PONTIANAK POST - Kalimantan Barat tercatat memiliki sedikitnya sembilan proyek yang masuk dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Nomor 16 Tahun 2025 tentang Perubahan Kedelapan atas Daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).
Peraturan tersebut ditandatangani langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 24 September 2025.
Proyek-proyek ini tersebar di sektor kawasan industri, pelabuhan, hingga fasilitas pengolahan mineral (smelter).
Empat Kawasan Industri Kalbar Masuk Daftar PSN
Dalam lampiran regulasi, tercatat empat kawasan industri di Kalbar berstatus PSN: Kawasan Industri Landak, Kawasan Industri Ketapang, Kawasan Industri Pulau Penebang, dan Kawasan Industri Alumina Toba.
Keempatnya masuk dalam kategori Sektor Kawasan bersama puluhan kawasan industri lain di seluruh Indonesia.
Status ini menempatkan Kalbar sebagai salah satu provinsi dengan jumlah kawasan industri berstatus PSN terbanyak di Pulau Kalimantan, sejajar dengan provinsi-provinsi penghasil komoditas tambang dan agro lainnya di luar Jawa.
Pelabuhan Terminal Kijing Tetap Jadi Prioritas Pengembangan
Di sektor pelabuhan, regulasi ini juga mencantumkan Pengembangan Pelabuhan Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah sebagai salah satu dari 15 proyek pelabuhan berstatus PSN secara nasional.
Masuknya Kijing dalam daftar ini menegaskan pelabuhan tersebut masih menjadi bagian dari prioritas pembangunan infrastruktur logistik pemerintah pusat.
Tiga Proyek Smelter Bauksit Turut Masuk Program Strategis Nasional
Selain kawasan industri dan pelabuhan, lampiran regulasi ini juga mencantumkan Program Pembangunan Smelter sebagai Program Strategis Nasional.
Untuk komoditas bauksit, dua dari tiga fasilitas yang tercantum berlokasi di Kalbar: PT Dinamika Sejahtera Mandiri di Kabupaten Sanggau, dan ekspansi PT Well Harvest Winning Alumina Refinery di Kabupaten Ketapang.
Selain itu, regulasi ini turut mencantumkan Pembangunan Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Alumina Terpadu di Kabupaten Mempawah.
Ia terdiri atas dua fase. Fase I dikerjakan PT Borneo Alumina Indonesia, sementara Fase II melibatkan PT Indonesia Asahan Aluminium selaku induk perusahaan beserta mitranya, yang juga terintegrasi dengan pembangunan smelter kedua di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
Dengan rangkaian proyek ini, Kalbar tercatat memiliki keterwakilan pada tiga kategori berbeda dalam daftar PSN nasional: kawasan industri, infrastruktur pelabuhan, dan program hilirisasi mineral bauksit-alumina.
Editor : Miftahul Khair