IHSG Punya Modal Menguat Pekan Ini, Tapi Investor Dibayangi Tekanan Global

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 00:23 WIB
Ilustrasi - Pengunjung mengambil gambar layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (ANTARA FOTO/FAUZAN)
Ilustrasi - Pengunjung mengambil gambar layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. (ANTARA FOTO/FAUZAN)

 

PONTIANAK POST – Pasar saham Indonesia memasuki pekan perdagangan baru dengan modal positif. Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat hampir 2 persen dalam perdagangan pekan lalu.

Namun, peluang penguatan tersebut masih dibayangi sejumlah risiko global. Investor perlu mencermati pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), harga minyak dunia, serta arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.

Pada perdagangan 18–21 Agustus 2026, rata-rata volume transaksi harian di BEI mencapai 50,30 miliar saham, naik 47,9 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di level 34,01 miliar saham.

Pada periode yang sama, IHSG menguat 1,93 persen, dari 6.401,888 menjadi 6.525,690.

Penguatan tersebut menunjukkan kembali meningkatnya aktivitas investor di pasar saham domestik. Bahkan, pada perdagangan terakhir pekan lalu, investor asing mencatat net buy Rp974,58 miliar.

Meski demikian, arus dana asing secara kumulatif sepanjang 2026 masih mencatat net sell Rp70,64 triliun. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang masih perlu diperhatikan investor.

Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan pada pekan ini. Berdasarkan analisisnya, IHSG berpeluang bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan menguat.

“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.500 sampai level 6.373 dan resistance di level 6.551 sampai level 6.705,” ujar Hans.

Transaksi Saham Makin Ramai

Kenaikan volume transaksi menjadi salah satu sinyal menarik dari perdagangan pekan lalu. Aktivitas investor meningkat bersamaan dengan penguatan IHSG.

Pada perdagangan Jumat (21/8), lima saham dengan nilai transaksi terbesar adalah BUMI, BBRI, TPIA, BBCA, dan DSSA.

Nilai transaksi BUMI mencapai sekitar Rp1,23 triliun, disusul BBRI sekitar Rp1,13 triliun. TPIA mencatat sekitar Rp666,93 miliar, BBCA Rp648,87 miliar, dan DSSA sekitar Rp641,03 miliar.

Meningkatnya transaksi menunjukkan minat investor terhadap sejumlah saham kembali menguat. Namun, tingginya aktivitas perdagangan belum otomatis berarti tren kenaikan IHSG akan berlangsung tanpa koreksi.

Risiko dari Pasar Global

Tekanan utama masih berasal dari pasar global. Kenaikan yield US Treasury berpotensi meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mengurangi daya tarik aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.

Pergerakan harga minyak dunia juga menjadi perhatian. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter global.

Investor juga menunggu sinyal mengenai arah kebijakan The Fed, terutama terkait peluang perubahan suku bunga pada periode mendatang.

Di sisi lain, sentimen domestik relatif lebih mendukung. Penyampaian rancangan anggaran pemerintah 2027 memberikan gambaran mengenai arah kebijakan fiskal dan target pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Likuiditas perekonomian yang masih tumbuh serta penyaluran kredit yang tetap tinggi juga menjadi faktor yang berpotensi menopang aktivitas ekonomi dan pasar saham domestik.

Dengan kombinasi tersebut, pekan ini menjadi ujian bagi IHSG untuk membuktikan apakah penguatan pekan lalu merupakan awal tren baru atau sekadar penguatan sementara.

Investor juga perlu mencermati level 6.500 sebagai area support, sementara rentang 6.551–6.705 menjadi area resistance yang perlu ditembus jika IHSG ingin melanjutkan kenaikannya.

Di tengah meningkatnya transaksi dan mulai munculnya kembali pembelian asing, pasar saham Indonesia memiliki ruang untuk bergerak lebih tinggi. Namun, tekanan dari luar negeri membuat investor tetap perlu menjaga kewaspadaan dan tidak mengabaikan risiko koreksi. (mim/dio)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
investor asing IHSG pekan ini Prediksi IHSG US Treasury bei