PONTIANAK POST- Rupiah melemah ke level Rp17.979 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi setelah pasar keuangan global kembali dibayangi kenaikan harga minyak mentah dan eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman.
Nilai tukar rupiah tercatat turun 43 poin atau 0,24 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.936 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang Garuda terjadi saat harga minyak mentah Brent sempat menembus 95 dolar AS per barel.
Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan peningkatan harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan rupiah.
“Harga minyak mentah Brent juga sempat menembus 95 dolar AS per barel, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Josua, kenaikan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran terhadap risiko twin deficit atau defisit fiskal dan defisit neraca transaksi berjalan secara bersamaan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap aset domestik.
Tekanan pasar energi global meningkat setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas menyusul serangan di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia.
Gangguan keamanan di kawasan itu membuat pasar khawatir terhadap kelancaran distribusi minyak global. Kapal tanker energi berpotensi mengubah rute pelayaran melalui Afrika bagian selatan, sehingga dapat memperpanjang perjalanan dan mengganggu rantai pasok energi internasional.
Situasi tersebut turut memicu sentimen risk-off di pasar keuangan global. Investor kemudian meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai ketika ketidakpastian meningkat.
“Untuk hari ini, kami memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900–Rp18.025 per dolar AS, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang masih menopang permintaan terhadap aset-aset safe haven,” ujar Josua.
Mengutip Anadolu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington akan meminta pertanggungjawaban Teheran apabila kelompok Houthi Yaman menyerang kapal-kapal komersial.
Pernyataan tersebut muncul setelah kelompok Houthi Yaman pada Kamis (23/7) mengklaim melakukan operasi militer terhadap dua kapal tanker minyak Saudi menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, serta drone.
Menteri Luar Negeri AS Rubio juga meminta kelompok Houthi untuk "menjauh" dari konflik Iran. Ia menyebut kelompok tersebut telah "terjebak" dalam perang di Timur Tengah akibat keterlibatan Teheran.
Ketegangan kawasan semakin meningkat setelah militer Iran memperingatkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi di berbagai wilayah apabila serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur Iran terus berlanjut.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Yordania. Selain itu, sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terkena ledakan ranjau di Selat Hormuz yang membuat dua kapal lainnya meninggalkan jalur pelayaran selatan.
Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak paling penting di dunia yang menjadi jalur sekitar seperlima konsumsi minyak global. (ant)
Editor : Basilius Andreas Gas
Sumber : Antara