PONTIANAK POST - Indonesia dan India sepakat memperkuat kerja sama strategis di bidang antariksa melalui riset bersama, alih teknologi, dan pengembangan kapasitas, sekaligus memperluas kolaborasi pada sektor mineral kritis dan baja untuk mendukung industri berteknologi tinggi.
Kesepakatan tersebut disampaikan Perdana Menteri India Narendra Modi usai pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, baru-baru ini, sebagaimana dikutip dari ANTARA.
Antariksa Jadi Pilar Baru Kemitraan Strategis
Narendra Modi mengatakan kerja sama antariksa antara Indonesia dan India telah berlangsung selama bertahun-tahun dan kini diperkuat melalui sejumlah keputusan baru yang mencakup riset bersama, berbagi teknologi, serta pembangunan kapasitas sumber daya manusia.
"Hari ini telah diambil sejumlah keputusan penting terkait riset bersama, berbagi teknologi, dan pembangunan kapasitas di bidang antariksa," kata Narendra Modi.
Menurut Modi, langkah tersebut akan memperluas kolaborasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus meningkatkan kemampuan kedua negara dalam pengembangan teknologi antariksa.
Kerja sama ini diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi penguatan kapasitas riset nasional, pengembangan talenta teknologi, serta mendorong lahirnya inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sipil maupun pembangunan ekonomi.
Rantai Pasok Mineral Kritis Ikut Diperkuat
Selain sektor antariksa, Modi menegaskan Indonesia dan India sepakat memperkuat ketahanan rantai pasok teknologi melalui kerja sama di bidang mineral kritis dan baja yang menjadi bahan baku penting bagi industri modern.
"Di era saat ini, ketahanan rantai pasok teknologi menjadi sangat penting. Oleh karena itu, kedua negara juga mencapai kesepakatan untuk memperkuat rantai pasok mineral kritis dan baja," ujarnya.
Baca Juga: Harusnya Ada Insentif Motor Listrik untuk Daerah Tambang, Dorong Keadilan Hilirisasi Mineral Kritis
Dilansir dari DuniaEnergi.com, komitmen tersebut juga mencakup kemitraan perusahaan dari kedua negara dalam pengembangan industri baja tahan karat (stainless steel) dan magnet tanah jarang (rare earth magnets), yang menjadi komponen penting bagi industri kendaraan listrik, energi bersih, dan teknologi canggih.
Peluang Hilirisasi dan Investasi Meningkat
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menilai kerja sama tersebut membuka peluang diversifikasi pasar sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis.
"Implikasinya bagus, kerja sama ini bisa membuka peluang diversifikasi pasar dan mitra untuk pengembangan mineral kritis. Jadi akan semakin banyak opsi, tidak tergantung hanya pada negara tertentu," ujar Bisman.
Menurut Bisman, kolaborasi Indonesia dan India juga berpotensi meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi mineral sehingga manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari ekspor bahan mentah.
Baca Juga: BRIN Kembangkan Teknologi Hidrogeokimia untuk Lacak Mineral Kritis
"Harapannya, kerja sama tersebut tidak hanya perdagangan bahan baku, tetapi harus terus berkembang termasuk bisa meningkatkan investasi. Kemitraan ini harus jadi momentum untuk mempercepat industrialisasi sekaligus mendukung pengembangan ekosistem energi bersih," kata Bisman.
Penguatan kemitraan di sektor antariksa, mineral kritis, dan industri strategis dinilai menjadi langkah penting bagi kedua negara untuk memperkuat daya saing teknologi, menarik investasi, serta membangun ketahanan ekonomi di tengah perubahan lanskap industri global. (*)
Editor : Efprizan