Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

B50 Dinilai Hanya Strategi Transisi, Berpotensi Berdampak pada Lonjakan Harga Pangan

Aristono Edi Kiswantoro • Kamis, 2 Juli 2026 | 23:00 WIB
KETAHANAN ENERGI: Pengisian biodiesel B50 ke tangki kereta api saat uji coba di Yogyakarta. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi berbasis sawit dalam negeri. (Kementerian ESDM)
KETAHANAN ENERGI: Pengisian biodiesel B50 ke tangki kereta api saat uji coba di Yogyakarta. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi berbasis sawit dalam negeri. (Kementerian ESDM)

PONTIANAK POST – Penerapan mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli diminta tidak dipandang sebagai solusi utama ketahanan energi nasional. Kebijakan tersebut dinilai hanya tepat sebagai strategi transisi jangka pendek untuk menekan impor solar, karena berpotensi memengaruhi pasokan bahan baku pangan dan harga kebutuhan pokok.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan implementasi B50 perlu dievaluasi secara menyeluruh karena dampaknya meluas hingga ke sektor pangan, pertanian, dan lingkungan.

"Efeknya berpengaruh terhadap biaya, pasokan bahan baku, harga pangan, petani kecil, dan lingkungan," ujar Fabby, Rabu (2/7).

Kebutuhan CPO Diperkirakan Meningkat

B50 merupakan bahan bakar campuran yang digunakan pada seluruh sektor berbasis mesin diesel, mulai dari kendaraan pribadi, angkutan barang, bus, kereta api, hingga alat berat.

Menurut Fabby, percepatan penerapan B50 lahir ketika krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz pada akhir Februari memicu lonjakan harga minyak dunia dan mengganggu impor minyak Indonesia. Namun, kondisi tersebut kini dinilai telah berubah sehingga dasar ekonomi penerapan B50 perlu dikaji ulang.

IESR mengingatkan, peningkatan mandatori biodiesel akan meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Kondisi ini berpotensi mengurangi pasokan bahan baku industri pangan, mendorong kenaikan harga minyak goreng, meningkatkan tekanan inflasi, dan berdampak pada kesejahteraan petani kecil apabila tata kelola sektor sawit tidak diperkuat.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) untuk program biodiesel diperkirakan meningkat dari sekitar 14–15 juta ton per tahun menjadi sekitar 19 juta ton per tahun setelah penerapan B50, atau bertambah sekitar 5 juta ton. Sementara itu, berbagai kajian memperingatkan peningkatan alokasi CPO untuk energi berpotensi menekan ketersediaan bahan baku bagi industri pangan, terutama minyak goreng, apabila produksi sawit tidak tumbuh sebanding dengan kenaikan permintaan domestik.

Tekanan terhadap pasokan CPO juga dikhawatirkan memengaruhi harga pangan. Kajian Pranata Universitas Indonesia memperkirakan implementasi B50 dapat mendorong kenaikan harga minyak goreng hingga sekitar 9 persen. Minyak goreng sendiri merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang secara rutin masuk dalam kelompok penyumbang inflasi nasional, sehingga setiap kenaikan harganya berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat.

Elektrifikasi Dinilai Lebih Efektif Menekan Emisi

Dalam kajiannya, IESR menilai elektrifikasi transportasi memberikan manfaat jangka panjang yang lebih besar dibandingkan peningkatan campuran biodiesel.

Berdasarkan pemodelan IESR, kombinasi elektrifikasi dan penguatan transportasi umum berpotensi mendorong penggunaan sekitar 66 juta mobil listrik dan 143 juta sepeda motor listrik pada 2060. Kebijakan tersebut diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 210 juta ton karbon dioksida.

Sementara itu, peningkatan pangsa penggunaan transportasi umum hingga 40 persen diperkirakan dapat mengurangi emisi sekitar 101 juta ton karbon dioksida.

Sebaliknya, peningkatan mandatori biodiesel hingga B60 diproyeksikan hanya mampu menekan emisi sekitar 88 juta ton karbon dioksida pada 2060. Estimasi tersebut belum memperhitungkan emisi akibat perubahan penggunaan lahan.

KAI Siap Terapkan B50 Setelah Uji Teknis

Terpisah, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan siap menerapkan penggunaan B50 setelah menjalani serangkaian uji teknis bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pengujian dilakukan untuk memastikan karakteristik B50 sesuai dengan standar operasional perkeretaapian.

Pada lokomotif utama, pengujian difokuskan pada respons mesin saat menarik rangkaian kereta, meliputi stabilitas pembakaran, efisiensi konsumsi bahan bakar, dan ketahanan komponen utama.

Sementara itu, pada kereta pembangkit, pengujian mencakup performa genset, konsumsi bahan bakar, tingkat emisi gas buang, kebersihan filter, dan daya tahan operasi.

"Pengujian ini sangat penting karena kereta pembangkit beroperasi tanpa henti selama perjalanan kereta api berlangsung," kata Anne. (jpc)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Mandatori biodiesel B50 #Pasokan CPO dan harga minyak goreng #Elektrifikasi sektor transportasi #Dampak inflasi dan bahan baku pangan #ketahanan energi nasional