PONTIANAK POST – Kendaraan listrik mulai meninggalkan jejak yang lebih besar dalam konsumsi energi nasional. Hingga Juni 2026, konsumsi listrik SPKLU 2026 mencapai 62,4 juta kilowatt hour (kWh).
Angka tersebut sudah melampaui konsumsi listrik Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sepanjang 2025 yang tercatat 48,5 juta kWh.
Dalam enam bulan pertama 2026, konsumsi listrik SPKLU bertambah sekitar 13,9 juta kWh dibandingkan total konsumsi selama 2025. Data tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas kendaraan listrik di Indonesia.
Penjualan EV dan Hybrid Tumbuh di Atas 40 Persen
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peningkatan konsumsi listrik SPKLU berjalan seiring dengan pertumbuhan penjualan kendaraan.
Menurutnya, penjualan mobil secara keseluruhan tumbuh 33,3 persen secara tahunan. Sementara penjualan kendaraan listrik dan mobil hybrid meningkat lebih dari 40 persen.
“Kalau kami lihat dari sektor otomotif naik 33,3 persen year-on-year, dan khusus untuk kendaraan elektrik ataupun kendaraan hybrid itu naiknya lebih dari 40 persen,” ujar Airlangga dalam konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Pertumbuhan tersebut menunjukkan kendaraan elektrifikasi mulai mendapat tempat lebih besar dalam pasar otomotif nasional.
Bertambahnya konsumsi listrik untuk pengisian kendaraan menunjukkan perubahan pada cara sebagian masyarakat memenuhi kebutuhan energinya untuk mobilitas.
Jika kendaraan konvensional mengandalkan bahan bakar minyak, kendaraan listrik membutuhkan pasokan listrik yang tersedia melalui berbagai titik pengisian. Karena itu, peningkatan konsumsi SPKLU juga berkaitan dengan berkembangnya infrastruktur pendukung kendaraan listrik.
Airlangga menyebut data PLN mencatat konsumsi listrik SPKLU mencapai 62,4 juta kWh hingga Juni 2026. Realisasi enam bulan tersebut telah melampaui konsumsi sepanjang tahun sebelumnya.
Peningkatan aktivitas kendaraan listrik terjadi di tengah pertumbuhan penjualan listrik nasional. Airlangga mencatat penjualan listrik secara keseluruhan tumbuh 10,8 persen secara tahunan.
Konsumsi listrik rumah tangga meningkat 12,3 persen. Sementara konsumsi sektor bisnis naik 10 persen dan industri tumbuh 6,5 persen.
“Kenaikan ekonomi juga bisa dilihat dari kegiatan yang mengonsumsi listrik. Itu juga naik 10,8 persen dan penjualan semen 13,5 persen year on year,” kata Airlangga.
Menurut pemerintah, sejumlah indikator tersebut menunjukkan mobilitas dan aktivitas industri nasional masih bergerak positif.
EV Mulai Mengubah Kebutuhan Infrastruktur
Pertumbuhan kendaraan listrik membawa kebutuhan baru terhadap infrastruktur pengisian daya. Semakin banyak kendaraan yang digunakan, semakin penting pula ketersediaan SPKLU yang mudah dijangkau dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna.
Bagi pengguna kendaraan listrik, keberadaan SPKLU menjadi bagian penting dari pengalaman berkendara. Ketersediaan titik pengisian, waktu pengisian, dan lokasi SPKLU dapat memengaruhi kenyamanan, terutama untuk perjalanan jarak jauh.
Pertumbuhan EV Berjalan Bersama Target Ekonomi 2027
Pemerintah menempatkan penguatan sektor bernilai tambah tinggi dan transformasi ekonomi sebagai bagian dari arah kebijakan 2027. Kendaraan listrik menjadi salah satu bagian dari perubahan menuju sistem transportasi dan energi yang lebih berbasis listrik.
Pada saat yang sama, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan target APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Dalam RAPBN 2027, belanja negara direncanakan mencapai Rp4.097,2 triliun dengan pendapatan negara Rp3.426 triliun. Defisit anggaran ditargetkan sebesar 2,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka SPKLU Menunjukkan Pasar yang Mulai Bergerak
Konsumsi listrik SPKLU yang dalam enam bulan sudah melampaui total 2025 memberikan gambaran tentang perubahan pasar kendaraan di Indonesia. Pertumbuhan tersebut terjadi bersamaan dengan penjualan EV dan hybrid yang meningkat lebih dari 40 persen.
Namun, pertumbuhan kendaraan listrik tidak hanya membutuhkan konsumen. Ekosistemnya juga bergantung pada kesiapan infrastruktur pengisian daya dan kemampuan jaringan listrik memenuhi permintaan yang terus berkembang.
Bagi pengguna kendaraan listrik, perubahan itu pada akhirnya akan terasa bukan hanya dari semakin banyaknya mobil listrik di jalan. Perubahan paling nyata adalah ketika mencari tempat mengisi daya menjadi semakin mudah, cepat, dan tersedia di lebih banyak perjalanan.
Data hingga Juni 2026 menunjukkan satu hal: dalam urusan konsumsi listrik SPKLU, enam bulan pertama tahun ini sudah mengalahkan capaian selama setahun penuh sebelumnya.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro