PSN Pulau Penebang Disiapkan Olah Bauksit hingga Aluminium, Ini Perannya bagi Hilirisasi Kalbar

Khoiril Arif Ya'qob • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 14:38 WIB
Ilustrasi Kawasan industri Smelter. (ANTARA)
Ilustrasi Kawasan industri Smelter. (ANTARA)

PONTIANAK POST - Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) di Kabupaten Kayong Utara disiapkan menjadi pusat hilirisasi bauksit terintegrasi.

Kawasan yang dikelola PT Dharma Inti Bersama (DIB) itu telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Berdasarkan rencana pengembangannya, kawasan tersebut akan mengolah mengolah bijih bauksit menjadi alumina hingga aluminium.

Pengembangan KIPP berlangsung di tengah meningkatnya investasi hilirisasi bauksit secara nasional. Pada kuartal II 2026, investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, melampaui nikel yang sebesar Rp29,4 triliun.

Baca Juga: Bupati Romi: Kawasan Industri Pulau Penebang Bisa Dorong Hilirisasi dan Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan peningkatan investasi tersebut didorong pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan bauksit oleh investor dalam dan luar negeri.

“Bauksit ini nomor satu, biasanya kita tahu selalu nikel. Ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan pabrik pengolahan bauksit,” ujar Rosan usai melaporkan realisasi investasi Semester I 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan.

Rencana Pengolahan Bauksit hingga Aluminium

Berdasarkan rencana pengembangannya, KIPP akan mengolah bauksit menjadi alumina menggunakan teknologi Bayer, kemudian mengolah alumina menjadi aluminium dengan teknologi Hall-Héroult.

Pemerintah menyebut kawasan industri tersebut diharapkan memperkuat rantai industri aluminium nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium.

Baca Juga: KIPP Pulau Penebang Perluas Akses Pendidikan di Kepulauan Karimata

Diharapkan Buka Lapangan Kerja

Selain menjadi kawasan industri pengolahan mineral, KIPP juga diproyeksikan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kayong Utara dan wilayah sekitarnya.

Dalam dokumen pengembangan proyek, pemerintah menyebut kawasan tersebut diproyeksikan membuka lapangan kerja serta mendorong aktivitas industri di Kayong Utara.

Lengkapi Proyek Hilirisasi di Kalimantan Barat

Selain KIPP, Kalimantan Barat telah memiliki proyek hilirisasi bauksit yang beroperasi di Kabupaten Mempawah melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Perusahaan tersebut mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) pertama di Indonesia dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun. Fasilitas itu mengolah sekitar 3 juta hingga 3,3 juta ton bauksit setiap tahun sebagai bahan baku industri aluminium nasional.

Pemerintah bersama MIND ID juga tengah mengembangkan SGAR Fase II di lokasi yang sama.

Selain meningkatkan kapasitas produksi alumina, proyek tersebut akan diikuti pembangunan smelter aluminium sehingga membentuk rantai hilirisasi yang terintegrasi mulai dari bauksit, alumina, hingga aluminium.

Baca Juga: Pulau Penebang Bersiap Jadi Pusat Industri Baru Kalbar: Smelter Bauksit Bangkitkan Harapan Ekonomi Daerah

Fasilitas terintegrasi tersebut ditargetkan mampu menghasilkan 1 juta ton alumina yang selanjutnya diolah menjadi sekitar 600 ribu ton aluminium per tahun untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium. (*)

Editor : Miftahul Khair
PSN Pulau Penebang Proyek Strategis Nasional Hilirisasi Bauksit kayong utara