Mau Hemat Belanja? Gunakan Rumus Cost Per Use untuk Membandingkan

Chairunnisya • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 17:20 WIB
Ilustrasi belanja bahan pokok (FREEPIK)
Ilustrasi belanja bahan pokok (FREEPIK)

PONTIANAK POST - Saat ingin berhemat, membandingkan harga barang memang menjadi langkah yang umum dilakukan. Namun, harga beli belum tentu menggambarkan seberapa ekonomis sebuah barang selama digunakan.

Financial planner, Ode Kustriani Atmaja menyarankan konsumen mempertimbangkan konsep cost per use atau biaya per penggunaan untuk membantu menentukan pilihan.

Perhitungannya dilakukan dengan membagi harga beli dengan jumlah penggunaan barang selama masa pakainya.

Baca Juga: Jangan Terjebak Harga Murah, Begini Cara Memilih Barang yang Hemat

Cara Menghitung Cost Per Use

Ode memberikan contoh sederhana untuk menggambarkan perhitungan tersebut.

’’Misalnya tas seharga Rp 3 juta dipakai 300 kali, berarti biaya penggunaannya sekitar Rp 10 ribu setiap kali dipakai. Sementara tas seharga Rp 500 ribu yang hanya bertahan 20 kali pemakaian karena cepat rusak memiliki biaya sekitar Rp 25 ribu per penggunaan,’’ paparnya, dikutip dari Jawapos.

Dari perhitungan tersebut, terlihat bahwa harga barang yang lebih mahal belum tentu membuat pengeluaran menjadi lebih besar.

Baca Juga: Tips Belanja Sandal Melissa Saat Flash Sale Rp 12 Ribu di Momen 12.12 Blibli

Barang dengan harga lebih tinggi bisa menjadi lebih ekonomis apabila memiliki umur pakai panjang dan memberikan manfaat lebih besar.

Sebaliknya, barang murah yang cepat rusak dapat membuat konsumen mengeluarkan uang lebih banyak karena harus sering membeli pengganti.

Barang Mahal Belum Tentu Boros

Konsep cost per use membuat konsumen tidak berhenti pada pertanyaan mengenai berapa harga sebuah barang. Pertimbangan bergeser pada seberapa lama dan seberapa sering barang tersebut memberikan manfaat.

Baca Juga: Tips Mengelola Keuangan Pasangan, Dana untuk Orang Tua Sebaiknya Punya Pos Khusus

Dengan cara tersebut, barang yang mahal pada saat pembelian belum tentu menjadi pilihan yang boros. Jika dapat digunakan berkali-kali dalam jangka panjang, biaya setiap penggunaannya justru dapat lebih rendah.

Sebaliknya, barang murah dengan masa penggunaan pendek bisa menghasilkan biaya penggunaan yang lebih tinggi.

Kapan Barang Murah Lebih Tepat?

Meski demikian, bukan berarti barang murah tanpa merek selalu menjadi pilihan yang buruk. Menurut Ode, barang baru tanpa merek lebih tepat dipilih untuk kebutuhan sementara, barang yang jarang digunakan, atau produk yang cepat berganti mengikuti tren.

Baca Juga: Ramalan Shio 5 Agustus 2026: Masalah Mulai Teratasi, Keuangan hingga Asmara 4 Shio Ini Membaik

’’Barang murah tanpa merek bisa menjadi pilihan ketika kebutuhan tidak menuntut kualitas dan daya tahan tinggi,’’ ujarnya.

Karena itu, konsumen perlu menyesuaikan pilihan dengan kebutuhan.

Barang yang digunakan setiap hari dan diharapkan bertahan lama dapat dinilai dengan mempertimbangkan biaya penggunaannya, sementara barang untuk kebutuhan sementara tidak selalu membutuhkan kualitas dan daya tahan tinggi.

Baca Juga: Literasi Keuangan Kalbar Lampaui Rata-Rata Nasional, Gubernur Dorong Perluasan Akses Pembiayaan UMKM

Pada akhirnya, cost per use dapat membantu konsumen melihat nilai sebuah barang secara lebih menyeluruh, bukan hanya dari harga yang harus dibayar di awal. (*) 

Editor : Chairunnisya
cost per use biaya penggunaan barang hemat keuangan pribadi tips belanja