Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Perjanjian Dagang RI-Uni Eropa, Hilirisasi Bauksit Berpeluang Jadi Mesin Ekspor Baru Indonesia

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 5 Juli 2026 | 23:24 WIB
Ilustrasi Industri Bauksit.
Ilustrasi Industri Bauksit.

PONTIANAK POST – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mendorong pemerintah memperluas program hilirisasi ke komoditas strategis, termasuk bauksit. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi mesin baru ekspor Indonesia sekaligus membuka peluang besar bagi Kalimantan Barat sebagai salah satu penghasil bauksit terbesar di Tanah Air.

Menurut Yusuf, pemerintah perlu mengedepankan strategi jangka panjang untuk menjaga daya saing ekspor nasional. Selain memperluas pasar ekspor melalui berbagai perjanjian dagang, hilirisasi dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak lagi bergantung pada ekspor bahan mentah.

"Selain memperluas akses pasar melalui perjanjian dagang, pemerintah perlu memperluas program hilirisasi ke komoditas lain seperti bauksit, tembaga, dan produk pertanian bernilai tambah," kata Yusuf di Jakarta, Jumat (3/7).

Kalbar Berpeluang Menjadi Pusat Industri Bernilai Tambah

Bagi Kalimantan Barat, dorongan hilirisasi bauksit membawa peluang ekonomi yang signifikan. Selama ini, provinsi tersebut dikenal sebagai salah satu sentra produksi bauksit nasional dan telah menjadi lokasi sejumlah proyek pengolahan alumina.

Pengembangan industri hilir bauksit dinilai tidak hanya berpotensi meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga menarik investasi baru, mengembangkan kawasan industri, dan memperluas penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah dengan sumber daya bauksit terbesar di Indonesia, mencapai sekitar 3,29 miliar ton dan selama ini menjadi pusat produksi bauksit nasional. Pemerintah juga mendorong hilirisasi mineral tersebut melalui pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan alumina di Kalbar.

Salah satu proyek strategis yang telah beroperasi adalah Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta ton alumina per tahun dan menyerap sekitar 3 juta ton bauksit sebagai bahan baku setiap tahun. Selain itu, industri pengolahan alumina di Kalbar juga telah berkembang melalui proyek-proyek lain yang memperkuat posisi provinsi tersebut sebagai pusat hilirisasi bauksit nasional.

Kajian Kementerian ESDM sebelumnya juga mencatat terdapat rencana pengembangan sejumlah pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat dengan total kapasitas produksi sekitar 8,5 juta ton alumina dan nilai investasi mencapai US$6,77 miliar, menunjukkan besarnya potensi daerah ini sebagai motor pertumbuhan industri berbasis mineral bernilai tambah.

Belajar dari Keberhasilan Hilirisasi Nikel

Yusuf menilai pengalaman pada industri nikel menunjukkan bahwa hilirisasi mampu meningkatkan daya tahan ekspor Indonesia di tengah gejolak ekonomi global.

Menurut dia, pendekatan serupa dapat diterapkan pada bauksit dan komoditas strategis lainnya. Dengan mengolah bauksit di dalam negeri menjadi alumina atau aluminium, nilai tambah yang diperoleh Indonesia diperkirakan akan jauh lebih besar dibanding hanya mengekspor bahan mentah.

Pelaku industri pertambangan dan pengolahan mineral menilai hilirisasi bauksit dapat mengubah posisi Kalimantan Barat dari sekadar pemasok bahan baku menjadi pusat industri berbasis aluminium. Perubahan ini diyakini mampu meningkatkan pendapatan daerah, menarik investasi baru, dan menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang melalui tumbuhnya industri hilir, usaha kecil, serta penyerapan tenaga kerja lokal.

IEU-CEPA Dinilai Bisa Membuka Pasar Baru

Selain hilirisasi, Yusuf mendorong pemerintah mempercepat penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa itu dinilai dapat memperluas akses pasar bagi produk-produk bernilai tambah dari Indonesia.

"Prioritas pertama adalah mempercepat diversifikasi pasar ekspor, terutama ke Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, sambil mempercepat penyelesaian perjanjian dagang seperti IEU-CEPA dan memaksimalkan pemanfaatan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP)," ujarnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan proses IEU-CEPA kini memasuki tahapan penting setelah Komisi Eropa mengajukan usulan penandatanganan dan pengesahan perjanjian tersebut kepada Dewan Uni Eropa.

Melalui IEU-CEPA dan Investment Protection Agreement (IPA), Uni Eropa akan menghapus bea masuk terhadap 98,5 persen pos tarif, menyederhanakan prosedur ekspor, membuka peluang investasi pada sektor strategis, serta memperkuat rantai pasok.

Peluang Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi

Bagi Kalimantan Barat, implementasi IEU-CEPA dan percepatan hilirisasi bauksit berpotensi menciptakan dampak yang lebih luas dari sekadar peningkatan angka ekspor.

Industri pengolahan bauksit diperkirakan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja, menggerakkan sektor logistik dan pelabuhan, serta mendorong tumbuhnya usaha pendukung di sekitar kawasan industri.

Berdasarkan data proyek hilirisasi bauksit nasional, Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, telah menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja saat tahap konstruksi dan sekitar 600 tenaga kerja untuk operasional. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun dan membutuhkan sekitar 3 juta ton bauksit sebagai bahan baku setiap tahun.

Seiring berjalannya program hilirisasi, Kalimantan Barat juga menjadi lokasi sejumlah proyek pengolahan dan pemurnian bauksit lainnya. Kementerian ESDM mencatat rencana pengembangan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalbar dengan total kapasitas sekitar 8,5 juta ton per tahun dan nilai investasi mencapai US$6,77 miliar. Proyek-proyek tersebut diproyeksikan dapat menciptakan ribuan lapangan kerja baru, baik secara langsung di sektor industri pengolahan maupun secara tidak langsung melalui sektor pendukung seperti transportasi, logistik, konstruksi, perdagangan, dan jasa. (ars)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Bauksit Kalimantan Barat #Hilirisasi bauksit Kalbar #Ekspor bauksit Indonesia #IEU-CEPA dan Kalbar #Industri alumina Kalbar