PONTIANAK POST – Jumlah penumpang kereta api di Sumatra mencapai 3.818.770 orang sepanjang Semester I 2026. Angka itu meningkat 11,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 3.429.603 penumpang.
Lonjakan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi massal berbasis rel di luar Pulau Jawa. Capaian itu sekaligus menjadi referensi penting bagi pemerintah dalam mengembangkan jaringan kereta api di Kalimantan, yang hingga kini belum memiliki layanan kereta penumpang.
Data PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat peningkatan jumlah pelanggan terjadi di seluruh Divisi Regional (Divre) Sumatra, yakni Divre I Sumatera Utara, Divre II Sumatera Barat, Divre III Palembang, dan Divre IV Tanjungkarang.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap moda transportasi berbasis rel.
"Kereta api menjadi bagian dari aktivitas masyarakat untuk bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, menjalankan kegiatan usaha, mengunjungi keluarga, serta berwisata. Setiap wilayah memiliki karakter perjalanan yang berbeda dan seluruhnya perlu dilayani dengan mengutamakan keselamatan, ketepatan waktu, serta kenyamanan," ujarnya.
Mobilitas Terus Tumbuh
Dari empat wilayah operasi di Sumatra, Divre II Sumatera Barat mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 17,6 persen, dari 971.845 menjadi 1.142.466 pelanggan.
Sementara itu, Divre I Sumatera Utara melayani 1.390.985 pelanggan atau naik 4,7 persen. Divre III Palembang meningkat 10,8 persen menjadi 603.967 pelanggan, sedangkan Divre IV Tanjungkarang tumbuh 16,7 persen menjadi 681.352 pelanggan.
Menurut Anne, kereta api kini bukan sekadar moda transportasi antarkota, tetapi juga menopang aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga sektor pariwisata.
"Data setiap Divre memperlihatkan bahwa kereta api mempunyai fungsi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ada pelanggan yang menggunakannya setiap hari, ada yang bepergian antarkota, dan ada pula yang memilih kereta api untuk menikmati perjalanan bersama keluarga," katanya.
Jadi Acuan Trans Kalimantan Railway
Keberhasilan layanan kereta api di Sumatra menjadi salah satu referensi dalam pengembangan jaringan perkeretaapian nasional, termasuk di Kalimantan yang hingga kini masih mengandalkan transportasi darat, sungai, dan udara.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengarahkan agar pembangunan jaringan kereta api tidak hanya difokuskan di Sumatra, tetapi juga disiapkan untuk Kalimantan dan Sulawesi sebagai bagian dari penguatan konektivitas nasional.
KAI menilai pengalaman operasional di Sumatra dapat menjadi bahan kajian untuk membaca pola mobilitas masyarakat, kebutuhan infrastruktur, hingga potensi pengembangan jaringan di wilayah lain.
Pemerintah saat ini masih mematangkan studi Trans Kalimantan Railway. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyatakan proyek tersebut masih berada pada tahap perencanaan dan penghitungan.
Secara bertahap pemerintah menargetkan pembangunan jaringan rel sepanjang 2.772 kilometer di Kalimantan guna memperkuat konektivitas antardaerah dan menekan biaya logistik. Namun, realisasinya masih menunggu penyelesaian studi kelayakan, penetapan trase, skema pembiayaan, serta sinkronisasi dengan rencana tata ruang.
Sebagai bagian dari proses tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur bersama Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian, pemerintah daerah, BUMN, dan sektor swasta telah menggelar sejumlah Focus Group Discussion (FGD) untuk menyusun peta jalan pengembangan jaringan Trans Sumatra, Trans Kalimantan, dan Trans Sulawesi, termasuk membahas kebutuhan infrastruktur serta alternatif pembiayaan di luar APBN.
Dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas), pemerintah juga menargetkan pembangunan sekitar 1.200 kilometer jaringan rel di Kalimantan hingga 2030. Salah satu proyek yang telah memasuki tahap studi kelayakan ialah Kereta Api Logistik Kalimantan Timur, yang masih menunggu kepastian investasi sebelum memasuki tahap konstruksi.
Berpotensi Pangkas Biaya Logistik
Pengembangan jaringan kereta api di Kalimantan dinilai mampu memperkuat konektivitas sekaligus menekan biaya logistik yang selama ini masih bergantung pada angkutan jalan dan sungai.
Di Kalimantan Barat, misalnya, keberadaan jalur rel diproyeksikan mendukung distribusi komoditas perkebunan, hasil tambang, hingga memperkuat konektivitas menuju kawasan industri dan Pelabuhan Kijing.
Pengamat transportasi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, mengatakan kereta api akan menjadi moda pelengkap yang mampu meningkatkan efisiensi distribusi barang sekaligus mengurangi beban lalu lintas.
"Yang jelas mengurangi kepadatan jalan. Di Kalimantan selama ini banyak menggunakan sungai sebagai jalur logistik," ujarnya.
Sejumlah kajian Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) juga menunjukkan Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk pengembangan jalur kereta api barang. Jalur tersebut dinilai mampu mempercepat distribusi komoditas unggulan, seperti kelapa sawit, bauksit, alumina, serta hasil perkebunan dan pertambangan menuju kawasan industri maupun pelabuhan.
Alternatif koridor yang dikaji menghubungkan wilayah Mempawah, Kubu Raya, Sanggau, hingga Ketapang guna meningkatkan efisiensi logistik sekaligus memperkuat daya saing ekonomi daerah.
Pengamat transportasi Fakultas Teknik Untan, Said, menilai pembangunan kereta api di Kalimantan Barat tetap realistis selama didukung konsistensi kebijakan, kepastian pembebasan lahan, serta terintegrasi dengan pengembangan kawasan industri, pelabuhan, dan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi.
Tantangan Implementasi
Meski prospeknya besar, pembangunan jaringan kereta api di Kalimantan tetap menghadapi tantangan. Kondisi geografis yang didominasi hutan, lahan gambut, sungai besar, serta kepadatan penduduk yang lebih rendah dibandingkan Pulau Jawa membuat proyek tersebut membutuhkan perencanaan yang matang.
Karena itu, pengembangan jaringan rel memerlukan kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, KAI, dan berbagai pemangku kepentingan agar investasi yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Anne menegaskan, peningkatan jumlah pelanggan di Sumatra menjadi motivasi bagi KAI untuk terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkaya kajian pengembangan transportasi nasional.
"Kenaikan pelanggan di seluruh Divre Sumatra menjadi dorongan untuk terus menjaga layanan yang aman, andal, nyaman, dan mudah digunakan. Penguatan perkeretaapian juga membutuhkan kerja bersama agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian daerah," tutupnya. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro