PONTIANAK POST – Komitmen Indonesia dan Singapura menjaga Selat Malaka tetap aman dan terbuka dinilai memberi kepastian bagi kelancaran arus perdagangan internasional, termasuk bagi Kalimantan Barat yang selama ini bergantung pada jalur pelayaran menuju Singapura dan pasar global.
Kesepakatan tersebut dicapai Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7). Kedua negara menegaskan Selat Malaka dan Selat Singapura harus tetap menjadi jalur pelayaran yang bebas, aman, dan terbuka sesuai United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982.
PM Lawrence Wong mengatakan Indonesia dan Singapura sebagai negara pesisir memiliki kepentingan strategis yang sama untuk menjaga keamanan jalur pelayaran internasional tersebut.
"Kami sepakat untuk memastikan Selat Malaka dan Selat Singapura tetap aman, terbuka, dan dapat digunakan oleh semua pihak," ujarnya.
Jalur Penting bagi Perdagangan Kalbar
Bagi Kalimantan Barat, stabilitas Selat Malaka memiliki arti penting karena menjadi salah satu koridor utama distribusi barang menuju Singapura dan berbagai negara tujuan ekspor.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan nilai ekspor Kalbar pada Mei 2025 mencapai US$163,14 juta, naik 3,80 persen dibanding April 2025. Kelancaran jalur pelayaran internasional, termasuk melalui Selat Malaka dan Selat Singapura, dinilai penting untuk menjaga arus ekspor komoditas unggulan Kalbar ke berbagai negara tujuan. Komoditas unggulan seperti crude palm oil (CPO), karet, bauksit olahan, produk kehutanan, serta berbagai komoditas lainnya banyak memanfaatkan jalur pelayaran internasional tersebut.
RI Perkuat Koordinasi Regional
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Malaysia dan Thailand sebagai negara pesisir untuk menjaga keamanan Selat Malaka.
Selain ancaman keamanan seperti perompakan, kedua negara juga sepakat meningkatkan kerja sama menghadapi risiko kecelakaan pelayaran dan pencemaran laut agar jalur perdagangan internasional tetap berjalan lancar. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro