PONTIANAK POST – Rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi memicu arus dana asing keluar hingga Rp1 triliun dari pasar saham Indonesia. Tekanan tersebut muncul setelah MSCI mengubah komposisi indeksnya, meski Indonesia tetap dipertahankan sebagai negara emerging market.
Dampak keputusan tersebut mulai terasa di pasar. IHSG ditutup melemah 1,13 persen ke level 6.301,77 pada perdagangan Kamis (13/8).
Perubahan komposisi indeks terutama berdampak pada saham yang statusnya berubah dalam indeks acuan global. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun dari Global Standard ke Small Cap, sedangkan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terdepak dari MSCI Global Standard Indexes.
Indonesia Tetap di Emerging Market
Keputusan tersebut merupakan hasil August 2026 Index Review MSCI. Dalam peninjauan kali ini, tidak ada saham Indonesia yang mendapat tambahan status sebagai konstituen baru.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan perubahan komposisi indeks merupakan proses rutin MSCI untuk menyesuaikan indeks dengan perkembangan pasar.
“Rebalancing ini secara periodik dilakukan oleh MSCI. Seperti proses rebalancing sebelumnya, MSCI juga menggunakan keterbukaan informasi publik yang disampaikan oleh BEI, seperti HSC (high shareholding concentration) dan kepemilikan saham di atas 1 persen,” kata Jeffrey di Jakarta, Kamis (13/8).
Menurut dia, BEI akan terus berkomunikasi dengan MSCI dan investor global. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kredibilitas serta daya tarik pasar modal Indonesia.
“Komunikasi kami dengan MSCI tentu akan terus dilanjutkan, demikian juga komunikasi dengan investor global,” tuturnya.
CPIN Turun Kelas, GOTO Tergusur
Bagi GOTO, keluarnya saham tersebut dari MSCI Global Standard Indexes menjadi kabar kurang menggembirakan. Namun, perseroan menilai keputusan itu lebih berkaitan dengan faktor teknis daripada kinerja bisnis.
Head of Corporate Affairs GOTO Audrey Petriny mengatakan perubahan tersebut dipengaruhi harga saham GOTO yang berada di level Rp50 dan volume perdagangan yang rendah.
“Keputusan ini murni bersifat teknis, harga saham GOTO yang berada di level terendah Rp50 dan diikuti dengan volume perdagangan yang rendah dan tidak disebabkan oleh kinerja perseroan,” kata Audrey.
Outflow Asing Berpotensi Rp1 Triliun
Perubahan komposisi MSCI diperkirakan membawa tekanan teknikal terhadap pasar saham domestik. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan potensi passive outflow mencapai Rp500 miliar hingga Rp1 triliun.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Wilbert Arifin mengatakan bobot Indonesia dalam indeks emerging market hanya turun tipis. Bobot tersebut diperkirakan berubah dari sekitar 0,49 persen menjadi 0,46 persen.
“Dalam jangka pendek memang ada tekanan sentimen karena tidak ada penambahan saham ke indeks. Namun, dampaknya terhadap pasar secara keseluruhan diperkirakan minimal dan lebih terkonsentrasi pada saham yang terdampak langsung, seperti CPIN,” kata Wilbert.
Wilbert memperkirakan passive outflow sekitar Rp500 miliar hingga Rp1 triliun terjadi pada hari efektif rebalancing. Pelaksanaan tersebut dilakukan setelah perdagangan ditutup pada 31 Agustus 2026.
Tekanan Lebih Bersifat Teknis
Perubahan indeks MSCI menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi portofolio dana yang mengikuti indeks tersebut. Namun, analis menilai dampaknya terhadap pasar Indonesia secara keseluruhan relatif terbatas.
Tekanan diperkirakan lebih terkonsentrasi pada saham yang mengalami perubahan status. Sementara itu, Indonesia tetap berada dalam kelompok emerging market MSCI.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro