Ekonom Kompak Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga 5,75 Persen demi Jaga Stabilitas Rupiah Tanpa Menghambat Pemulihan Ekonomi Nasional

Basilius Andreas Gas • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 10:32 WIB
Petugas menghitung uang rupiah. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.)
Petugas menghitung uang rupiah. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.)

PONTIANAK POST- Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026 sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memberi ruang bagi perekonomian untuk menyerap dampak pengetatan moneter sebelumnya.

Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto menilai belum ada urgensi bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga setelah melakukan pengetatan moneter sebesar 100 basis poin secara kumulatif sejak Mei 2026.

"Berhubung investor global sudah kembali hadir di pasar saham dan juga pasar SUN kita, sehingga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di bawah Rp17.899 per dolar AS, maka kami perkirakan BI-Rate masih (perlu) tetap 5,75 persen," kata Myrdal di Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan cadangan devisa Indonesia pada Juni 2026 meningkat dibanding bulan sebelumnya, yang menunjukkan tekanan permintaan valuta asing domestik mulai mereda. Meski demikian, tekanan eksternal masih datang dari kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan nilai impor energi.

Menurut Myrdal, inflasi konsumen pada Juli diperkirakan masih berada di bawah 3,5 persen sehingga belum memerlukan tambahan pengetatan kebijakan moneter.

"Perekonomian kita saat ini butuh iklim bunga yang bisa dorong pertumbuhan ekonomi bisa lebih agresif lagi. Itu agar pertumbuhan ekonomi kita bisa terakselerasi lagi dari aspek konsumsi, investasi, maupun untuk pembiayaan ekspor," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede. Menurutnya, inflasi memang meningkat menjadi 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026, namun masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sehingga belum cukup kuat menjadi alasan untuk kembali menaikkan suku bunga.

Josua mengingatkan risiko tetap perlu diwaspadai apabila nilai tukar rupiah kembali tertekan, arus modal keluar meningkat, atau kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi melemah. Di sisi lain, tekanan eksternal masih datang dari kuatnya dolar AS, tingginya suku bunga global, kenaikan harga minyak, serta melemahnya neraca perdagangan Indonesia yang pada Mei 2026 mencatat defisit 1,16 miliar dolar AS.

"Ini menunjukkan pola aliran dana yang sensitif terhadap imbal hasil dan mudah berbalik," ujar Josua.

Menurut dia, apabila BI kembali menaikkan suku bunga, tujuan utamanya lebih untuk menjaga stabilitas rupiah dan arus modal ketimbang mengendalikan inflasi yang saat ini lebih banyak dipicu faktor biaya dan pasokan.

Josua menilai mempertahankan BI-Rate merupakan langkah yang lebih tepat agar dampak kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin sejak Mei dapat terlebih dahulu terserap oleh pasar keuangan dan sektor riil.

Sementara itu, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky juga memprediksi BI akan menahan suku bunga acuan. Meski arus modal asing mulai membaik pada pertengahan Juni hingga pertengahan Juli 2026, nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan.

Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia meningkat dari 144,9 miliar dolar AS pada Mei menjadi 145,6 miliar dolar AS pada Juni 2026. Inflasi juga diperkirakan tetap berada dalam rentang target BI, meskipun risiko kenaikan masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mendorong harga energi global.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate pada Rapat Dewan Gubernur mendatang sambil mengevaluasi dampak pengetatan kebijakan terbaru terhadap nilai tukar, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik," kata Riefky. (ant)

Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara
stabilitas rupiah RDG suku bunga pertumbuhan ekonomi