PONTIANAK POST - Kalimantan Barat yang selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi bagian dari rantai pasok mineral kritis dunia.
Di balik potensi bauksit, Kalbar diyakini menyimpan logam tanah jarang (rare earth elements/LTJ) yang kini menjadi komoditas strategis untuk industri kendaraan listrik, energi bersih, elektronik, hingga pertahanan.
Peluang tersebut semakin terbuka setelah Indonesia dan India menyepakati penguatan kerja sama di sektor mineral kritis, termasuk pengembangan rantai pasok dan hilirisasi industri.
Kesepakatan yang dicapai Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi itu dipandang dapat mendorong investasi, alih teknologi, serta pengembangan industri berbasis mineral bernilai tambah.
Baca Juga: Indonesia dan India Sepakat Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis
Kalbar Berpeluang Masuk Rantai Pasok Global
Kerja sama Indonesia dan India mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis, pengembangan industri baja tahan karat (stainless steel), hingga magnet tanah jarang (rare earth magnets) yang menjadi komponen penting kendaraan listrik, turbin angin, perangkat elektronik, serta industri pertahanan.
Bagi Kalimantan Barat, kerja sama tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral melalui hilirisasi, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah.
Selama ini Kalbar dikenal sebagai salah satu sentra produksi bauksit nasional. Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa endapan bauksit dapat mengandung unsur logam tanah jarang yang berpotensi dimanfaatkan apabila didukung teknologi pemrosesan yang memadai.
Apa Itu Logam Tanah Jarang?
Logam tanah jarang merupakan kelompok 17 unsur logam yang memiliki sifat magnetik dan konduktivitas tinggi sehingga menjadi material penting dalam berbagai teknologi modern.
Baca Juga: Potensinya Besar, Mengapa Logam Tanah Jarang Kalimantan Belum Jadi Prioritas Nasional?
Meski disebut "tanah jarang", unsur tersebut sebenarnya cukup melimpah di kerak bumi. Namun, keberadaannya tersebar dan jarang ditemukan dalam konsentrasi tinggi sehingga proses penambangan dan pemurniannya membutuhkan teknologi khusus.
Logam tanah jarang digunakan untuk memproduksi magnet permanen berkekuatan tinggi pada kendaraan listrik, turbin angin, telepon seluler, laptop, peralatan medis MRI, hingga sistem pertahanan.
Bagian Penting Mineral Kritis
Unsur tanah jarang merupakan bagian dari kelompok mineral kritis yang menjadi perhatian banyak negara karena berperan penting bagi industri, teknologi, energi, dan keamanan nasional.
Selain logam tanah jarang, mineral kritis juga mencakup litium, nikel, kobalt, tembaga, serta grafit yang dibutuhkan dalam industri baterai dan energi terbarukan.
Melalui kerja sama dengan India, Indonesia berpeluang memperkuat hilirisasi mineral kritis sekaligus memperluas pasar bagi produk bernilai tambah.
Tiongkok Masih Mendominasi Pasar Dunia
Menurut US Geological Survey (USGS) yang dikutip EarthRights International, Tiongkok masih menjadi produsen sekaligus pengolah logam tanah jarang terbesar di dunia.
Negara tersebut juga menguasai lebih dari 90 persen produksi magnet tanah jarang dunia sehingga banyak negara kini berupaya membangun rantai pasok alternatif agar tidak bergantung pada satu pemasok.
Kondisi tersebut membuat negara-negara yang memiliki cadangan mineral kritis, termasuk Indonesia, memiliki peluang strategis untuk mengembangkan industri pengolahan sendiri.
Baca Juga: Kalbar Berpeluang Jadi Pemain Baru Logam Tanah Jarang, Pakar UGM Ungkap Potensinya
Hilirisasi Harus Berkelanjutan
Di balik nilai ekonominya yang tinggi, pengembangan logam tanah jarang juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.
Menurut EarthRights International, penambangan beberapa jenis logam tanah jarang dapat menghasilkan limbah logam berat dan material radioaktif apabila tidak dikelola sesuai standar lingkungan.
Karena itu, pengembangan hilirisasi mineral kritis di Indonesia, termasuk potensi di Kalimantan Barat, perlu disertai penerapan teknologi ramah lingkungan, tata kelola yang transparan, serta perlindungan terhadap masyarakat di sekitar wilayah tambang.
Dengan dukungan investasi, teknologi, dan kebijakan hilirisasi yang tepat, Kalimantan Barat berpeluang tidak hanya menjadi penghasil bauksit, tetapi juga berkembang sebagai salah satu pusat industri mineral strategis yang menopang kebutuhan teknologi masa depan. (*)
Editor : Efprizan