yang tidak lolos seleksi akhirnya dilepas ke pasar domestik.
“Selama 10 tahun harga terus naik. Kini industri memasuki fase restrukturisasi dan konsolidasi karena pasokan semakin besar,” ujarnya.
Semua Varietas Premium Turun
Tak hanya Musang King, varietas premium lain juga ikut mengalami penurunan harga. Black Thorn dijual sekitar SGD12-SGD33 per kilogram, sedangkan D24 dan Red Prawn berkisar SGD10-SGD12 per kilogram.
Kondisi itu memicu antusiasme warga Singapura berburu durian. Antrean panjang terjadi setiap hari di Gerai Durian Ninja di kawasan Tampines. Toko tersebut bahkan membagikan dua buah durian gratis kepada setiap pelanggan dan telah membagikan sekitar 600 kilogram durian per hari sejak pertengahan Juni.
Warga Singapura bernama Cherng mengaku hampir setiap hari menikmati durian selama musim panen kali ini.
“Ini kesempatan langka menikmati durian berkualitas dengan harga hampir separuh dibanding musim sebelumnya,” kata pria 69 tahun itu kepada BBC.
Di balik kegembiraan para pencinta durian, para petani justru menghadapi tekanan. Ledakan produksi kali ini merupakan dampak investasi besar-besaran sekitar satu dekade lalu ketika permintaan Musang King dari Tiongkok melonjak. Banyak petani mengganti kebun karet dan kelapa sawit menjadi kebun durian.
Pohon-pohon yang ditanam antara 2015 hingga 2020 kini memasuki masa produktif secara bersamaan sehingga pasokan membludak.
Petani durian di Johor, Han Sing Keng, mengatakan sebagian besar durian yang membanjiri pasar domestik merupakan hasil panen yang tidak memenuhi standar ekspor.
“Mereka tidak punya pilihan selain menjualnya di pasar lokal. Namanya tetap Musang King, tetapi kualitasnya tidak memenuhi standar ekspor,” ujarnya. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro