Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Bauksit Jadi Magnet Baru Investasi Hilirisasi, Sumbang Rp40,1 Triliun pada Kuartal II 2026

Rafael B. Junior • Jumat, 17 Juli 2026 | 09:43 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani

PONTIANAK POST - Peta investasi hilirisasi nasional mulai berubah. Untuk pertama kalinya, komoditas bauksit menggeser nikel sebagai tujuan investasi terbesar di sektor hilirisasi. Pergeseran itu menjadi penopang realisasi investasi hilirisasi yang mencapai Rp 152,7 triliun pada kuartal II 2026.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, nilai investasi hilirisasi sepanjang April–Juni 2026 tumbuh 5,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kontribusinya juga mencapai 29,8 persen terhadap total investasi nasional.

Menurut Rosan, sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar investasi hilirisasi. Namun, komposisinya mengalami perubahan.

”Kalau kita lihat, biasanya nikel selalu di nomor satu. Nah, kali ini ada shifting. Bauksit menjadi nomor satu karena ada beberapa pembangunan proyek bauksit yang dilakukan investor dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta kemarin (16/7).

Baca Juga: Investasi Bauksit di Kalbar Tertinggi Nasional, Pemerintah Ingin Bangun Ekosistem Lengkap

Dari total investasi hilirisasi sebesar Rp 152,7 triliun, sektor mineral menyumbang Rp 108,2 triliun atau sekitar 70,9 persen. Nilai tersebut didominasi investasi bauksit sebesar Rp 40,1 triliun, disusul nikel Rp 29,4 triliun, tembaga Rp 16,7 triliun, besi dan baja Rp 13,2 triliun, pasir silika Rp 4 triliun, serta berbagai komoditas lain seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, dan aspal Buton senilai Rp 4,7 triliun.

Perkebunan dan Kehutanan

Di luar sektor mineral, hilirisasi perkebunan dan kehutanan mencatat investasi Rp 24,6 triliun. Kelapa sawit menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 11,2 triliun, diikuti industri kayu Rp 9,3 triliun, karet Rp 2,6 triliun, serta komoditas lain seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel sebesar Rp 1,5 triliun.

Dari sisi sumber modal, investasi hilirisasi masih didominasi penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp 114,4 triliun atau sekitar 75 persen. Sisanya berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 38,3 triliun.

Baca Juga: Bauksit Kalbar di Tengah Ambisi Hilirisasi Nasional, Akankah Jadi Industri Maju?

Hongkong Penyumbang Terbesar

Adapun berdasarkan negara asal investor, Hongkong menjadi penyumbang terbesar dengan investasi Rp 52,4 triliun, diikuti Singapura Rp 29,8 triliun, Tiongkok Rp 10,7 triliun, Jepang Rp 4 triliun, dan Amerika Serikat Rp 3,9 triliun.

”Pemerintah akan terus mendorong hilirisasi agar tidak berhenti pada tahap pengolahan bahan baku, melainkan berkembang hingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi,” tuturnya.

Ke depan, pemerintah akan membangun ekosistem yang sama untuk bauksit, termasuk juga hilirisasi kelapa sawit, karet, kayu, pasir silika, dan komoditas lainnya. “Fokus kami adalah komoditas yang menjadi keunggulan kompetitif Indonesia dan telah masuk dalam blueprint hilirisasi nasional,” pungkas Rosan. (lyn/bry/dio)

Editor : Rafael B. Junior
investasi bauksit hilirisasi nikel