PONTIANAK POST – Pasar saham Indonesia masih memiliki alasan untuk optimistis meski tekanan dari Amerika Serikat (AS) kembali meningkat. Terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu sentimen positif yang diharapkan menjaga kepercayaan investor terhadap arah kebijakan moneter domestik.
Sentimen tersebut hadir ketika investor global kembali mewaspadai kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada September meningkat menjadi 58 persen, dari sebelumnya 36 persen.
Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai tekanan eksternal tersebut tetap perlu diperhatikan. Namun, kondisi domestik memberikan alasan bagi pasar untuk tidak terlalu pesimistis.
Destry Jadi Penopang Kepercayaan Pasar
Terpilihnya Destry Damayanti sebagai Gubernur BI dinilai menjadi kabar positif bagi dunia usaha dan pasar keuangan.
Investor berharap Destry mampu menjaga kerangka kebijakan moneter yang jelas, kredibel, dapat diprediksi, dan berorientasi ke depan.
"Penting bagi BI menjaga independensi dalam menjalankan mandatnya," ujar Hans.
Bagi pasar, kepastian arah kebijakan menjadi penting karena dapat membantu investor memperkirakan kondisi likuiditas, suku bunga, nilai tukar, dan prospek perekonomian nasional.
Karena itu, figur gubernur bank sentral menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar ketika menentukan strategi investasi.
Tekanan The Fed Belum Hilang
Optimisme dari dalam negeri tetap berhadapan dengan risiko global.
Pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium ekonomi Federal Reserve Bank of Kansas City di Jackson Hole, Wyoming, meningkatkan kekhawatiran investor terhadap arah suku bunga AS.
Dalam pidatonya pada Jumat (28/8) waktu setempat, Warsh menegaskan The Fed masih memiliki pekerjaan rumah apabila inflasi AS bertahan di atas target.
"Bank sentral harus memastikan inflasi bergerak menuju target 2 persen secara jelas dan dalam kecepatan yang memadai," tuturnya.
Hans mengatakan pernyataan tersebut mendorong pasar meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS.
"Ini tentu meningkatkan prospek kenaikan suku bunga. Pelaku pasar sekarang melihat peluang 58 persen untuk kenaikan suku bunga AS pada bulan September, dibandingkan dengan 36 persen sebelum komentar Warsh, dan peluang 89 persen untuk kenaikan pada bulan Desember," paparnya.
Inflasi AS juga masih menjadi perhatian. Data pemerintah AS menunjukkan inflasi berdasarkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) mencapai 3,7 persen pada Juli 2026.
IHSG Masih Berpeluang Menguat
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Hans memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih memiliki ruang untuk bergerak konsolidasi menguat.
"IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.450 sampai level 6.376 dan resistance di level 6.566 sampai 6.600," ujar Hans.
Proyeksi tersebut memberikan gambaran bahwa pelemahan IHSG sepanjang pekan lalu belum serta-merta mengubah prospek pasar menjadi negatif.
Investor masih memiliki sejumlah indikator domestik yang akan menjadi perhatian pada pekan depan.
Inflasi dan Neraca Dagang Jadi Penentu
Data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia akan menjadi perhatian investor dalam negeri.
Dari eksternal, data ketenagakerjaan AS juga akan menjadi indikator penting untuk membaca kemungkinan arah kebijakan The Fed pada September.
Pergerakan data tersebut akan menentukan seberapa kuat tekanan dari pasar global terhadap aset domestik.
IHSG Melemah Tipis
Sementara itu, kinerja perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 24–28 Agustus 2026 memang berakhir di zona negatif.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengatakan kapitalisasi pasar BEI turun 0,16 persen menjadi Rp11.431 triliun, dari Rp11.449 triliun pada pekan sebelumnya.
IHSG juga melemah tipis 0,12 persen dan ditutup di level 6.518,121, dari posisi 6.525,690 pada akhir pekan sebelumnya.
Rata-rata nilai transaksi harian turun 1,84 persen menjadi Rp15,29 triliun, dari Rp15,57 triliun pada pekan sebelumnya.
Meski demikian, pelemahan tersebut relatif terbatas. Pasar masih bergerak dalam rentang yang menunjukkan investor belum sepenuhnya meninggalkan aset saham domestik.
Saham Bank Masih Ramai Diperdagangkan
Aktivitas perdagangan pada Jumat (28/8) juga menunjukkan sejumlah saham berkapitalisasi besar tetap menjadi perhatian investor.
Lima saham dengan nilai transaksi terbesar adalah DSSA, BBCA, TPIA, BUMI, dan BMRI.
| Saham | Nilai Transaksi |
|---|---|
| DSSA | Rp1,706 triliun |
| BBCA | Rp1,014 triliun |
| TPIA | Rp703,93 miliar |
| BUMI | Rp558,75 miliar |
| BMRI | Rp472,80 miliar |
Sumber: BEI
Aktivitas tersebut menunjukkan likuiditas pasar tetap terjaga meski investor menghadapi ketidakpastian global.
Pasar Punya Alasan untuk Tetap Optimistis
Tekanan dari The Fed menjadi tantangan yang tidak dapat diabaikan. Namun, pasar saham Indonesia memiliki penyangga dari sisi domestik.
Terpilihnya Destry Damayanti memberikan tambahan kepastian terhadap keberlanjutan kebijakan Bank Indonesia. Di saat yang sama, proyeksi IHSG yang masih berpeluang konsolidasi menguat menunjukkan sentimen investor belum berubah menjadi sepenuhnya negatif.
Pekan depan akan menjadi ujian berikutnya. Data inflasi, neraca perdagangan, dan ketenagakerjaan AS akan menentukan apakah optimisme tersebut semakin kuat atau kembali menghadapi tekanan.
Untuk sementara, pasar masih memiliki alasan untuk berharap IHSG melanjutkan penguatan.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro