
PONTIANAK POST – Menjaga stabilitas rupiah, mempercepat penyaluran kredit ke sektor riil, dan menopang pertumbuhan ekonomi menjadi agenda utama Destry Damayanti jika mendapat mandat memimpin Bank Indonesia (BI). Strategi tersebut disampaikan dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) calon Gubernur BI di hadapan Komisi XI DPR, Rabu (26/8).
Destry menilai tantangan ekonomi Indonesia semakin kompleks. Tekanan tidak lagi hanya berasal dari siklus ekonomi, tetapi juga perubahan struktural akibat fragmentasi geopolitik, volatilitas pasar keuangan, dan percepatan digitalisasi.
“Tantangan ekonomi saat ini semakin kompleks. Bukan lagi sekadar persoalan siklus ekonomi, melainkan juga perubahan struktural akibat fragmentasi geopolitik, volatilitas pasar keuangan, serta pesatnya digitalisasi,” paparnya.
Fondasi Ekonomi Masih Kuat
Di tengah tekanan global, Destry menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 tercatat 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Sementara itu, inflasi Juli 2026 berada di level 2,88 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Namun, capaian tersebut tidak boleh membuat kebijakan ekonomi kehilangan fokus. Menurut Destry, tantangan berikutnya adalah memastikan pembiayaan mengalir lebih deras ke sektor produktif.
Rp2.548 Triliun Kredit Belum Tersalurkan
Salah satu persoalan yang disoroti Destry adalah masih tingginya nilai kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan.
Nilainya mencapai sekitar Rp2.548 triliun, atau 21,8 persen dari total plafon kredit. Menurut Destry, ruang pembiayaan tersebut perlu didorong agar masuk ke sektor riil.
“Menjaga stabilitas saja tidak cukup. Bank Indonesia juga perlu terus memperkuat bauran kebijakan agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya.


