Berkat kekuatan ide dan semangat kolaboratif, KDMP Sungai Raya mampu melahirkan usaha agrowisata melon, sembako, dan sentra kuliner yang menggerakkan ekonomi desa setempat.
ASHRI ISNAINI, Sungai Raya
SENYUM pengunjung tak berhenti mengembang saat bergantian mengabadikan momen di antara deretan tanaman melon berwarna kuning ngejreng yang menggantung rapi di dalam greenhouse Desa Sungai Raya Dalam, Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya.
Seusai berswafoto, mereka memetik buah melon premium yang telah matang sebelum membawanya pulang. Tak banyak yang menyangka, kebun wisata itu tumbuh dari koperasi desa yang bermodal minim.
"Awalnya saya datang karena lihat di media sosial. Ternyata bukan cuma beli melon, tapi juga bisa jalan-jalan dan foto-foto. Anak-anak juga senang," ujar Hamdan Deni, salah seorang pengunjung.
Sebuah Ruangan berukuran 3x4 meter di Kantor Desa Sungai Raya Dalam menjadi titik awal perjalanan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Sungai Raya Dalam, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Berbekal simpanan anggota Rp100 ribu dan tanpa unit usaha, koperasi yang berdiri pada akhir 2025 itu kini mengembangkan budidaya melon premium, mendistribusikan sembako, hingga mengelola sentra kuliner desa.
Ketua Kopdes Merah Putih Sungai Raya Dalam, Donny, mengatakan langkah pertama yang dilakukan pengurus setelah terbentuk pada November 2025 adalah menuntaskan legalitas koperasi. Setelah legalitas rampung pada Desember, tantangan berikutnya muncul.
Koperasi belum memiliki usaha maupun modal yang memadai.
Saat itu jumlah anggota baru sekitar 20 orang. Masing-masing menyetor simpanan pokok Rp100 ribu dan simpanan wajib Rp25 ribu per bulan.
"Kami sengaja membuat simpanan yang ringan agar masyarakat mau bergabung dulu. Dari situ kami berpikir, usaha apa yang bisa dijalankan tanpa membutuhkan modal besar," ujarnya.
Peluang datang melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Melalui penyertaan modal, koperasi memulai usaha budidaya melon premium menggunakan sistem greenhouse.
Budidaya dimulai pada Februari 2026. Dua bulan kemudian panen perdana berhasil dilakukan. Kini koperasi telah dua kali pa
Awalnya greenhouse ditanami sekitar 300 batang melon. Setelah dievaluasi, kapasitas ditingkatkan menjadi sekitar 600 batang. Dalam satu siklus panen, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp20 juta. "Hasilnya cukup untuk menutup biaya operasional dan terus diputar menjadi modal usaha berikutnya," kata Donny.
Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Melon
Koperasi tidak sekadar menjual buah melon. Pengurus mengemas kebun menjadi kawasan wisata petik melon dengan berbagai spot swafoto agar memiliki nilai tambah. Masyarakat datang bukan hanya membeli buah, tetapi juga menikmati pengalaman memetik langsung dari kebun.
"Kami ingin menjual pengalaman, bukan sekadar buah. Orang datang untuk berfoto sekaligus membeli melon," ucap Donny.
Melon dipasarkan sebagai produk premium dengan harga sekitar Rp50 ribu per kilogram. Menurutnya, hampir seluruh hasil panen habis dibeli masyarakat tanpa harus dipasarkan secara luas.
"Sebagian besar pembeli datang sendiri karena mendengar dari mulut ke mulut," katanya.
Keuntungan usaha melon pun tidak seluruhnya menjadi pendapatan koperasi. Karena memanfaatkan lahan milik masjid, koperasi menyisihkan 10 persen hasil usaha sebagai pendapatan bagi masjid.
Selain itu, kata Dony, sebagian hasil panen juga dibagikan kepada balita melalui Posyandu sebagai dukungan terhadap program pencegahan stunting.
Pada panen perdana, sekitar 60 paket melon dibagikan kepada balita. "Kami ingin usaha ini bukan hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberi manfaat sosial kepada masyarakat," tutur Donny.
Kembangkan Usaha Sembako dan Sentra Kuliner
Selain melon, koperasi mulai mengembangkan usaha distribusi sembako, terutama beras SPHP dan minyak goreng. Modal usaha tersebut juga berasal dari skema kerja sama penyertaan modal bersama BUMDes.
Saat ini koperasi tersebut rutin mendatangkan sekitar dua ton beras setiap dua pekan. Seluruh stok sembako tersebut habis terserap masyarakat.
"Kami ingin anggota memperoleh harga yang lebih murah dibandingkan harga pasar," katanya.
Tak hanya warga sekitar, sejumlah pelaku usaha kuliner juga menjadi pelanggan tetap koperasi. Donny menerangkan, Kopdes yang dikelolanya bersama rekan-rekannya tersebut juga mengelola sentra kuliner desa. Para pedagang cukup membayar kontribusi sekitar Rp20 ribu per hari kepada koperasi.
Sebagian pendapatan tersebut kembali disalurkan untuk mendukung kegiatan masjid. Ke depan, koperasi juga berencana mengembangkan distribusi gas elpiji, pemberdayaan kolam dan parit untuk budidaya ikan, hingga memperluas kawasan budidaya melon.
Semua dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan keuangan koperasi.
"Prinsip kami sederhana. Tidak punya modal bukan berarti tidak bisa bergerak. Yang penting jangan miskin ide," ujarnya.
Meski mulai berkembang, Donny mengakui koperasi masih menghadapi berbagai keterbatasan. Salah satunya belum memiliki kantor sendiri. Seluruh administrasi sementara masih menumpang di kantor desa.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas pengurus juga menjadi perhatian utama. Menurutnya, pendidikan dan pelatihan perkoperasian menjadi kebutuhan mendasar agar pengelolaan usaha semakin profesional.
"Kami harus terus belajar, baik soal administrasi maupun pengembangan bisnis koperasi," katanya.
Donny pun menyimpan mimpi besar. Dia ingin Sungai Raya Dalam kelak dikenal sebagai desa penghasil melon premium di Kalimantan Barat.
Apabila kebutuhan pasar lokal telah terpenuhi, koperasi menargetkan pemasaran hingga ke luar daerah bahkan membuka peluang ekspor.
Namun, bagi Dony, ukuran keberhasilan koperasi bukan sekadar besarnya omzet. Keberhasilan menurutnya adalah ketika masyarakat merasakan manfaat langsung melalui harga kebutuhan pokok yang lebih murah, pembagian sisa hasil usaha (SHU), bertambahnya lapangan usaha, dan tumbuhnya ekonomi desa.
"Kalau masyarakat sudah merasa koperasi menjadi kebutuhan, bukan sekadar organisasi, berarti kami berhasil. Kami ingin membuktikan bahwa koperasi bisa menjadi penggerak ekonomi desa, dimulai dari langkah-langkah kecil yang terus berkembang," pungkasnya.
Pemkab Kubu Raya Terus Perkuat KDMP
Secara terpisah, Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kubu Raya, Zulkarnain, mengatakan seluruh 123 Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Kubu Raya telah terbentuk.
Namun, baru sekitar 13 koperasi yang telah menjalankan usaha, sementara sisanya masih memperkuat kelembagaan dan menunggu pembangunan gerai maupun fasilitas pendukung.
"Pemerintah daerah juga memfasilitasi pembiayaan akta notaris seluruh koperasi, menyelenggarakan pelatihan manajemen dan pengembangan usaha, serta menjalin kemitraan dengan Bulog, Pertamina, PT Pupuk Indonesia, dan perbankan guna memperkuat pasokan barang serta akses pembiayaan," ungkapnya.
Meski demikian, Zulkarnain mengakui tantangan terbesar yang dihadapi KDMP saat ini masih berkaitan dengan permodalan.
Menurutnya, sebagian besar koperasi baru mengandalkan simpanan pokok dan simpanan wajib anggota yang nilainya relatif kecil sehingga ruang untuk mengembangkan usaha masih terbatas.
"Modal awal koperasi memang masih berasal dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota. Karena itu, pengembangan usaha dilakukan secara bertahap sambil membuka peluang penyertaan modal dari anggota maupun mitra," katanya.
Selain permodalan, kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan koperasi. Zulkarnain menilai keberhasilan sebuah KDMP sangat bergantung pada kreativitas dan jiwa kewirausahaan para pengurusnya.
"Kalau pengurusnya aktif dan memiliki semangat entrepreneurship, usaha koperasi akan berkembang. Pemerintah sudah memberikan pelatihan dan memfasilitasi kemitraan, tinggal bagaimana pengurus memanfaatkannya," ujarnya.
Zulkarnain mencontohkan KDMP Sungai Raya Dalam sebagai salah satu koperasi yang dinilai mampu memanfaatkan peluang usaha melalui inovasi.
Selain mengembangkan budidaya melon, koperasi tersebut juga mengoordinasikan pelaku UMKM desa melalui sentra kuliner serta menjalankan usaha penjualan sembako.
"Pengurusnya cukup kreatif. Mereka menghimpun UMKM, menyediakan tempat berjualan, mengembangkan usaha melon, sekaligus menjalankan usaha sembako. Model seperti ini yang kami harapkan dapat ditiru koperasi lain," katanya.
Lebih lanjut, Zulkarnain menjelaskan, keberhasilan koperasi tidak hanya diukur dari besarnya omzet usaha, tetapi juga dari kualitas tata kelola organisasi.
Dia menegaskan, meski masih menghadapi berbagai tantangan, pemerintah daerah akan terus melakukan pembinaan, pendampingan, pengawasan, serta mendorong lahirnya inovasi dari para pengurus koperasi.
"Harapan kami program ini berhasil. Tantangan pasti ada, tetapi dengan pembinaan, pengawasan, dan inovasi, kami optimistis Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat desa," harapnya.
Secara terpisah, Sekretaris Daerah Kubu Raya, Yusran Anizam mengatakan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya berkomitmen mendukung penuh pelaksanaan Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai salah satu Program Strategis Nasional (PSN).
Meski di lapangan masih terdapat sejumlah tantangan, pemerintah daerah menilai program tersebut memiliki konsep yang kuat untuk memperkuat perekonomian masyarakat desa.
Selain memiliki landasan konsep yang kuat, kata Yusran, KDMP juga telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai Program Strategis Nasional sehingga seluruh pemerintah daerah berkewajiban mendukung implementasinya.
Pemerintah, kata dia, memang telah menetapkan enam jenis usaha utama bagi KDMP. Namun, koperasi tetap diberikan ruang untuk mengembangkan usaha lain yang lebih sesuai dengan karakteristik dan potensi lokal.
"Kalau daerah memiliki potensi lain yang lebih unggul, tentu tidak menjadi masalah untuk dikembangkan. Prinsip koperasi adalah kesepakatan anggota, sehingga usaha yang dijalankan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi daerah," jelasnya.
Menurut Yusran, keberadaan koperasi akan mempermudah pembinaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), baik dari sisi kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, maupun akses pembiayaan.
"Saya berharap seluruh UMKM dapat bergabung menjadi anggota KDMP sehingga pembinaannya lebih terarah, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan kompetensi SDM, hingga akses pembiayaan. Dengan begitu pembinaan tidak berjalan secara parsial," ujarnya.
Yusran menilai kualitas sumber daya manusia menjadi tantangan terbesar dalam pengembangan KDMP. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melalui DKUMKMPP terus melakukan pembinaan dan pendampingan kepada pengurus maupun calon pengelola koperasi.
"Masalah SDM memang menjadi pekerjaan rumah terbesar. Kami sudah beberapa kali melaksanakan pelatihan dan pendampingan, dan ke depan pembinaan akan terus dilakukan agar koperasi dapat dikelola secara profesional," tutup Yusran. **
Editor : Aristono Edi Kiswantoro