PONTIANAK POST – Kalimantan Barat selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bauksit terbesar di Indonesia. Namun, di balik aktivitas pertambangan mineral utama tersebut, tersimpan potensi sumber daya strategis yang mulai menjadi perhatian dunia, yakni Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE).
Mineral kritis ini menjadi bahan penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari kendaraan listrik, turbin energi terbarukan, hingga komponen elektronik dan magnet berkinerja tinggi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut Indonesia memiliki potensi LTJ yang besar. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi wilayah prospek LTJ mencapai sekitar 1,2 juta hektare yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan karena masih menghadapi tantangan teknologi, fasilitas riset, serta keterbatasan tenaga ahli.
Potensi logam tanah jarang di Kalimantan Barat bukan sekadar wacana riset. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat Kalbar menjadi salah satu wilayah yang telah masuk dalam kegiatan penyelidikan dan eksplorasi LTJ di Indonesia.
Badan Geologi menyebut eksplorasi LTJ dilakukan pada sejumlah tipe endapan, termasuk endapan laterit dan endapan plaser. Untuk Kalimantan Barat, wilayah seperti Ketapang tercatat menjadi salah satu lokasi penyelidikan potensi LTJ, sementara sebaran endapan tipe plaser juga berkaitan dengan wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Potensi tersebut berkaitan dengan keberadaan mineral ikutan yang selama ini ditemukan bersama komoditas tambang utama. Kementerian ESDM menjelaskan bahwa LTJ di Indonesia umumnya tidak berdiri sebagai komoditas tunggal, tetapi muncul sebagai mineral ikutan pada sejumlah bahan tambang, termasuk bauksit di Kalimantan Barat. Mineral pembawa LTJ yang banyak ditemukan antara lain monasit, xenotim, zirkon, dan ilmenit.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Kalimantan Barat untuk mengembangkan rantai nilai baru berbasis mineral kritis. Tidak hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi juga mendorong penelitian, pengolahan, dan hilirisasi mineral bernilai tinggi untuk kebutuhan industri teknologi masa depan.
Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa potensi tersebut masih membutuhkan penelitian lanjutan, terutama untuk memastikan jumlah sumber daya, karakteristik mineral, teknologi ekstraksi, hingga kelayakan ekonominya.
Mineral Ikutan Tambang Jadi Peluang Baru
Kepala Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN Iwan Setiawan menjelaskan, LTJ di Indonesia umumnya tidak berdiri sebagai komoditas utama, tetapi hadir sebagai mineral ikutan dalam berbagai bahan tambang.
Potensi tersebut dapat ditemukan pada batuan granit, batuan vulkanik berkomposisi alkalin, ultramafik, hingga tanah hasil pelapukan yang mengandung unsur logam tanah jarang.
“Indonesia memiliki potensi endapan LTJ yang cukup besar, salah satunya berasal dari batuan granit dan vulkanik berkomposisi alkalin, ultramafik, serta tanah hasil pelapukannya yang kaya kandungan logam tanah jarang,” ujar Iwan.
Bagi Kalimantan Barat, potensi ini memiliki keterkaitan dengan keberadaan komoditas mineral seperti bauksit dan mineral ikutan lainnya.
Wilayah penghasil bauksit seperti Kabupaten Ketapang, Sanggau, Mempawah, dan beberapa kawasan lain berpotensi menjadi bagian dari rantai riset mineral strategis apabila dilakukan kajian lebih mendalam.
Dari Limbah Tambang Menuju Industri Bernilai Tinggi
Pengembangan LTJ menjadi bagian penting dari agenda hilirisasi mineral Indonesia. Selama ini, Indonesia masih menghadapi tantangan karena sebagian besar pengolahan mineral belum menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Padahal, LTJ memiliki nilai strategis karena menjadi bahan baku industri masa depan.
Iwan mengatakan, apabila dikelola dengan teknologi yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi pemain penting dalam industri baterai dan magnet, setidaknya di kawasan Asia Tenggara.
“Jika dimanfaatkan dan dikelola dengan baik, Indonesia bisa menjadi terdepan di industri baterai dan magnet paling tidak di kawasan ASEAN,” katanya.
Tantangan Besar: Teknologi dan Sumber Daya Manusia
Besarnya potensi LTJ Indonesia belum otomatis menjadikan negara ini sebagai pemain utama industri mineral kritis.
BRIN mencatat sejumlah tantangan masih harus diselesaikan, mulai dari keterbatasan peralatan riset dan karakterisasi mineral, hingga minimnya tenaga ahli yang menguasai eksplorasi serta pengolahan LTJ.
Menurut Iwan, Indonesia membutuhkan riset lebih masif untuk mengubah potensi sumber daya menjadi cadangan yang terbukti.
“Diperlukan riset dengan pendekatan teknologi terkini agar sumber daya mineral Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan industri menjadi kunci agar pengembangan LTJ tidak berhenti pada tahap eksplorasi.
Kalbar dan Masa Depan Mineral Kritis
Bagi Kalimantan Barat, perkembangan teknologi LTJ membuka peluang baru dalam peta ekonomi daerah.
Daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil bahan mentah memiliki kesempatan membangun industri pengolahan berbasis inovasi.
Namun, peluang tersebut membutuhkan kesiapan. Mulai dari penelitian cadangan mineral, penguatan sumber daya manusia lokal, hingga pembangunan industri pengolahan yang mampu menciptakan nilai tambah di daerah.
Ke depan, keberhasilan Kalbar tidak hanya diukur dari seberapa banyak mineral yang ditambang, tetapi seberapa besar manfaat ekonomi yang kembali kepada masyarakat. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro